
Jam menunjukkan pukul 6 sore, di sudut kamar lain, Wulan tengah bersiap siap untuk berangkat ke bandara.
Kini ia duduk di depan cermin sambil mengucir rambutnya seperti ekor kuda. Ia menatap dirinya lewat pantulan cermin. Sekali lagi ia menghembuskan nafas panjang nya. Ia meyakinkan dalam hati, bahwa ini adalah keputusan yang tepat.
Dalam setiap perjalanan hidup memang dibutuhkan sebuah keputusan, karena kita tidak bisa memilih dua di antara dua pilihan.
Jika kita mengambil keputusan yang tepat, maka bersyukurlah. Namun jika kita mengambil keputusan yang kurang tepat, maka dari sanalah kamu akan belajar. Kamu akan mendapatkan sebuah pengalaman baru. Terus lah berjuang untuk menatap masa depan.
Tok....Tok.....Tok
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Wulan. Bergegas ia membuka pintu kamarnya. Tampak mommy mengulas senyum walaupun ada rasa kekhawatiran yang tersirat di balik senyumnya.
"Kamu sudah siap genduk ayu ku?" tanya mommy lembut.
"Sudah mom." balas Wulan yakin.
"Daddy dan Leon sudah menunggumu di bawah."
__ADS_1
"Baiklah mom, Wulan ambil koper dulu."
Wulan berjalan ke arah kopernya yang berdiri di dekat almarinya. Ia menyeret kopernya keluar kamar, dan berjalan beriringan dengan mommy nya.
Di lantai bawah, yakni di ruang tamu, Leon dan Daddy tengah bercakap-cakap. Sampai akhirnya keduanya melihat Wulan dan mommy yang berjalan menuju arah mereka.
"Kamu sudah siap Wulan?" tanya Daddy memastikan.
"Sudah Dad." balas Wulan sambil mengangguk.
"Bagus. Ayo kita berangkat sekarang." ajak Daddy sambil bangkit berdiri dari duduknya, di ikuti Leon.
Sepanjang perjalanan, Leon lebih banyak mengajak mereka bercerita. Sedangkan Wulan hanya menanggapi secukupnya. Sampai akhirnya mereka berhenti di bandara.
Daddy membantu Wulan membawakan kopernya. Mereka pun berjalan menuju tempat pengecekan koper.
"Hati-hati genduk ayu mommy. Jaga diri baik-baik di sana. Mommy doakan agar kamu menjadi orang yang berhasil." ucap mommy sambil memeluk anak semata wayangnya. Ia tak bisa menyembunyikan kesedihannya.
__ADS_1
"Terima kasih mom, Wulan pasti akan jaga diri baik-baik." balas Wulan sambil mengeratkan pelukannya.
Ini adalah pertama kalinya bagi keduanya berpisah, dalam waktu yang tak bisa ditentukan. Bisa satu, dua hari atau justru bertahun-tahun.
Di tengah suasana yang mengharu biru itu, terdengar suara panggilan pada para penumpang pesawat dengan tujuan Belanda.
Wulan dan mommy pun saling mengurai pelukan. Keduanya saling menyunggingkan senyum. Kini giliran Daddy yang memeluk Wulan. Setelahnya Leon berpamitan pada kedua orang tua Wulan. Lalu ia dan gadis itu berjalan beriringan menuju garbarata pesawat.
Kini Wulan dan Leon sudah duduk di dalam pesawat. Sedangkan mommy dan Daddy memandang dari arah gedung bandara.
'Selamat tinggal Indo.' batin Wulan saat pesawat itu mulai lepas landas.
Wulan dan mommy saling melambaikan tangan, walaupun tidak begitu terlihat jelas bayangan orang yang mereka sapa.
Tanpa sadar kedua wanita itu saling menitikkan air mata. Namun dengan cepat, Wulan menghapusnya, karena tak ingin terlihat lemah di mata siapa pun juga. Sedangkan Daddy yang melihat istrinya menitikkan air mata, merengkuh dan menyandarkannya di bahunya.
"Aku yakin anak kita akan baik-baik saja honey. Semua hanya soal waktu. Sebagai seorang ibu, kamu harus bisa ikhlas melepas kepergian nya. Agar ia juga bisa tenang."
__ADS_1
Mommy mengangguk menanggapi ucapan suaminya, meskipun itu cukup berat baginya.