
"Assalamu'alaikum Oma." ucap Salman sembari membuka pintu rumah neneknya. Ia mencari keberadaan ibu dari papanya ke setiap sudut ruangan. Dan menemukan nya di dapur.
"Assalamu'alaikum Oma." ucap Salman sekali lagi. Tampaknya tadi omanya tidak mendengar salam nya.
"Wa'alaikumussalam. Salman." pekik Oma Rohmah. Ia membalikkan badannya sambil tersenyum sumringah.
Salman pun segera mendekat ke arahnya, lalu mencium punggung tangannya dengan takzim. Setelah itu barulah keduanya saling berpelukan.
"Cucu Oma yang nakal. Kenapa baru kesini?" maki Oma sambil mencubit hidung Salman, membuat pemuda itu meringis kesakitan.
"Maaf Oma. Salman sibuk sekali. Membantu mengurus showroom kakek dan counter papa yang bercabang-cabang, mirip ranting pohon." Keduanya pun terkekeh bersama.
"Ya sudah, nanti kamu menginap disini ya." pinta Oma Rohmah.
"In shaa Allah Oma."
"Semenjak semua sudah pada menikah, Oma sangat kesepian." cetus Oma sambil menerawang dan matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
Ia memiliki tiga orang anak laki-laki. Yang pertama adalah Reyhan, papanya Salman. Yang kedua adalah Bayu, abinya Zakira dan Fatih. Dan yang terakhir adalah Bima. Yang baru-baru ini di angkat untuk menjadi tenaga pendidik di Kairo.
"Masih satu Oma yang belum menikah." ucap Salman sambil meringis mengingatkan omanya.
"Kapan om Bima pulang Oma?"
"Dia belum bisa memastikan Sal. Jika tidak bertepatan dengan hari raya mungkin tidak bisa pulang. Dulu Oma senang ketika ia bisa berkuliah di luar negeri. Setelah diangkat untuk menjadi guru di sana Oma juga senang, karena ilmu yang dia dapat bisa bermanfaat untuk orang banyak. Tapi ternyata kelamaan sendirian juga tidak enak. Sepi tanpa seorang pun menemani." beber Oma lagi. Sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tidak terjauh.
"Kesepian ya Oma? Kenapa ngga nikah lagi saja." celoteh Salman sambil terkekeh kecil, yang membuat oma langsung memukulnya dengan mangkok atom yang ada di dekatnya.
Namun Salman dengan sigap mengelak, sehingga membuat omanya gemas dan berusaha memukulnya, tapi tidak kena juga.
"Sudah Oma, ampun. Salman jadi haus nih." ucap Salman sembari membuka kulkas. Dan meraih sebotol air putih, lalu menuang ke gelas.
"Salman ke depan dulu ya Oma. Mau kerja."
"Iya. Oma juga mau melanjutkan masaknya. Segera kabari kedua orang tuamu. Nanti kamu harus menginap disini."
__ADS_1
"Siap Oma." Salman menempelkan tangannya di jidatnya, setelahnya barulah ia pergi.
Oma yang melihat hal itu, hanya menggelengkan kepalanya, lalu kembali memasak sayur opor.
Namun melihat cucunya yang datang, ia berniat untuk membuat cemilan pisang goreng dan bakwan jagung untuknya.
**
Sementara itu dalam counter, Salman mengedarkan pandangannya menelisik setiap sudut ruangan. Dan tak lama kemudian, beberapa orang pembeli berdatangan. Ia segera melayani dengan sepenuh hati.
Tidak terasa hari semakin terik, karena matahari tepat di atas bumi. Bertepatan dengan waktu adzan.
Sebagai seorang laki-laki, Salman selalu melaksanakan sholat lima waktu di masjid. Ia pun segera berpamitan pada karyawannya untuk pergi ke masjid yang ada di samping rumah omanya.
"Kakek juga mau ke masjid?" ucap Salman ketika melihat kakek Somad yang berjalan meninggalkan pelataran rumah Oma rohmah, yang menjadi tempat jualannya.
"Iya nak, Ayo sekalian." balas laki-laki sepuh itu sambil tersenyum hangat. Dan Salman membalasnya dengan anggukan kepala.
__ADS_1
Kedua laki-laki itu pun berjalan beriringan menuju masjid. Fatim yang melihat kakeknya berjalan bersama Salman tanpa sadar mengulas senyum.
'Pemuda yang baik dan penuh sopan santun.' batin gadis itu.