Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
212. Menyusui


__ADS_3

Salman mengangkat tubuh Wulan menuju teras rumah sakit. Beberapa perawat yang kebetulan melintas, segera membantunya dengan mengambil brankar dorong.


Dengan hati-hati, Salman merebahkan tubuh istrinya di brankar itu. Mereka pun segera mendorongnya menuju ruang tindakan.


Seorang perawat mendorong Salman, ketika laki-laki itu berniat menemani istrinya, yang masuk ke ruang persalinan.


"Maaf, pak. Silahkan tunggu di luar ya. Agar kami bisa melakukan pekerjaan kami dengan baik."


Salman menyugar rambutnya, lalu mengusap wajahnya. Ia benar-benar takut jika terjadi apa-apa dengan istri dan bayinya. Apalagi saat tadi Wulan bilang, jika ada daraah dan lendiir yang bercampur.


Ia terus mondar mandir di depan pintu kamar bersalin itu. Mulutnya komat-kamit merapalkan doa, untuk keduanya.


**


Sedangkan di dalam ruangan, Wulan tengah dikelilingi oleh beberapa orang perawat dan seorang dokter.


Dokter melakukan pengecekan. Dan memang benar, bahwa pasiennya itu akan segera melahirkan. Karena sudah pembukaan sembilan.


Dokter memerintahkan perawatnya untuk menyiapkan semua peralatan yang diperlukan. Dengan sigap, para perawat itupun melaksanakan perintah dokter.


Dokter memberi instruksi pada Wulan. Untuk menyuruhnya menarik nafas dalam-dalam, lalu mulai mengejan. Saat mengejan, Wulan harus melihat ke arah bawah perut.


Dan, dokter pun mulai memberi aba-aba. Wulan mulai mengikuti apa saran dokter, walaupun rasa sakitnya semakin bertambah.


**


"Mama, papa." pekik Salman, sambil menjentikkan jari tangannya, setelah capek mondar-mandir.

__ADS_1


Ia mengambil handphone dalam saku celananya, lalu duduk dan mulai menelpon orang tua dan mertuanya.


Sudah bisa dibayangkan, bahwa kedua orang tua itu akan terkejut mendengar apa yang disampaikan oleh Salman.


Belum selesai, ia menelpon. Sudah terdengar suara tangisan bayi yang menggema dan begitu memekakkan telinga.


Salman membulatkan matanya, dan bibirnya menganga lebar. Handphone yang ada dalam genggamannya, bahkan sampai terjatuh.


"Anakku." gumamnya.


Matanya mulai berkaca-kaca. Ia merapatkan tubuhnya di balik pintu. Agar bisa mendengar jelas suara tangisan bayinya.


**


Di dalam ruangan, Wulan seketika tersenyum lega. Akhirnya rasa sakit yang ia rasakan tadi terbayar lunas dengan suara tangisan bayinya.


Meskipun Wulan tengah dijahit pada bagian bawahnya, ia tidak menghiraukan rasa sakitnya. Karena ia merasa memiliki hiburan baru. Yakni baby girl nya.


Bayi itu memiliki rambut yang hitam legam seperti Salman. Kulit putih bersih seperti Salman dan Wulan. Hidungnya sangat mancung. Dan bola mata yang biru, khas orang luar negeri. Benar-benar suatu perpaduan yang sempurna.


"Maaf, nyonya. Bayinya kami bersihkan dulu ya." perawat itu meminta bayinya Wulan. Lalu meletakkan di sebuah meja dekat dengan Wulan dengan penuh hati-hati.


Perawat membersihkan sisa daraah yang ada di tubuh bayi itu. Lalu memberikannya sebuah baju. Dan yang terakhir, ia membungkusnya dengan kain bedong.


Kini Wulan telah selesai di jahit. Bayinya juga telah di bedong. Keduanya berada di tempat yang berdekatan.


Setelah merapikan semua peralatan, pasangan ibu dan bayi itu segera dibawa menuju ke ruang perawatan.

__ADS_1


Saat pintu ruangan terbuka, Salman sedikit terkejut. Ia melihat bayinya dalam pelukan istrinya. Dan keduanya di dorong oleh perawat.


"Maaf ya, pak. Kami harus segera membawanya ke ruang perawatan. Di sana nanti bapak bisa mengadzani nya." ucap perawat, yang sepertinya tahu, dengan apa yang akan Salman tanya kan.


Laki-laki itu mengangguk, lalu mengikuti kemana istrinya akan dibawa.


Setelah sampai di ruang perawatan, Salman menggendong dan mengadzani gadis kecilnya. Saking terharunya, ia sampai meneteskan air mata. Yang menjatuhi pipi bayi yang bersemu merah itu.


Wulan ikut terharu melihat pemandangan yang menyejukkan di depan matanya. Hingga ia pun juga menitikkan air mata bahagianya.


"Wulan, Salman." ucap seseorang yang sangat dikenali keduanya. Siapa lagi kalau bukan kedua orang mereka.


Wajah mereka mengurai senyuman yang lebar. Terlihat bahagia melihat anak mereka tengah menggendong bayi mungil.


Mereka saling berjabat tangan, dan berpelukan sambil mengucapkan 'selamat' pada pasangan orang tua baru itu.


Mereka berebut ingin menggendong bayi mungil yang sungguh cantik seperti mamanya. Hingga akhirnya, si bayi justru menangis. Tak ada yang bisa menghentikan tangisnya, selain di dekatkan pada Wulan.


"Sepertinya dia kehausan, sayang. Coba kamu susui dia dulu." ucap mama Laura.


"Su-susui?" ulang Wulan.


"Iya. Biar mommy bantu." imbuh mommy Melati.


Ia meninggikan brankar anaknya, agar bisa bersandar. Sebelumnya mama Laura mengambil bayi itu. Lalu mommy membuka kancing baju Wulan. Ia mengajari anaknya cara menyusui. Setelahnya, mama Laura memberikan bayi pada Wulan.


Wulan merasa canggung, ketika ia menyusui dihadapan banyak orang. Papa Reyhan yang mengetahui hal itu, segera menarik tangan besan laki-laki agar menjauh sementara waktu.

__ADS_1


__ADS_2