Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
210. Curhat dengan istri


__ADS_3

Senyum indah yang tadi menghiasi bibir Wulan perlahan memudar, ketika melihat suaminya sepertinya sedang tidak baik-baik saja.


"Mas, jidatmu kenapa?" tangan Wulan bergerak pelan menyentuh jidat suaminya.


Salman membiarkan sakit yang menghiasi keningnya di sentuh oleh istrinya. Siapa tahu dengan begitu, rasa sakitnya semakin berkurang. Dan bisa lekas sembuh.


"Hanya luka ringan. Tidak apa-apa. Nanti juga sembuh sendiri." ucap Salman kemudian.


"Masa seperti ini luka ringan. Lalu luka yang berat seperti apa?" Karena gemas, Wulan malah menoyor jidat suaminya. Sehingga membuat laki-laki itu meringis kesakitan.


"Astaghfirullah, sayang."


"Maaf-maaf, mas. Habis aku gemes dengan mu. Ditanya bukannya di jawab dengan jujur, malah bilang tidak apa-apa. Memang aku anak kecil yang kalau dikasih tahu 'tidak apa-apa' terus percaya saja gitu?" Wulan mengerucutkan bibirnya, sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Perut buncitnya semakin tercetak jelas.


"Bagaimana kabarnya, sayang? Apa anak kita, baik-baik saja?" tanya Salman sambil mengusap perut buncit istrinya, lalu mengecupnya.


Perhatian nya teralihkan karena memandang perut istrinya yang sungguh menggemaskan.


"Kurang baik." ketus Wulan.


"Kenapa?"


Salman mendongakkan kepalanya, menatap wajah istrinya.


"Iya. Calon bayi kita kurang baik, karena selama beberapa hari, ditinggal tidur sendirian. Tanpa belaian papanya. Dan saat pulang, wajah papanya hancur."

__ADS_1


"Astaghfirullah, sayang. Jangan bicara seperti itu dong. Aku jadi takut nih. Maaf, aku tadi bilang tidak apa-apa. Karena tidak ingin membuatmu khawatir. Aku sebenarnya juga ingin menceritakan nya padamu. Tapi tidak sekarang, nanti di kamar. Masa iya, baru juga sampai di depan pintu, tapi susah di berondong dengan banyak pertanyaan."


Wulan menghembuskan nafas kasar. Lalu menyambar ransel yang berada di bawah kaki suaminya. Ia membawa tas itu masuk, dan berjalan mendahului suaminya.


Salman segera mengejarnya dan melingkarkan tangannya di pinggang istrinya yang sudah tidak ramping lagi. Karena ada bayi yang tumbuh disana.


Kini, keduanya sudah ada di dalam kamar. Salman mandi dan berganti pakaian. Lalu mendekati Wulan yang duduk di tempat tidur, sambil masih memasang muka cemberut.


Salman ikut duduk di atas ranjang. Tangannya kembali mengusap perut buncit istrinya. Sedangkan kepalanya ia sandarkan di sebelah bahu Wulan.


"Sayang. Mungkin setelah bayi kita lahir, kemana pun aku pergi, aku ingin kamu bersama ku. Kalau kamu khawatir kerepotan, kita bisa ajak asisten rumah tangga kita sekalian."


Wulan mengernyitkan dahinya. Ia bingung dengan maksud ucapan suaminya.


"Ma-maksudnya apa, mas?" suara Wulan terdengar parau. Perasaannya mengatakan sedang tidak baik-baik saja.


Wulan membulatkan matanya. Ia cukup syok mendengar hal itu. Buru-buru ia meneguk sampai habis, air minum yang ada di atas meja nakasnya.


"Kenapa kejadiannya, sama seperti awal kita bertemu, mas? Aku takut jika wanita itu nanti jadi madu ku." cerocos Wulan.


Sssttt...


Salman menempelkan jari telunjuknya di bibir istrinya, hingga ibu hamil itu pun diam.


"Mungkin kisah di awalnya sama, tapi aku berharap berbeda di belakangnya. Aku hanya ingin memiliki seorang istri saja. Seorang istri saja, sudah membuatku senam jantung setiap hari. Karena tingkah konyolnya. Apalagi dua, tiga dan seterusnya." kekeh Salman.

__ADS_1


"Beneran ya? Kalau sampai ternyata hubungan kalian terus berlanjut, awas saja. Tidak akan aku biarkan kamu menyentuh anakku. Dan akan aku potong burung mu." ancam Wulan sambil memegang senjata suaminya.


Salman seketika tersentak kaget, dan bergidik ngilu. Membayangkan istrinya benar-benar melakukan hal itu padanya.


Wulan bangkit berdiri, tapi tangannya segera di tahan oleh Salman.


"Mau kemana?"


"Mau ambil obat untuk mengobati lukamu, lah mas."


"Tidak usah." Salman menggelengkan kepalanya.


"Obatnya cukup kamu memberi jatah ku."


Salman mengerlingkan matanya nakal, lalu menarik tangan istrinya. Sehingga ibu hamil itu jatuh tepat di pangkuan suaminya.


Wulan tampak memerah pipinya. Karena permintaan suaminya. Melihat hal itu, Salman pun mengecup pipinya. Tangannya mulai berselancar menjelajahi setiap jengkal tubuh molek istrinya.


Hingga akhirnya keduanya sama-sama merebahkan tubuhnya di atas ranjang tempat tidur, dengan peluh yang menetes.


"Terima kasih, sayang." Salman mendaratkan kecupan di kening dan perut buncit istrinya.


Wulan hanya mengangguk lemah. Wanita itu memang pintar membuat Salman klepek-klepek. Meskipun ia tengah hamil tua.


"Mau mandi sekarang, atau tidur?"

__ADS_1


"Mandiin." celoteh Wulan dengan mimik wajah yang terlihat manja. Sehingga membuat suaminya gemas, lalu menggelitikinya sebentar.


Salman memakai celananya terlebih dahulu. Lalu mengangkat tubuh Wulan. Dan berjalan menuju kamar mandi. Ia merebahkan pelan-pelan tubuh istrinya di dalam bathtub. Yang sebelumnya sudah ditetesi aroma terapi.


__ADS_2