
Acara aqiqah di kediaman Fatim telah selesai beberapa hari yang lalu.
Dan kini mereka tengah berkumpul menikmati sarapan pagi bersama. Di saat itulah, papa Marco mengatakan jika besok akan kembali ke tanah airnya.
Ada rasa sedih di hati Leon, ketika harus berpisah dengan kedua orang tuanya meskipun itu hanya sementara waktu.
Tapi ia sebagai seorang pria dewasa dan kepala rumah tangga bagi keluarga kecilnya, tidak boleh menunjukkan rasa itu di hadapan keluarganya.
Fatim sebagai seorang istri, juga tahu dan bisa melihat kesedihan di wajah suaminya. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Terlalu riskan jika mengajak seorang bayi untuk naik pesawat. Walaupun tak dipungkiri juga, di sisi hatinya yang lain ia bisa sedikit berlama-lama dengan keluarganya.
Papa Adam dan mama Tiwi juga cukup bersedih dengan kabar yang di dapat dari besannya itu. Sebenarnya, keduanya sangat senang ketika bisa hidup serumah dengan kedua orang tua Leon.
Serasa memiliki saudara dan teman dekat. Karena bisa mengobrol sambil mengerjakan suatu aktivitas.
Seperti mama Tiwi yang banyak belajar merajut dari mama Margareth. Terkadang keduanya juga menanam bunga bersama. Karena mama Margareth memang hobi menanam bunga.
Sedangkan papa Adam yang setiap harinya disibukkan dengan urusan rumah sakit, ketika pulang kerja, ia jadi ada teman bermain badminton.
Ternyata lebih seru jika bisa olahraga di tempat terbuka dengan orang yang seumuran. Karena biasanya papa Adam hanya nge-gym di ruangan dalam rumahnya.
__ADS_1
"Sebenarnya kami sangat kehilangan kalian. Karena selama kalian tinggal beberapa hari disini, kami sudah merasa seperti punya saudara dan teman dekat. Yang bisa diajak untuk mengerjakan segala sesuatu secara bersama.
Tapi kami juga sadar diri dan tidak boleh egois. Karena bagaimana pun juga, kalian punya kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan.
Jangan lupa, kalian harus sering berkunjung kemari. Paling tidak setiap seminggu sekali. Sebagai pengobat rindu di hati masing-masing." Tutur papa Adam panjang lebar.
"Terima kasih. Terima kasih kami ucapkan pada kalian sekeluarga Dam. Kalian sekeluarga sangat baik dalam menjamu aku dan istriku selama ini. Sungguh, kebaikan kalian tidak akan pernah bisa kami lupakan.
In shaa Allah, kami akan usahakan untuk datang kemari setiap akhir pekan. Selain rindu dengan kalian, kami juga pasti akan sangat rindu dengan cucu kita."
"Hanya rindu dengan besan dan cucu, pa? Dengan menantu dan anaknya tidak ya?" Celetuk Leon, yang membuat mereka terkekeh.
"Kalau itu sudah tidak diragukan lagi, Leon." Balas mama Margareth.
"Tidak perlu repot-repot, Dam. Asisten ku bisa mengurusnya. Kami pasti repot dengan urusan rumah sakit."
"Aku harus memperlakukan dengan baik besan ku. Melayani kebutuhannya selayaknya melayani diri sendiri."
Papa Adam mengurungkan niatnya berangkat ke rumah sakit. Karena ia ingin menghabiskan waktunya bersama dengan besannya sebelum keduanya berangkat pergi.
Setelah menyelesaikan sarapannya, mereka pun duduk di taman belakang. Papa Adam dan papa Marco bermain catur. Sedangkan Leon hanya mengamati saja, karena dirinya tidak sehebat papanya dalam bermain patung kuda itu.
__ADS_1
Sedangkan Fatim dan kedua mamanya tengah mengelilingi Abidah. Sambil bertukar cerita tentang merawat bayi dan seputar ibu menyusui pasca Caesar.
Di tengah-tengah keasyikan mereka berada di taman belakang, seorang laki-laki datang menemui papa Adam. Ternyata dia adalah salah satu asisten papa Adam, yang mengantar tiket kepulangan untuk besannya.
Matahari telah balik ke peraduan.
Setelah menyelesaikan makan malam, Mama Margaretha dan papa Marco di dalam kamarnya tengah mengemasi barang-barangnya.
Sedangkan di dapur, mama Tiwi dan papa Adam sedang membuat olahan rendang daging sapi dan balado jengkol untuk besannya.
Mama Tiwi memang teringat, suatu hari besannya itu memuji masakannya yang lezat. Dan makanan yang mereka makan saat itu adalah rendang dan jengkol tadi. Sehingga mama Tiwi berinisiatif membuat masakan itu untuk mereka.
Membuat rendang daging sapi yang enak, tentu saja membutuhkan waktu yang sangat lama. Agar bumbunya benar-benar meresap sampai ke dalam-dalamnya.
Bahkan sampai subuh, keduanya baru selesai membuat kedua makanan itu.
"Lhoh, nyonya kenapa sudah ada di dapur. Hem, baunya harum sekali nyonya." Celetuk asisten rumah tangga yang melihat majikannya ada di dapur.
"Bi, sini deh. Tolong cobain dong, rasanya kurang apa?" Bukannya menjawab, mama Tiwi justru menyuruh asisten rumah tangganya mendekat.
Wanita sepuh yang biasa di panggil bibi itu mendekat, lalu mencicipi sepucuk sendok daging rendang. Matanya mengerjap cepat.
__ADS_1
"Hem, enak sekali nyonya. Mantap, bumbunya sangat berasa."
"Alhamdulillah. Ngga rugi kita, ma. Dibela-belain begadang dari habis Isya' sampai subuh. Ternyata hasilnya sungguh memuaskan. Papa juga jadi laper. Boleh lah ya curi start, sarapan pagi dulu." Ucap papa Adam sambil mengusap-usap perutnya, dan tak lama kemudian berbunyi keroncongan. Sehingga membuat istri dan asisten rumah tangganya tergelak.