
"Kalian mau pulang sekarang?" ucap keluarga Leon bersamaan. Wulan dan Salman pun mengangguk.
"Aku kira kalian akan lebih lama di sini. Mengingat kalian itu juga masih berstatus pengantin baru." celoteh Leon.
"Tidak. Disana juga masih ada pekerjaan yang harus aku kerjakan. Lagian dimana pun tempatnya kami juga masih bisa menikmati waktu bersama. Iya kan, sayang?" Salman memeluk bahu Wulan yang berdiri disampingnya. Lalu keduanya saling melempar senyum.
"Iya-iya. Kami percaya itu. Iya kan, sayang." Leon juga ikut-ikutan memeluk Fatim yang berdiri disampingnya.
Setelah sejenak berbincang-bincang, Salman dan Wulan segera pamit undur diri. Karena keduanya masih harus menjemput Natalie dan suaminya.
Saat kembali ke kediaman grandpa, ia telah menyiapkan mobil untuk mengantar mereka menuju bandara. Semua barang-barang Salman dan Wulan, sudah dimasukkan ke mobil oleh grandpa.
"Biar Salman, saja yang menyetir, grandpa."
"Hem, baiklah. Kamu pemuda yang baik." Grandpa menyerahkan kuncinya pada Salman.
Mereka semua telah masuk ke mobil, dan kendaraan roda empat itu mulai melaju meninggalkan pelataran rumah grandma dan grandpa. Menuju ke rumah Natalie.
Meskipun Salman baru dua kali di daerah Amsterdam, ia memiliki daya ingat yang cukup kuat. Sehingga mampu mengingat jalan menuju rumah Natalie, tanpa harus repot-repot membuka google map.
Setelah mereka tiba di kediaman Natalie, Salman segera turun dari mobil untuk memanggil keduanya. Beberapa kali ia menekan bel, dan cukup lama ia berdiri di depan pintu. Tapi tetap tak ada jawaban.
Keluarganya yang berada di dalam mobil, mulai menerka-nerka apa yang terjadi. Wulan pun coba menghubungi nomor telepon sahabatnya itu. Tapi, sudah beberapa kali ia menelpon tetap tak ada jawaban. Salman yang sudah cukup lama berada di depan pintu pun, akhirnya kembali masuk ke mobil.
"Tidak ada jawaban. Kemana perginya mereka?" tanya Salman pada istrinya. Wanita itu pun mengedikkan bahunya.
"Apa mungkin mereka ke rumah grandpa." terka Wulan.
Mereka berempat saling terdiam dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
Lalu seorang pria yang kebetulan rumahnya di samping rumah Natalie keluar untuk membuang sampah.
Salman segera keluar dari mobil, dan mendekati pria itu. Ia bertanya kemana perginya Natalie, dengan menggunakan dialek bahasa setempat.
Salman terkejut ketika mendengar jawaban pria itu. Setelahnya mendapat sejumlah informasi, ia kembali masuk mobil.
"Bagaimana, mas?" baru saja Salman membuka pintu mobil, Wulan sudah memberondong nya dengan pertanyaan."
"Soalnya perasaan ku tidak enak, mas." aku Wulan.
"Suami Wulan, tadi malam masuk rumah sakit. Katanya suhu badannya tinggi sekali."
"Lalu, sekarang mereka ada dimana?"
"Kurang tahu. Mungkin dibawa di rumah sakit sekitar daerah sini."
Jika masih harus mencari mereka berada di rumah sakit mana, tentulah membuat ia ketinggalan pesawat. Tapi jika harus berangkat sekarang ke bandara, hatinya sungguh tidak tenang. Apalagi belum tahu bagaimana perkembangan kondisi suaminya Natalie.
"Jika kamu mengkhawatirkan keadaan temanmu, sebaiknya kita cari ke rumah sakit sekitar sini. Kepulangan kita, bisa ditunda." saran Salman, ketika melihat wajah istrinya yang tertunduk lesu.
"Kamu tidak apa-apa kan, mas?"
"Tentu saja tidak apa-apa."
"Kalau begitu, grandpa saja yang menyetir mobilnya. Biar lebih cepat."
Setelah berkeliling ke setiap rumah sakit, mencari keberadaan Natalie dan suaminya. Akhirnya mereka berhasil menemukannya. Bergegas mereka menuju ke ruangan yang di dapat dari resepsionis.
"Assalamu'alaikum." ucap keluarga Wulan.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam." Natalie yang sedang duduk sambil memijit pelan tangan suaminya, menoleh ke arah pintu yang terbuka.
"Wulan?" gumam Natalie setengah tak percaya.
Wulan tersenyum lalu mendekati sahabatnya itu. Keduanya saling berpelukan.
"Wulan, bagaimana kalian tahu, kami ada disini?"
"Aku tadi habis dari rumahmu. Kata tetangga mu, suamimu sakit dan dibawa ke rumah sakit. Ya sudah, kita putar-putar mencari rumah sakit."
"Astaghfirullah. Kami begitu merepotkan kalian. Maaf banget ya."
"Tidak. Sama sekali tidak merepotkan kami. Toh, sakit itu juga tidak ada yang tahu kapan datangnya. Sakit apa suami mu?"
"Baru di cek, dan belum keluar hasilnya."
"Oh iya. Kamu kenapa tidak segera berangkat ke bandara? Nanti bisa ketinggalan pesawat." Natalie mengingatkan.
"Biarlah, kami bisa pulang nanti. Yang penting bisa melihat keadaan suamimu." ucap Salman yang sejak tadi diam, sambil menatap keadaan suami Natalie dan menyimak pembicaraan istri dan temannya itu.
"Terima kasih atas kebaikan kalian." Natalie memeluk Wulan sambil duduk.
Mereka berbincang sejenak, sampai akhirnya suami Natalie mulai mengerjapkan matanya.
Suami Natalie mengucapkan terima kasih karena keluarga Wulan sudah mau menjenguknya. Rasa persaudaraan dan persahabatan yang terjalin mereka diantara terasa kuat.
❤️❤️
__ADS_1