
Hampir pukul 9, keluarga grandma menikmati sarapan pagi bersama. Wulan tampak lahap menyantap makanan yang terhidang di atas meja.
Lidahnya memang mudah menerima segala jenis masakan. Baik masakan western maupun masakan timur. Grandma yang memasak juga ikut senang melihat sikap cucunya itu.
"Habis makan, Wulan mau bantuin grandpa lagi ya." cicit Wulan disela mulutnya yang tengah mengunyah makanan.
"Hem, kamu memang cucu grandma yang paling keras kepala." grandma sampai geleng-geleng kepala.
Mereka pun kembali menikmati makanan itu. Walaupun tadi saat di pesawat ia sudah sarapan, tetap saja kini ia lapar lagi. Karena telah beraktivitas yang cukup menyita tenaga.
Setelah menyelesaikan sarapan, mereka kembali melanjutkan aktivitas menanam yang sempat tertunda.
Leon yang melihat hal itu, karena memang sengaja mengintip apa yang tengah di lakukan Wulan. Bergegas ia pun menyusul ke belakang rumah grandma Luci.
"Hai, rajin sekali." seru Leon ketika berada di dekat Wulan, sehingga sedikit mengejutkan gadis itu.
"Leon, kau mengejutkan ku saja." sungut Wulan kesal. Laki-laki itu pun terbahak.
__ADS_1
"Kau terlalu serius. Santai lah sedikit, lagian wanita itu tidak perlu bersusah-payah. Ada laki-laki yang kelak akan menghidupi mu." Walaupun ia laki-laki, memang jarang sekali mengerjakan pekerjaan rumah.
"Leon, adakalanya kita serius dan ada kalanya kita bersantai. Aku tidak menganggap ini semua susah payah. Aku hanya membantu grandpa ku menyalurkan hobinya. Daripada aku menghabiskan waktu sepanjang hari untuk tiduran. Dan satu lagi, meskipun kelak ada laki-laki yang menghidupi ku, tapi aku tidak tega jika hanya berdiam diri saja. Aku ingin aku dan suamiku kelak berjuang bersama dalam segala hal." balas Wulan dengan sedikit kesal.
Entah kenapa hatinya tidak menyukai sikap Leon yang terkesan meremehkan orang lain. Padahal pekerjaan orang lain tidak mengganggu hidupnya.
'Apapun pekerjaan nya yang penting halal bukan?' batinnya penuh emosi.
Seketika ia sadar dan membulatkan matanya. Jika penggalan kalimat itu ia dapat dari buku yang pernah ia pinjam dari Salman.
'Kenapa tiba-tiba aku jadi teringat dia? Bukan kah tujuan ku kesini adalah untuk bekerja dan melupakannya? Tidak, tidak. Wulan, kamu harus fokus pada niat dan tujuan utama mu datang ke sini.' yakin Wulan dalam hati.
Sedangkan grandma dan grandpa nya yang melihat hal itu, hanya bisa geleng-geleng kepala. Lagi-lagi karena sifat keras kepala cucunya. Tapi keduanya juga membenarkan apa yang diucapkannya. Akhirnya mereka kembali melanjutkan pekerjaannya.
Leon tadi berkata seperti itu karena sengaja ingin memberi kode pada Wulan, bahwa dirinya siap menjamin segala kebutuhannya, karena dia adalah satu-satunya pewaris di keluarga nya. Yang mewarisi perusahaan papanya.
Namun sepertinya gadis itu salah tanggap, sehingga membuatnya merutuki diri sendiri. Karena salah bicara. Melihat Wulan dan keluarganya yang bercocok tanam, akhirnya Leon pun ikut membantu.
__ADS_1
'Tadi bilang, ngga perlu susah payah, tapi mau bantuin juga. Tulus ngga sih orang itu.' batinnya sambil menyunggingkan senyum mencemooh, melihat hal itu. Apalagi ketika melihat Leon yang tampak kurang cekatan dalam mengerjakan pekerjaan yang mudah.
Matahari hampir berada di atas kepala. Yang bertepatan dengan selesainya pekerjaan mereka. Bergegas mereka merapikan peralatan dan mencuci tangan.
Setelahnya mereka duduk di bawah pohon yang rindang, dengan kaki di luruskan, sambil mengibaskan topi untuk menghilangkan kegerahan.
Grandma berjalan masuk ke dalam rumah untuk mengambil minuman dan cemilan. Tak lama kemudian, ia sudah keluar dan menghampiri keluarganya yang masih melakukan hal sama.
"Ayo minum dan nikmati dulu cemilan." ajak grandma sambil meletakkan nampan di dekat mereka.
Tak perlu basa-basi karena memang haus, mereka pun segera menyerbu apa yang sudah tersaji di depan mata.
"Wulan sangat senang pa melakukan hal seperti tadi." celoteh Wulan di sela-sela ia mengunyah cemilan.
"Syukurlah kalau kamu senang cucu ku." balas grandpa.
"Grandpa, besok kita tanam bunga-bunga yang indah untuk grandma yuk?" ajak Wulan dengan penuh semangat.
__ADS_1
"Boleh, boleh." balas grandpa sambil terkekeh. Sedangkan Leon hanya bisa menghembuskan nafas kesal. Karena harus kembali melakukan pekerjaan yang melelahkan demi merebut perhatian Wulan.