Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
73. Curhat pagi


__ADS_3

Pagi hari seperti biasa Wulan terbangun karena silau matahari. Ia menggeliat manja sambil mengumpulkan jiwanya.


Setelahnya barulah ia mengecek jam yang ada di layar handphonenya. Matanya membulat, sembari mengingat apa yang ia lakukan semalam.


"Kenapa dengan mendengarkan bacaan ini aku bisa tidur dengan nyaman dan nyenyak?" gumamnya ketika melihat layar handphonenya masih menunjukkan gambar video terakhir yang ia putar semalam.


Kepalanya terasa pusing, karena baru bangun sudah harus memikirkan hal yang sulit di tebak. Akhirnya ia pun segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Guyuran air yang dingin menyejukkan tubuh dan pikirannya. Sehingga ia betah berlama-lama di kamar mandi.


Namun seketika itu juga ia teringat, bahwa adab di kamar mandi tidak boleh berlama-lama. Karena kamar mandi menjadi tempat berkumpulnya jin dan setan.


Apalagi ketika seorang manusia tidak berdoa sebelum melepas pakaiannya, maka jelas makhluk gaib itu akan merasa senang bisa melihatnya.

__ADS_1


Berbeda dengan ketika manusia berdoa sebelum melepas pakaiannya, maka makhluk gaib itu tidak bisa melihat, karena sudah ada hijab antara keduanya.


"Astaga, kenapa aku terus menerus teringat akan apa yang pernah aku baca di buku itu?" gumam Wulan.


Terlepas benar atau tidaknya, yang jelas ia segera menarik handuk dan membalut tubuhnya, lalu keluar kamar mandi.


Ia segera memilih pakaian yang layak untuk di pakai ke kantor. Seperti hari kemarin, ia mengenakan setelan baju kerja. Blazer dan rok selutut dengan warna senada hitam. Dalamnya ia memakai kemeja warna biru muda. Polesan make up natural dan rambut hitam panjang tergerai menjadi ciri khasnya.


Setelahnya, ia keluar kamar dan tentu saja menuju dapur, di mana grandma nya pasti berada di sana.


"Cucu ku yang paling cantik." balas grandma sambil menoleh pada Wulan. Ia pun juga menyunggingkan senyum sambil menatap wajah Wulan yang terlihat bersinar dan ceria.


"Kamu terlihat ceria sekali, wajah mu juga terlihat bersinar. Apa ada sesuatu yang membuat mu bahagia?" tebak grandma. Tapi membuat gadis itu terkekeh.

__ADS_1


"Setiap hari kita harus bahagia grandma. Harus bersyukur. Agar Allah senantiasa menambah kebahagiaan dan nikmat pada kita." cetus Wulan.


Senyum grandma seketika memudar, mendengar Wulan berbicara seperti itu lagi.


"Wulan, seberapa jauh kamu memahami ajaran itu?" celetuk grandma yang membuat Wulan seketika menutup mulutnya sambil membulatkan matanya.


'Oh mulut, jangan asal bicara seperti itu. Aku mohon.' rutuk Wulan dalam hati.


"Wulan, kenapa kamu diam saja?" tanya grandma sehingga membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.


"Entahlah grandma. Wulan sendiri juga kurang tahu jika di suruh berpikir. Yang jelas semua itu di luar kendali ku. Jika ada sesuatu hal yang mungkin berkaitan, maka otak ku ini akan langsung merespon. Tapi anehnya, Wulan tak mampu menyerap apa yang ada dalam kita suci kita. Semalam aku sampai menghabiskan waktu untuk membaca sekaligus memahami isinya. Tapi Wulan tak mendapatkan apapun juga. Setelahnya aku kembali memutar video itu dan akhirnya tak lama kemudian, aku tertidur. Apa ada yang salah dengan ku grandma?"


Grandma tahu Wulan itu anak yang sangat cerdas. Sehingga mudah baginya untuk menghafal apapun itu.

__ADS_1


Tapi ia juga heran, kenapa kitab sucinya sendiri justru dia tidak hafal? Ah, jangan kan Wulan. Grandma dan grandpa saja yang sudah berusia senja saja juga tidak hafal.


Keduanya saling terdiam, dan suara grandpa mengejutkan keduanya.


__ADS_2