Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
148. Kemana Fatim


__ADS_3

Saat makan papa Adam menceritakan kejadian yang menyebabkan Leon terbaring lemah, pada kedua orang tuanya.


Ia juga memperlihatkan bukti rekaman cctv yang di ambil dari rumahnya, lalu mengirimnya lewat handphone.


Siapa tahu rekaman itu diperlukan, jika sewaktu-waktu keluarga Leon ingin membawa hal itu ke meja hijau.


Mama Margaretha sampai membekap mulutnya dan matanya berkaca-kaca, melihat detik-detik anaknya mengalami hal naas itu.


Di sisi lain, keluarga Leon begitu bersyukur dan terus mengucapkan rasa terima kasihnya, karena keluarga Fatim telah banyak menolong putra satu-satunya.


Setelah mereka selesai sarapan pagi bersama. Terdengar suara Leon yang memanggil nama Fatim. Mereka saling beradu pandang, lalu mendekati pemuda bule yang masih terbaring lemah.


"Leon, ini mama nak?" Mama Margaretha mengusap lembut kepala anaknya. Begitu pula dengan Marco yang menggenggam tangan Leon.


Mereka menatap lekat Leon yang masih menyebut nama Fatim, sementara matanya masih terpejam. Akhirnya mama Margareth meminta Fatim untuk lebih mendekat.


"Hai, aku disini kak Leon." ucap Fatim lirih.


Dan perlahan mata Leon mulai mengerjap ketika samar mendengar suara gadis yang pernah di panggilnya hantu itu.


Semua tersenyum hanya dengan melihat sedikit perubahan yang Leon tunjukkan.


"Fatim." gumam Leon lirih.


"Iya kak, aku disini." imbuh Fatim lagi.


Ingin sekali Leon bicara panjang lebar. Kenapa semua berkumpul dan mengelilinginya. Ia juga ingin bertanya apa yang sudah terjadi dengannya, karena badan dan kepalanya terasa tak karuan. Tapi suaranya bagai tercekat di kerongkongan.


Akhirnya Leon menyunggingkan tipis pada semua orang yang tengah berkumpul itu. Mereka pun kembali mengukir senyum di wajah ketika melihat Leon bisa tersenyum.

__ADS_1


Mata Leon kembali meredup. Melihat hal itu mereka mulai khawatir. Papa Adam segera memeriksa keadaan Leon. Ia coba membuka kelopak matanya sambil menyorot dengan senter. Lalu memeriksa detak jantungnya.


"Jangan khawatir, dia hanya kembali tidur. Mungkin pengaruh obat biusnya terlalu kuat. Sehingga masih sulit untuk membuka mata. Menurut saya keadaannya cukup baik pasca operasi. Karena ia masih bisa mengingat kita." jelas papa Adam.


"Syukurlah puji Tuhan." ucap kedua orang tua Leon.


Mendengar hal itu, membuat keluarga Fatim agak terkejut. Mereka pikir keluarga Leon juga adalah seorang mualaf, seperti halnya keluarga Wulan.


Meskipun begitu, tidak menjadi masalah. Karena berteman itu bisa dengan siapa saja.


"Kalau begitu, kami pamit dulu ya pak, Bu. Karena masih ada beberapa pekerjaan yang menanti. Jika kalian butuh sesuatu, hubungi kami. Atau kalian bisa datang ke ruangan saya." pamit papa Adam.


"Iya, pak. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya." balas Marco.


"Sama-sama." balas papa Adam.


Dengan berat hati Fatim mengekor kedua orang tuanya yang keluar dari ruangan itu. Padahal sebenarnya ia masih ingin menemani Leon.


"Pa, kenapa saat Leon mengigau, ia terus memanggil nama gadis tadi? Apa mungkin dia mulai menyukainya?" celetuk mama saat keluarga Fatim sudah keluar.


"Papa ngga tahu. Tapi bisa saja apa yang mama ucapkan benar. Secara anak itu di luar nalar. Dulu mengejar-ngejar Wulan. Giliran Wulan sudah menikah, eh langsung menyebut-nyebut nama gadis lain."


"Iya, mungkin mirip papa dulu. Terlalu tergila-gila dengan wanita." imbuh mama Margareth.


"Sekarang kan cuma tergila-gila sama mama saja."


Suasana mulai mencair ketika keduanya melempar candaan.


"Oh iya, pa. Kalau Leon beneran menyukai gadis itu gimana? Kita berbeda dengan mereka lho." tampak kekhawatiran di wajah mama Margareth.

__ADS_1


Papa pun menghirup nafas dalam-dalam, lalu membuang pelan. Hal itu terlalu sulit untuk dipikirkan. Apalagi dalam waktu singkat harus mendapatkan jawaban.


"Kita bicarakan nanti saja, ma. Yang penting fokus dengan kesembuhan Leon."


"Tapi ingat ya, pa. Mama tidak mau sampai ada pertengkaran. Seperti yang terjadi dalam keluarga Marquez dulu."


"Jangan memikirkan sesuatu yang mungkin belum terjadi. Yakin saja jika semua akan baik-baik saja."


Setelah sekian jam berlalu, Leon kembali mengigau dan memanggil nama Fatim. Membuat kedua orang tuanya yang duduk berhadapan saling beradu pandang.


"Pa, sepertinya kita harus segera memikirkan jawaban dari pertanyaan mama tadi. Lihat saja apa yang dilakukan oleh anakmu ini." ucap mama Margareth kembali gelisah.


"Apa perlu kita bawa Leon pulang sekarang?" lagi mama memberi pilihan.


"Apa itu tidak akan membahayakan nyawanya, ma. Kita tunggu saja sampai dia sembuh dulu."


"Ma, pa." lirih Leon.


"Ada apa, nak?" tanya kedua orang tuanya bersamaan.


"Kemana Fatim?"


Kedua orang tuanya kembali beradu pandang untuk menyamakan jawabannya.


"Dia, sedang kerja nak." jawab mama Margareth.


"Kenapa dia tidak mau menemani ku." sambil mengerjap pelan, Leon masih terus menanyakan keberadaan gadis itu.


"Jangan bilang seperti itu. Di sini kan ada papa dan mama. Kenapa kamu mencari nya?"

__ADS_1


Leon tidak lagi menjawab, dan menutup matanya. Tampak kesedihan di wajah mama Margareth ketika melihat anaknya seperti itu.


__ADS_2