Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
237. Melahirkan


__ADS_3

Papa, mama dan Leon berlari menuju kamar Fatim.


"Fatim." Seru keduanya, ketika melihat Fatim meringis kesakitan sambil memegang perutnya.


Mereka pun segera menghampiri Fatim dan mengecek kondisinya.


"Kita harus segera membawa ke rumah sakit sekarang. Papa takut terjadi apa-apa dengan keduanya."


Leon mengangguk, lalu mengangkat Fatim. Papa segera turun untuk menyiapkan mobilnya. Sedangkan mama menyiapkan barang-barang Fatim.


Sebelum berangkat, mama menyempatkan mengetuk pintu kamar besannya untuk memberi tahu apa yang terjadi.


Kedua orang Leon begitu terkejut, mereka pun segera menyusul.


Papa memacu mobilnya dengan cepat, agar lekas sampai di rumah sakit.


Tanpa di perintah, beberapa perawat yang mengetahui kedatangan dokter Adam segera mendekat. Mereka membawa brankar dorong.


Dengan sigap mereka membantu meletakkan Fatim di atas brankar itu, dan mendorongnya menuju ruang IGD.


"Kamu, tunggu di luar saja. Biar papa yang menemani nya." Setelah berkata seperti itu, papa Adam segera menutup pintu ruang IGD.


Leon mondar-mandir di depan pintu IGD. Sedangkan mama Tiwi dan mama Margaretha berpelukan untuk saling menguatkan.


Papa Marco duduk sambil menatap keluarganya yang tengah gelisah. Sebenarnya dia sendiri juga gelisah, tapi ia berusaha menyembunyikan perasaan itu, dan memilih berdo'a untuk keselamatan menantu dan calon cucunya.


Namun, lama-kelamaan papa Marco bosan juga melihat Leon seperti itu. Ia bangkit dari duduknya dan memegang bahu putranya.


"Leon, apa kamu tidak capek? Terus berjalan mondar-mandir seperti itu. Lebih baik kamu duduk dan berdoa untuk keselamatan istri dan anak mu."


Leon membuang nafas kasar, lalu sejenak berpikir. Ia membenarkan ucapan papanya. Karena sejak tadi mondar-mandir dengan diliputi perasaan yang tegang dan kalut.

__ADS_1


**


Sementara di dalam ruangan, Fatim merasakan perutnya yang semakin sakit. Bahkan ia tidak menyadari jika darah merembes keluar, melalui sela-sela jalan lahirnya.


"Papa." Rintih Fatim, sambil menatap papanya dengan pandangan yang sayu.


"Tenang sayang. Tidak akan terjadi apa-apa." Dengan lembut Adam mengusap pucuk kepala anak satu-satunya.


"Dokter, sepertinya kita harus segera mengeluarkan bayinya sekarang. Karena sudah terjadi pendarahan. Detak jantung bayinya juga terlihat mulai melemah." Ucap dokter yang menangani Fatim, pada Adam.


"Iya, aku pikir itu adalah satu-satunya jalan yang terbaik. Ayo kita lakukan sekarang." Balas Adam.


"Pa..." Fatim memegang tangan papanya.


"Kami terpaksa melakukan ini sayang. Karena ini adalah jalan satu-satunya, demi menyelamatkan kamu dan bayi mu."


Akhirnya Fatim pun mengangguk, dan papa Adam menyunggingkan senyum.


Team medis segera mempersiapkan segala peralatan yang dibutuhkan. Lalu operasi pun di mulai.


Oek... Oek


Suara bayi Fatim menggema memenuhi seluruh ruangan. Sehingga membuat mereka tersenyum, termasuk Fatim.


Di antara lelehan air matanya dan kesadaran yang tidak sempurna, ia sangat bersyukur, akhirnya bayinya bisa dilahirkan. Walaupun masih jauh dari perkiraan hari lahirnya.


Berpacu dengan waktu, team medis segera melakukan tindakan untuk bayi yang terlahir prematur itu. Perawat meletakkan bayi itu di inkubator dan memasangkan alat bantu pernafasan.


Sementara perawat yang lain melakukan tindakan lebih lanjut pada Fatim, dengan menjahit perutnya.


Setelah bergulat sekian waktu, akhirnya team medis berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik.

__ADS_1


**


Di luar ruangan, Leon dan keluarganya mengucapkan syukur Alhamdulillah, sambil mengusap wajahnya. Ketika mendengar suara tangis bayi yang begitu kencang, dari balik pintu ruang IGD.


"Alhamdulillah, semoga mereka sehat semua ya Allah." Gumam Leon.


"Leon." Ucap papa Adam, saat membuka pintu ruang IGD.


"Papa." Keduanya saling berpelukan.


"Cepat temui mereka. Papa hanya memberi mu waktu lima menit saja. Setelah itu, bayimu harus segera dibawa ke ruangan khusus. Karena terlahir prematur."


Leon pun mengangguk sambil menyunggingkan. Lalu berjalan dengan langkah lebar, menuju ke dalam.


"Sayang." Leon mengusap pucuk kepala dan tangannya memegang tangan istrinya.


"Terima kasih, kamu sudah mau berjuang demi anak kita. Semoga cepat sembuh ya. Maaf aku tidak bisa lama-lama, kata papa aku cuma di beri waktu lima menit saja. Dan aku rasa waktunya ini sudah habis." Cerocos Leon mengungkapkan rasa bahagianya.


Fatim bahkan menyunggingkan senyum, melihat kekonyolan yang suaminya ciptakan. Ia menganggukkan kepalanya, lalu Leon pun keluar.


Tapi baru beberapa langkah, ia teringat jika belum mengadzani bayi nya. Ia pun membelokkan langkahnya menuju box bayi dan mendekatkan wajahnya, lalu mengadzani.


Untung saja, beberapa hari ini ia sempat berlatih adzan. Sehingga kini ia bisa melafazkan adzan dengan baik.


**


Kini Fatim sudah berada di ruang perawatan. Sedangkan bayinya berada di ruang inkubator. Karena harus mendapatkan perawatan khusus.


Keluarga mereka mengelilingi Fatim dan terus mengajaknya bercerita. Hal itu dilakukan, karena tadi Fatim sempat mengeluh mengantuk dan ingin tidur.


Padahal setelah melahirkan, memang tidak boleh tidur. Karena dikhawatirkan bisa tidur selamanya.

__ADS_1


Berita Fatim melahirkan itu sampai juga ke telinga keluarga besarnya. Termasuk kakek dan neneknya.


Setelah mengetahui hal itu, keduanya berniat menjenguk ke rumah sakit. Papa Adam yang tidak tega, menyuruh sopirnya untuk menjemput mertuanya.


__ADS_2