Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
181. Maksud kedatangan Leon


__ADS_3

"Apa! Leon mau melamar Fatim? Malam ini?" Marquez membulatkan matanya tak percaya, ketika Marco mengatakan hal itu padanya saat ia baru saja pulang dari kantor. Papa Marco itu pun mengangguk.


"Kamu mengijinkannya?" Marquez menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu, sambil mengendurkan dasi, ikat pinggang dan melepas sepatunya. Untuk meregangkan otot-otot tubuhnya.


"Untuk pertama kalinya aku melihat anak itu terlihat serius, Marq." ungkap Marco yang membuat Marquez terkekeh kecil.


"Syukurlah kalau begitu. Tidak apa-apa jika Leon mau melamar Fatim. Menurut ku dia gadis yang baik. Tapi kamu harus benar-benar meyakinkan anakmu. Karena kamu tahu sendiri kan. Meskipun sudah berumur, anakmu itu selalu bersikap seperti anak-anak."


Marco sekali lagi mengangguk menanggapi ucapan Marquez.


"Nanti malam, aku akan mengantarkan kalian. Aku permisi mau mencari keberadaan istriku yang begitu ku sayangi, ku cintai, dan begitu ku rindukan setiap waktu." Marquez bangkit berdiri sambil menenteng tas kerja dan sepatunya.


"Sadar diri, kalian itu sudah tua. Sebentar lagi Wulan akan memberikan cucu untuk kalian." Marco menimpuk Marquez dengan bantal sofa. Karena ia tahu kebiasaan teman sejak kecilnya itu. Marquez hanya bisa tertawa lebar dan berlalu menaiki anak tangga.


**


Sementara itu, di rumah sakit. Fatim tidak bisa konsentrasi mengerjakan tugasnya. Wajahnya senantiasa murung. Leon benar-benar merubah hidup Fatim pada hari itu.


"Kamu kenapa sayang?" papa Adam bertanya dengan suara sedikit keras. Karena anaknya sejak tadi justru melamun. Padahal ia sudah memanggilnya sejak tadi.


"Eh, ti-tidak ada apa-apa kok, pa." Fatim cukup terkejut dengan suara papanya yang tumben keras sekali.


Ia segera menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Takut jika papanya memarahi dirinya. Tapi Adam tidak akan berbuat seperti itu pada anaknya.

__ADS_1


"Fatim. Ingat, kalau ada masalah apa-apa harus cerita dengan papa dan mama."


"Iya, pa. Fatim juga tidak ada masalah apa-apa kok. Yakin deh." Fatim mengulas senyum.


Meskipun Fatim tetap menyangkal, mimik wajahnya yang masih memikirkan sesuatu, tidak bisa di bohongi.


Setelah Fatim pulang, ia membersihkan diri dan mengurung diri di kamarnya. Daripada terus memikirkan laki-laki tak penting seperti Leon, akhirnya ia menggunakan waktunya untuk melihat tayangan di tiktok. Ia mencari video-video lucu untuk menghibur dirinya.


**


Sementara itu, di kediaman Marquez, tengah heboh tentang berita Leon yang akan melamar Fatim.


Wulan dan Salman begitu mendukungnya. Wulan berpesan pada Leon untuk memperlakukan Fatim dengan baik. Memperbaiki tingkah lakunya yang terlihat seperti anak kecil. Dan banyak lagi nasehat lainnya. Bahkan Salman juga ikut berpesan, untuk memuliakan seorang wanita.


"Ya kalau diterima. Kalau tidak? Sudah mikir sampai nikah." Wulan menimpuk Leon dengan bantal sofa, yang membuat mereka terkekeh.


"Ya sudah, ayo buruan berangkat. Keburu malam." ajak Leon, dan beranjak dari duduknya.


Dengan masih terkekeh, mereka semua bangkit dari duduknya dan berjalan beriringan menuju kediaman Fatim.


**


Hari beranjak malam, setelah makan malam dan sholat Isya', Fatim menenggelamkan tubuhnya di bawah selimut. Bersiap untuk tidur. Tapi tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.

__ADS_1


"Mama. Ada apa, ma?" Fatim membukakan pintu, dan terlihat mamanya tengah berdiri dihadapannya.


"Ada tamu untukmu." balasnya singkat.


"Tamu? Untuk Fatim?" ulang gadis itu karena merasa heran dengan kedatangan temannya tengah malam.


"Ya sudah. Ayo segera temui sana." dengan malas Fatim berjalan dengan mamanya menuju ruang tamu, tanpa mengganti piyama yang sudah ia kenakan.


Entah kenapa hatinya merasa tidak enak sepanjang menuruni anak tangga. Dan langkahnya terhenti ketika melihat Leon bersama rombongan keluarganya.


'Apa-apaan dia itu. Kesini bawa keluarganya. Katanya mau melamar calon istrinya, tapi kenapa malah kesini? Apa calon istrinya adalah tetanggaku? Sehingga setelah melamar, sengaja mampir kesini. Untuk memberi kabar kepada keluarga ku.' gerutu Fatim kesal dalam hatinya.


"Fat, ayo." mamanya yang tadi hampir sampai sofa, kini kembali lagi dan menggandeng tangan anaknya.


Fatim mengulas senyum terpaksa, lalu berjalan menuju rombongan tamu. Ia duduk di dekat papanya. Sengaja ia membuang pandangan ketika Leon menatapnya.


Mereka sejenak berbincang-bincang. Tapi sepanjang pembicaraan, Fatim hanya menjawab singkat dan seperlunya saja.


Saat suasana sedikit hening, papa marco menyenggol lengan Leon, untuk segera menyampaikan maksud kedatangannya. Leon berdehem keras, dan menghirup nafas dalam-dalam sebelum mulai berkata.


"Ma-maafkan kami sebelumnya Om, Tante, Fatim. Jika kedatangan kami cukup mengganggu waktu kalian. Perkenankan saya untuk menyampaikan maksud kedatangan bersama rombongan keluarga saya.


Saya, datang kesini untuk melamar putri om dan Tante untuk menjadi istri saya."

__ADS_1


Ketiga pemilik rumah itu sangat terkejut dengan ucapan Leon. Bahkan karena terlampau terkejut, Fatim sampai menegang duduknya.


__ADS_2