Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
119. Keringat dingin


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Teresia Wulandari binti Marquez Fernandez dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai."


"Bagaimana saksi?"


"Sah. Sah. Sah."


"Alhamdulillah."


"Silahkan mempelai wanita untuk mencium punggung tangan suaminya. Begitu pula mempelai laki-laki bisa mengecup pucuk kepala istrinya."


Kedua mempelai itu saling melemparkan senyuman. Lalu melakukan apa yang diperintahkan oleh penghulu.


Sang wanita mencium punggung tangan suaminya. Sedangkan laki-laki itu mengecup pucuk kepala istrinya.


"Arghhh..." teriak laki-laki itu.


"Salman, Salman." Mama menggoyang-goyangkan badan anaknya.


"Hah, mama?" Salman membulatkan kedua matanya ketika mamanya sudah duduk di tepi ranjang tempat tidurnya.


"Kenapa kamu menusuk hidungmu dengan alat pijat ini?" Mama memegang alat pijat yang berbentuk seperti sendok garpu pada putranya.


"Hah, benarkah begitu ma?" Salman masih tak percaya. Ia memindai keadaan sekitar dan melihat jika dirinya memang berada di dalam kamarnya, bukan di altar pelaminan.


"Apakah aku mimpi?" gumamnya.

__ADS_1


"Mimpi apa lagi?" tanya mama penasaran.


"Eh, tidak ma." Salman meringis saja.


"Sepertinya mama tahu kamu sedang memimpikan siapa." tebak mama sambil tersenyum.


"Mama salah. Salman ngga memimpikan Wulan kok." cetus Salman.


"Lhoh, mama tadi ngga bilang seperti itu lho." Mama semakin terkekeh.


"Jadi tadi kamu memikirkan Wulan ya."


"Kalau suka, utarakan saja keinginan mu itu. Menurut mama Wulan gadis yang cukup baik. Kalau dulu mama dan papa sempat tidak setuju karena berbeda keyakinan. Tapi sekarang, mama setuju. Seorang mualaf itu adalah orang yang suka bekerja keras. Ia rela menghabiskan banyak waktunya untuk mempelajari Islam, lebih dari kita yang memeluk agama ini sejak lahir." terang mama dengan mimik serius.


'Berusah payah aku menyangkal perasaan ini. Dan sepertinya aku menyerah. Karena setiap kali aku bermimpi menikah dengannya.'


**


Salman sekeluarga tengah bersiap-siap untuk jalan-jalan sambil menghirup udara pagi di negara kincir angin itu. Setelah semua rapi, mereka pun berjalan memasuki lift.


"Pak Atmaja." seperti mendengar namanya di sebut, opa Atmaja menoleh ke kiri dan kanan mencari asal suara. Saat mereka sudah berada di lobi hotel. Senyumnya mengembang ketika melihat seseorang yang baru saja dikenalnya.


"Pak Louis." ucap opa Atmaja sambil merangkul laki-laki bertubuh tambun dan berambut putih itu.


Salman tak bisa menyembunyikan perasaannya yang semakin tak karuan. Bahkan tangannya sampai berkeringat dingin karena melihat wanita yang baru saja hadir dalam mimpinya.

__ADS_1


Wulan tampak menyunggingkan senyum, lalu mencium punggung tangan Tante Laura dan Oma Ani dengan takzim.


Tak hanya opa Atmaja saja yang berpelukan dengan grandpa Louis. Papa Reyhan dan Salman juga.


"Kenapa tanganmu sedingin ini? Kamu sakit nak?" grandpa menatap Salman dengan serius. Sehingga membuat pemuda itu salah tingkah.


"Eh, tidak grandpa. Mungkin karena hawa ruangan ini yang terlalu dingin." kilah Salman.


Semua manggut-manggut mendengar penjelasan Salman, kecuali mama Laura. Wanita itu tampak menyunggingkan senyum karena tahu jika anaknya tengah berbohong.


"Oh iya, kenapa kamu pagi-pagi sudah ada di hotel ini?" tanya opa Atmaja pada grandpa Louis.


"Aku memang mau menghadiri acara kantor di hotel ini dengan cucuku. Karena sekarang urusan perusahaan, dia yang memegang kendali. Sedangkan aku hanya mengawasinya sesekali saja."


Salman sekeluarga menatap sekilas pada Wulan dengan bangga, karena diusianya yang masih terbilang muda, sudah diberi amanah sebesar itu.


"Apa sekarang cucumu tinggal menetap disini? Bukan kah kedua orang tuanya di Indo?" tanya opa Atmaja lagi.


"Semua keputusan aku serahkan pada cucuku. Tapi sepertinya di betah disini. Mungkin selamanya ia akan menetap disini. Iya kan Wulan?" grandpa menatap gadis itu.


"Dimanapun Wulan tinggal, tetap merasa nyaman dan betah kok. Selamanya disini juga tidak apa-apa. Bisa selalu bersama grandpa." Wulan tersenyum pada grandpanya.


Salman mendongakkan kepala menatap Wulan. Dulu ia berharap jika tidak bertemu dengan gadis dihadapannya itu lagi.


Tapi sekarang, ketika gadis itu memutuskan untuk tinggal di Belanda selamanya, entah kenapa hatinya terasa berat.

__ADS_1


Salman seperti tak rela dengan keputusan Wulan. Tapi untuk berkata 'Jangan' lidah itu terasa kelu untuk berkata.


__ADS_2