
Selama menjalankan ibadah umrah, rombongan keluarga besar opa Atmaja dan sahabatnya, lebih banyak menggunakan waktunya untuk duduk di depan Ka'bah.
Mereka senantiasa memohon ampunan Allah, dan berdo'a agar suatu saat bisa berkumpul bersama lagi.
Seperti pada malam hari itu, di saat banyak orang yang terlelap dalam tidurnya, rombongan keluarga besar opa Atmaja terbangun.
Setelah mengambil air wudhu, mereka berangkat bersama menuju Ka'bah, untuk mendirikan sholat tahajjud disana.
Mereka melakukannya dengan khusu' dan tuma'ninah. Di saat sujud terakhir, mereka biasanya akan memperlama.
**
Wilayah Mekkah, telah memasuki waktu subuh. Lalu lalang orang yang hendak mengerjakan sholat di sekitar Ka'bah, melihat rombongan opa Atmaja bersujud.
Tak perlu menunggu waktu lama, masjid dan Ka'bah telah dipenuhi ribuan jama'ah untuk melaksanakan sholat subuh bersama.
Di antara ribuan jama'ah itu, mulai menaruh rasa curiga pada rombongan opa Atmaja. Karena sejak tadi belum bangun dari sujudnya.
Mereka pun mulai berspekulasi, dan akhirnya mencoba untuk memanggilnya. Tapi, tetap tidak ada balasan. Salah satu diantara jama'ah sholat subuh itu, mencoba menggoyangkan tubuh papa Reyhan.
"Maa syaa Allah!" Seru orang yang menggoyangkan tubuh papa Reyhan tadi.
Karena badan papa Reyhan langsung roboh. Dan tubuhnya menimpa shof sholatnya. Yang mana shof itu terdiri dari rombongan keluarga besar papa Reyhan dan sahabatnya.
Jamaah sholat subuh yang melihat hal itu langsung berkasak-kusuk. Apalagi ketika melihat satu shof putri yang juga masih dalam posisi sujud. Mereka mencoba membangunkannya dengan cara memanggil sambil menyenggolnya.
Lagi-lagi jama'ah sholat subuh itu memekik, karena badan satu shof putri itu juga ambruk ketika di senggol. Semuanya dalam keadaan menutup mata.
Hal itu membuat jama'ah sholat subuh, menangis dan berkali-kali menyebut asma Allah.
Bagaimana mereka tidak menangis, jika yang ada dihadapannya adalah orang yang meninggal dalam keadaan bersujud kepada Allah?
Meninggal dalam keadaan Husnul khatimah adalah impian dan cita-cita seluruh Muslim.
Lalu, amalan apa yang kira-kira mereka lakukan? Sehingga bisa menjumpai Allah dalam keadaan yang sebaik itu.
Setelah hilang rasa keterkejutan dari jamaah sholat subuh, mereka segera melaporkan kejadian itu pada pihak penanggung jawab. Agar mayat rombongan itu bisa segera ditangani, dan tidak mengganggu jama'ah yang hendak melaksanakan sholat subuh.
Dengan gerak cepat, pihak penanggung jawab segera membawa mayat-mayat itu ke tempat yang lebih aman. Agar pemerintah setempat bisa melakukan autopsi.
__ADS_1
Membutuhkan sekitar dua jam lebih, saat dilakukan autopsi itu. Badan TKH memastikan, jika kondisi semua jenazah itu awalnya memang sehat semua.
Sehingga kematian mereka bisa dipastikan, karena memang sudah ajalnya. Bukan karena riwayat penyakit lain.
Setelah autopsi, pihak KKHI Madinah melakukan proses pengurusan jenazah. Agar keseluruhan jenazah bisa segera dimakamkan.
**
"Innalilahi wa innailaihi roji'un." Ucap Salman, dengan lemas. Hingga ia terduduk dilantai.
Pria itu begitu syok ketika mendapat kabar, bahwa seluruh keluarganya besarnya meninggal dunia di tanah suci.
"Mas, kamu kenapa duduk dilantai?" Tanya Wulan, ketika melihat suaminya masih duduk dilantai kamarnya.
Melihat suaminya masih terdiam dan wajahnya pias, Wulan mendekatinya.
"Kamu sakit, mas?" Wulan menempelkan tangannya di kening suaminya, untuk mengecek suhu tubuhnya.
"Normal." Desis wanita itu lagi.
Salman menatap istrinya lekat, lalu memeluknya.
"Mama..."
"Mama kenapa? Yang jelas dong bicaranya, mas."
Salman menghirup nafas dalam-dalam, lalu mencoba menjelaskan apa yang terjadi pada istrinya.
"Se-semua keluarga kita, meninggal di sana." Ucap Salman dengan suara terbata.
"Me-meninggal? Semua?" Ulang Wulan, sambil terduduk dihadapan suaminya.
"Iya, sayang." Mata Wulan mulai berkaca-kaca. Sehingga suaminya kembali memeluknya.
Pasangan suami-istri itupun berpelukan sambil menangis.
**
Sementara itu, Fatim dan Leon sedang menikmati sarapan pagi bersama. Mendengar handphonenya berdering, Fatim mengernyitkan dahinya. Karena berasal dari nomor asing.
__ADS_1
"Kenapa, sayang?" Tanya Leon.
"Sini, biar aku saja yang angkat. Kalau kamu takut." Akhirnya Fatim menyerahkan handphonenya pada suaminya.
Leon menganga mulutnya, ketika mendengar balasan dari seberang telepon. Fatim kembali mengernyitkan dahi ketika melihat suaminya tampak syok. Hingga handphonenya terjatuh.
"Ada apa, kak?"
Leon menatap wajah Fatim lekat.
"Kamu harus sabar."
"Sabar kenapa?"
"Mama dan papa kita, meninggal."
"Meninggal!" Seru Fatim, sendok dan garpu yang ia pegang seketika terlepas dari genggamannya.
**
Di kediaman Aisyah, ia mengantar suaminya sampai depan pintu. Tiba-tiba handphone Fatih berdering.
Pria itu merogoh handphone yang ada dalam saku kemkonya. Ia mengernyitkan dahi ketika melihat nomor tak dikenal memanggilnya. Dengan ragu ia mengangkat telepon itu.
Ia membulatkan matanya dan begitu syok, karena mendengar kabar yang sangat mengejutkan hatinya.
"Ada apa, mas?"
"Sayang." Fatih langsung memeluk istrinya. Sementara yang dipeluk membeku dan bingung dengan apa yang terjadi pada suaminya.
"Mas, kamu menangis?" Aisyah mengurai pelukan.
"Abi dan umi, Ai."
"Abi dan umi kenapa?"
"Mereka semua meninggal."
"Meninggal!" Badan Aisyah luruh ke lantai.
__ADS_1