
"Assalamu'alaikum Oma." ucap Salman sambil mengetuk pintu rumah.
"Wa'alaikumussalam." teriak Oma Rohmah. Ia yang tengah asyik menonton siaran televisi, segera beranjak dari duduknya, membukakan pintu untuk cucu nya.
"Ini untuk Oma."
Salman mengangkat plastik makanan dihadapan oma, setelah mencium punggung tangannya. Bau khas martabak itu seketika menusuk indera penciuman. Sehingga membuat perut yang tadinya kenyang, kembali keroncongan.
"Pasti papa mu yang menyuruh." celetuk Oma sambil berlalu masuk ke dalam, dan beriringan dengan cucunya.
"Papa kan sayang sekali dengan oma. Pasti lah akan melakukan apapun untuk membuat Oma senang. Yah, walaupun cuma menyuruh untuk beli martabak sih." Salman terkekeh di ujung kalimatnya.
"Oma makan dulu ya, Salman mau membantu karyawan menutup counternya."
Oma Sekar menghembuskan nafas, lalu menarik senyum dan mengangguk pada cucunya. Setelah itu, Salman pun kembali ke luar menuju counter.
Saat Salman memasuki counter, terlihat ada yang mendorong pintu rolling door, ada yang mengecek transaksi dan ada yang menghitung uang.
__ADS_1
Salman pun mendekat ke arah mereka untuk membantu. 10 menit berlalu, akhirnya semua selesai. Para karyawan pulang, dan Salman masuk ke rumah.
Setelah mencuci tangan, Salman duduk di samping omanya sembari meletakkan dua gelas kopi hangat.
"Dulu papamu, sekarang kamu." ucap Oma.
"Buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya Oma. Pasti opa dulu juga begitu, begitu mencintai kopi dari pada Oma. Eh," Salman menutup mulutnya sambil meringis. Oma pun hanya bisa geleng-geleng kepala.
Keluarga Oma Rohmah memang pecinta kopi sejak dulu. Dan ternyata hal itu menurun juga pada diri Salman. Tiada hari tanpa kopi.
Pemuda itu menyeruput sedikit kopinya, lalu membuka box makanan.
Sambil makan keduanya bercakap-cakap. Meskipun hanya berdua, mereka terlihat asyik mengobrol sambil mencomot satu persatu martabak. Hingga tersisa 2 potong.
"Dih, pasti Oma kelaparan nih? Mau dibeliin martabak lagi?"
"Kalau ada kamu disini, nafsu makan Oma jadi bertambah. Sebulan kamu disini, pasti Oma akan bertambah gendut." Salman terkekeh mendengar candaan omanya.
__ADS_1
"Eh ini kenyataan lho Sal. Coba kamu bicara sama kedua orang tua mu. Kamu ijin tidur di sini sebulan."
"Baiklah Oma, Salman akan turuti apa kata Oma. Tapi kalau berat badan Oma tetap tak bertambah, Oma harus ikut Salman pulang ke rumah opa Atmaja. Okay?"
"Keputusan hakim sudah bulat. Tidak bisa di ganggu gugat. Sekian terima kasih." imbuhnya lagi. Membuat Oma terkekeh melihat sisi lain dari Salman yang dianggapnya cerewet.
"Istri mu nanti pasti akan geleng-geleng kepala melihat kecerewetan mu."
Salman yang sedang minum seketika tersedak, hingga air di mulutnya menyembur keluar. Segera ia mengambil air minum di kulkas, karena minumannya sudah habis.
"Kenapa kamu sampai tersedak seperti itu Salman? Apa ucapan oma tadi menyinggung mu? Apa kamu sudah memiliki calon lagi?"
Tentu saja ucapan oma menyinggung perasaan Salman. Tapi untuk sekedar menganggukkan kepalanya ia merasa malu.
Dan entah kenapa seketika pikirannya tertuju pada Wulan. Gadis yang mengaku-ngaku mencintai dirinya.
'Pergi kemana dia?' batin Salman bertanya-tanya.
__ADS_1
"Syukurlah kalau kamu sudah bisa move on dari Aisyah. Meskipun dia gadis yang baik, tapi Oma yakin, kalau calon mu jauh lebih baik lagi. Karena kamu juga baik."
"Aamiin Oma." hanya itu kata yang keluar dari mulut Salman sembari pikirannya tertuju pada Wulan.