Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
213. Kejutan


__ADS_3

Wulan sejenak memandang bayi kemerahan yang menangis dalam timangannya. Lalu ia mencoba mendekatkan kantung asi ke mulut bayinya.


Tampak bayi itu terus bergerak, hingga akhirnya si kecil berhasil mendapatkan apa yang ia mau.


Walau awalnya sedikit kesusahan, perlahan si kecil mulai menyedot asupan gizi dari ibunya.


Wulan merasakan sesuatu yang aneh, bercampur geli juga sedikit rasa sakit. Hingga membuatnya meringis menahan rasa, saat bayinya menghisap kantung asi miliknya.


"Hal seperti itu memang sudah umum terjadi, sayang. Kamu pasti bisa menahannya. Dulu mama juga seperti itu kok. Yang penting kerjakan segala sesuatunya dengan senang dan ikhlas. In shaa Allah semua akan terasa ringan untuk dikerjakan." nasehat mama Laura.


"Iya, ma." Wulan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ke arah mama mertuanya.


**


Kedua orang tua Salman dan Wulan setia menemani putra-putrinya di rumah sakit. Ruangan itu terbilang sangat luas. Karena dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang sangat lengkap.


Hubungan mereka bukan terlihat seperti besan, tapi sudah seperti saudara sendiri. Mereka saling bertukar cerita, dan bercanda tawa.


Mereka saling mempersilahkan untuk beristirahat. Karena tidak mungkin untuk istirahat secara bersamaan. Harus ada yang terjaga. Jika sewaktu-waktu anak dan cucu mereka butuh pertolongan.


Mereka sudah mengabarkan kabar gembira itu pada orang tua masing-masing. Karena malam, opa Atmaja dan Oma Ani tidak ikut menjenguk. Keduanya berjanji akan ke rumah sakit pada keesokan harinya.


Grandma dan grandpa yang tak sabar ingin melihat cicitnya, akhirnya melakukan panggilan video call. Mereka begitu berbinar ketika melihat gadis kecil milik Salman dan Wulan.


**


Keesokan harinya, opa Atmaja dan Oma Ani datang ke rumah sakit. Mereka tak sabar ingin melihat buyutnya yang berjenis kelamin perempuan.

__ADS_1


Ketika keduanya memasuki ruangan, anak dan besan anaknya menyambutnya dengan ramah. Keduanya mengucapkan selamat, pada Salman dan istrinya. Lalu beralih pada bayi mungil yang tampak tertidur pulas dalam keranjang ayun bayi.


Keduanya begitu berbinar wajahnya, karena masih diberi kesempatan untuk melihat dan merasakan punya buyut.


"Gendong saja, Oma. Tidak apa-apa. Nanti kalau menangis, biar mas Salman yang menenangkan nya." ucap Wulan disertai kekehan kecil. Matanya melirik suaminya yang tampak mengantuk. Karena tidak bisa tidur.


"Oh, tentu saja. Oma sangat suka menggoda dan merawat bayi." balas Oma Ani, tangannya terulur mengambil bayi itu dari box.


Oma Ani dan opa Atmaja berceloteh dengan bayi yang masih tertidur pulas dalam gendongan, Oma Ani. Sehingga suara hiburannya justru membuat bayi itu terbangun.


Saat bayi itu menangis, seisi ruangan itu sibuk untuk menenangkannya. Wulan hanya menyunggingkan senyum, melihat keriwehan anggota keluarganya.


**


Kini, sudah tiga hari Wulan di rawat di rumah sakit. Keadaannya sudah membaik. Dan pada hari itu, ia sudah diijinkan pulang.


Jadi benar-benar harus dijaga kesehatan mentalnya. Karena ibu adalah jantung keluarga. Jika ibunya sehat mentalnya, anaknya pun juga.


Anggota keluarga Salman tidak bisa turut mengantar kepulangan anak dan juga cucu nya. Karena papa Reyhan harus mengurus showroom nya.


Tapi mereka berjanji, akan sering menengok anak sekaligus cucunya. Karena bagaimana pun juga mereka juga selalu berharap adanya penambahan jumlah anggota keluarga. Sehingga akan semakin meramaikan suasana.


Mereka berpisah di tempat parkir. Setelah sebelumnya papa dan mama banyak memberi nasehat pada Salman. Untuk senantiasa menjaga anak dan istrinya dengan baik.


Salman tersenyum lebar sambil menganggukkan kepalanya, menerima nasehat dari kedua orang tuanya.


**

__ADS_1


Di dalam mobil, Salman memangku bayinya, dan duduk di samping istrinya. Terlihat Wulan juga tengah duduk dengan meluruskan kakinya, agar tidak bengkak.


Mommy terkadang menoleh ke belakang, untuk memastikan keadaan anak dan cucunya baik-baik saja.


**


Sesampainya di rumah, Daddy mengeluarkan kursi roda untuk dinaiki Wulan. Ia merasa kasian dengan anaknya, jika harus berjalan menuju ke kamarnya. Karena letak kamarnya berada di lantai atas. Di tambah lagi, kediamannya mereka yang sangat luas.


Dengan hati-hati Daddy dan Salman membantu Wulan menaiki kursi rodanya. Setelah itu, Wulan meminta bayi kecilnya diletakkan dipangkuannya.


Kini mereka berjalan bersama memasuki ruang tamu. Namun, mereka menghentikan langkahnya, ketika mendengar suara deru mobil yang memasuki pelataran rumahnya.


Mereka pun menoleh bersamaan. Dan mengernyitkan dahi ketika melihat mobil taksi mulai mendekat ke arah teras.


"Grandpa. Grandma." ucap mereka bersamaan, ketika tahu siapa yang baru saja turun dari mobil taksi.


Pasangan sepuh itu menatap anak dan cucunya sambil menyunggingkan senyum.


Salman segera menghampiri mereka, untuk bersalaman dulu dengan keduanya.


"Selamat ya, Sal. Grandpa bangga sekali denganmu." ucap grandpa, saat keduanya berpelukan dan berjabat tangan.


"Terima kasih, grandpa. Terima kasih, grandma


Ini semua juga berkat doa kalian. Ayo masuk."


Salman merangkul bahu grandpa nya dengan sebelah tangannya untuk mempersilahkan. Lalu ia membawakan koper keduanya, tanpa di minta.

__ADS_1


__ADS_2