Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
8. Paket komplit


__ADS_3

Lagu-lagu rohani sudah di putar sejak tadi. Dan satu persatu tamu undangan sudah memenuhi deretan kursi yang disediakan.


"Aisyah, ayo nak kita ke depan. Sudah saatnya kamu bertemu dengan suami mu." ucap umi Rosyidah.


"Baik umi." Aisyah segera berdiri. Dan dengan di apit oleh kedua orang tuanya, ia berjalan menuju meja akad nikah. Teman-temannya pun mengikutinya dari belakang.


Aisyah tampak berjalan dengan anggun. Kecantikannya kian bersinar walau wajahnya tertutup cadar yang senada dengan warna bajunya. Hingga akhirnya ia tiba di dekat Fatih. Segera lelaki itu menggeser kursi di sampingnya untuk istrinya.


Keduanya menandatangani beberapa dokumen penting. Setelahnya penghulu mempersilahkan Aisyah untuk mencium punggung tangan suaminya.


Aisyah pun menggeser tubuhnya agar bisa berhadapan dengan suaminya. Fatih mengulurkan tangannya, dan Aisyah menjabatnya, lalu mencium punggung tangannya dengan penuh takzim.


Tak hanya itu saja, Fatih juga meletakkan tangan kirinya di pucuk kepala Aisyah sambil merapalkan doa.


"Uwu... so sweet sekali." seru Wulan sambil bertepuk tangan. Senyum sumringah terpancar di wajahnya.


Tanpa sadar membuat banyak tamu undangan menoleh kearahnya. Termasuk Salman. Sesaat pemuda itu geleng-geleng kepala melihat kelakuan gadis itu.


"Kenapa Aisyah yang lugu bisa memiliki teman sebar-bar itu?" gumamnya.

__ADS_1


"Kamu bilang apa nak?" tanya mama Laura yang kebetulan sedikit mendengar celotehan anaknya.


"Oh, enggak ada apa-apa kok ma." kilah Salman sambil berpura-pura mengotak-atik handphonenya.


Setelah proses akad nikah selesai, kedua mempelai dipersilahkan duduk di kursi pelaminan.


Seorang MC membacakan susunan acara. Yang menandakan serangkaian acara siap dilanjutkan.


Acara yang pertama adalah pembacaan tilawah Al-Qur'an yang akan dibawakan oleh Salman.


Merasa namanya di panggil, bergegas pemuda tampan itu beranjak dari duduknya. Lalu berjalan menuju mimbar.


"Itu paket komplit girls." celoteh Wulan dengan mata yang berbinar.


"Iya, siapa sih tuh cowok? Cakep bener." timpal temannya yang lain.


Beberapa ayat telah selesai dibaca Salman. Namun suara cempreng kembali membuat mereka terkejut.


"Lagi dong. Suaranya bagus ei." siapa lagi kalau bukan teman Aisyah, yakni Wulan. Yang berkata seperti itu.

__ADS_1


"Sssttt.. Kamu pikir itu siaran radio. Yang boleh request sesuka hati." tegur temannya.


"Iya nih, si Wulan bikin malu aja." teman yang lain pun ikut menimpali.


"Hem, sorry, sorry girls. Aku kelepasan." balas Wulan sambil meringis tanpa dosa.


Salman kembali ke tempat duduknya. Dan acara dilanjutkan kembali. Yakni sungkeman. Kedua mempelai di persilahkan bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya untuk memohon restu.


Umi Rosyidah pun terisak ketika anaknya bersimpuh dihadapannya. Rasanya baru kemarin ia menikah dan memiliki bayi.


Tapi bayi itu kini telah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik, tegas dan pemberani. Seuntai doa terucap dari bibirnya yang di akhiri dengan pelukan antara ibu dan anak.


Setelah bersimpuh di hadapan uminya, giliran ia bersimpuh di hadapannya papinya.


Fatih pun bersimpuh di hadapan ibu mertuanya, setelah bersimpuh di hadapan ayah mertuanya.


Lalu keduanya beranjak dari duduknya, dan bersimpuh dihadapan kedua orang tua Fatih. Isak tangis pun kembali terjadi.


Setelah proses yang membuat semua orang terisak itu, kini saatnya menikmati hiburan marawis. Para tamu undangan juga dipersilahkan untuk mengambil hidangan yang telah disediakan.

__ADS_1


"Oh no. Baju ku." pekik Wulan.


__ADS_2