
"Kenapa kamu menangis sayang?" Wanita itu kembali bertanya pada anak kecil di dekat Wulan, sambil membelai lembut kepalanya yang tertutup hijab.
"Anisa menangis karena teringat pedihnya siksa neraka ma. Apalagi Tante ini tidak memakai jilbab." tutur anak kecil itu dengan polosnya pada ibunya. Hal itu membuat Wulan dan ibu gadis kecil itu merasa tak enak.
"Maafkan putri saya sister. Dia tidak ada maksud untuk menyinggung mu." Wulan tersenyum sebelum membalas perkataan wanita anggun di sampingnya itu.
"Tidak apa-apa sister. Aku juga tahu maksud Anisa. Kamu seorang ibu yang baik. Bisa mendidik seorang anak menjadi lebih paham terhadap keyakinannya."
Ibu gadis kecil itu menyunggingkan senyum tipis mendengar pujian yang dilontarkan Wulan padanya.
"Aku tidak sebaik yang kamu kira sister. Aku memakai hijab ini ketika aku telah menikah. Kebetulan suami ku seorang mualaf juga. Dan kami sama-sama belajar di tengah rutinitas yang cukup menyita waktu. Kami sangat senang dengan kehadiran Anisa di tengah-tengah kami. Dia bagai malaikat kecil untuk kami. Jika kami melakukan kekhilafan, maka dia jugalah yang mengingatkan. Eh, maaf aku jadi bercerita hal tak penting padamu sister." tutur wanita itu panjang lebar. Padahal mereka belum saling memperkenalkan diri.
__ADS_1
Tapi lewat untaian kata dari mulut wanita itu Wulan mendapatkan suatu pelajaran berharga. Ternyata ada segolongan orang yang masih menyempatkan diri untuk belajar. Tidak hanya menambah wawasan, tapi juga untuk meyakinkan akan keyakinan yang selama ini di anut oleh keluarga.
"Maaf jika aku boleh tahu, apakah keluarga sister tidak marah ketika memutuskan untuk menjadi seorang mualaf?" Wulan bertanya dengan hati-hati, karena takut menyinggung perasaan wanita dihadapannya.
Ibu satu anak itu tersenyum sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. Membuat Wulan cukup terkejut. Wanita dihadapannya bisa tersenyum menanggapi masalah sebesar itu.
"Kenapa kamu bisa tersenyum sister. Jika aku jadi kamu, pasti tak kan sanggup. Karena keluarga adalah nomor satu. Mereka yang selalu ada di samping kita saat suka duka." cerocos Wulan tak terima.
Untuk yang kesekian kalinya, wanita di hadapannya menyunggingkan senyum. Ia memaklumi usia Wulan yang masih muda. Yang sangat kritis dalam bertanya, seperti anaknya.
Jawaban lugas itu membuat Wulan seketika bungkam.
__ADS_1
'Tidak hanya cantik, cerdas, lembut. Tapi juga sangat kuat dan pemberani. Pantas saja sifatnya menurun ke anaknya.' batin Wulan terkesima.
"Maaf semua itu berdasarkan apa yang aku pahami berdasarkan pemahaman ku. Jika ada yang tidak sesuai dengan pemahaman mu, tolong jangan di ambil hati." imbuh wanita itu sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada sebagai tanda permohonan maafnya.
"Tidak ada sedikit pun perkataan mu yang menyinggung hati ku sister." Wulan tersenyum tulus.
"Wulan, apa kamu lupa dengan tempat duduk mu? Sehingga kamu justru duduk disini?" ucap Leon yang sudah berdiri di dekat Wulan. Ketiga wanita itu pun menoleh ke arah Leon.
"Oh, tentu aku tidak lupa Leon. Setelah keluar dari toilet aku melihat gadis kecil ini duduk sendirian. Jadi aku putuskan untuk menemaninya. Karena aku takut dia di culik." jelas Wulan apa adanya. Leon menelisik penampilan pasangan ibu dan anak yang duduk di dekat pujaan hatinya, lalu mengangguk percaya.
"Ya sudah, ayo kita kembali ke meja kita. Pesanan kita sudah datang sejak tadi. Kalau dingin tentu tak enak lagi di makan." Leon menarik tangan Wulan hingga membuat gadis itu langsung bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Terima kasih sudah melakukan kebaikan untuk kami. Semoga Allah senantiasa memberimu keberkahan." ucap ibu satu anak itu pada Wulan.
"Aamiin." ucap Wulan seraya tersenyum sambil melambaikan tangannya pada ibu dan anak itu.