Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
222. Takjub


__ADS_3

"Cucuku. Kamu cantik sekali, sayang." ucap mama Laura, dengan wajah yang sangat berbinar.


Seperti halnya mommy, ia pun juga mengecup wajah cucu pertamanya itu dengan penuh semangat.


"Mama, sudah cukup yang menciumnya. Giliran dengan papa dong." protes papa Reyhan.


"Hei, aku juga belum. Kenapa kalian sudah ribut?" ucap Daddy Marquez.


Ternyata, tidak hanya mereka saja yang berebut ingin mengecup gadis kecil itu. Tapi juga grandma, grandpa dan ketiga Oma dan opa nya Salman.


Salman dan Wulan hanya bisa geleng-geleng kepala, sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Melihat kelakuan keluarga mereka.


"Ya ampun, sayang. Sepertinya mereka akan ribut seperti itu sampai pagi. Lebih baik kita tinggal ke kamar saja."


"Hah! Ke kamar?" ulang Wulan dengan suara yang sedikit keras. Sehingga membuat mereka terdiam dan melihat ke arah Wulan dan Salman.


"Mau bikin adik untuk gadis kecil mu ini?" tanya Daddy to the point.


Salman pun hanya bisa meringis sambil menggaruk kepalanya lagi. Mereka yang tadi terdiam, kini terkekeh. Sedangkan Wulan memerah wajahnya karena malu.


Untung saja tamu mulai berdatangan satu persatu. Jadi mereka yang tadi sempat mengerumuni gadis kecil itu, mulai berhamburan dan berjejer rapi menyambut para tamu undangan.


Tentu saja, para tamu undangan itu di buat takjub, sekaligus terheran-heran. Karena menyaksikan dekorasi rumah yang sangat indah.

__ADS_1


Ditambah lagi, baju seragam yang dikenakan keluarga pasangan Wulan dan Salman sangat bagus model, dan motifnya. Mereka jelas bisa menebak, jika baju seragam yang mereka pakai, harganya lebih dari jutaan.


Tak hanya itu saja, para tamu undangan juga dibuat takjub dengan penampilan bayi kecil yang ada di dalam stroller.


Ingin rasanya mereka mencubit dan mengecup bayi kecil itu. Tapi, tentu saja hal itu sungkan untuk mereka lakukan. Akhirnya tamu undangan pun segera duduk di kursi yang telah disediakan.


**


Sementara itu, keluarga Fatim juga tengah bersiap-siap untuk menghadiri acara. Fatim yang perutnya sudah cukup membesar. Sibuk memilih baju yang akan ia kenakan malam itu.


Sampai akhirnya, ia menemukan gamis putih yang bagian bawahnya sangat lebar. Setelah mengganti bajunya, Fatim merapikan jilbabnya. Kini ia sudah terlihat sempurna.


Leon, juga memakai kurta berwarna putih dan juga celana panjang berwarna putih. Tak lupa ia menyematkan peci putih di kepalanya.


"Kamu cantik banget, sayang."


"Kamu juga tampan sekali, kak. Sangat cocok memakai kurta itu." kini giliran Fatim yang memuji suaminya.


"Alhamdulillah. Tidak sia-sia aku berpenampilan seperti ini. Kalau begitu, besok-besok aku ke kantornya pakai pakaian seperti ini saja kali ya."


Fatim terkekeh, lalu menganggukkan kepalanya.


"Boleh-boleh. Siapa tahu, karyawan mu juga ikut-ikutan menjadi mualaf seperti mu, kak. Karena hidayah itu tidak ada yang tahu dari mana datangnya."

__ADS_1


"Iya, sayang. Betul itu. Semoga sekecil apapun bentuk perubahan yang kita lakukan. Bisa membawa dampak yang luar biasa bagi orang lain. Agar kita bisa menjadi manusia yang bermanfaat."


"Tumben, kak. Bicaranya mengena di hati banget." Fatim menoleh, dan menatap wajah suaminya langsung. Sementara yang di tatap sendiri tampak meringis.


"Ya jangan bilang seperti itu dong, sayang. Nanti aku bisa ge-er. Terus lupa lagi dengan tujuan awal." kekeh Leon.


"Ya, sudah. Ayo kita berangkat. Nanti keburu telat lagi." ajak Fatim sambil beranjak dari tempat duduknya.


Keduanya berjalan beriringan keluar kamar. Ternyata kedua orang tua mereka sudah menunggunya di lantai bawah.


"Oh, kami pikir kalian tidak jadi ikut. Soalnya lama sekali ditungguin. Ngapain saja sih di kamar?" tanya papa Adam, pada anak dan menantunya. Tapi pasangan suami-istri itu tidak menjawab, melainkan hanya menyunggingkan senyum tipis saja.


"Yang penting kami sudah turun ke bawah. Ayo, kita berangkat sekarang." ajak Fatim menggandeng tangan suaminya.


Rombongan itu pun menaiki sebuah mobil, yang di kemudikan oleh Leon. Fatim duduk di depan menemaninya. Sedangkan kedua orang tua mereka duduk di bagian belakang.


Setelah setengah jam lebih mengemudi, akhirnya mereka sampai di tempat yang dituju. Mereka langsung berdecak kagum.


Karena mobil milik para tamu undangan sudah terlihat memenuhi area parkir. Di tambah lagi, suara nasyid yang di putar cukup keras menggema di telinga. Dan sampai ke dada.


Banyak sekali orang-orang anak buah Marquez, yang ditugaskan untuk mengawasi dan mengamankan acara.


Bahkan terlihat para tamu undangan itu memperlihatkan kartu undangan mereka, sebelum masuk ke tempat acara.

__ADS_1


"Ayo, kita segera turun." ucap mama Tiwi.


"Benar, apa kata mama. Kenapa kita justru berdiam diri seperti patung." imbuh papa Adam. Mereka pun satu persatu mulai turun dan berjalan beriringan menuju tempat acara.


__ADS_2