Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
214. Menjadi baby sitter


__ADS_3

Grandpa dan grandma kini memasuki ambang pintu ruang tamu. Dimana anak dan cucunya masih berdiri di sana.


Mereka pun saling melepaskan rindu dengan berpelukan sangat erat. Setelah mengurai pelukan, kini keduanya beralih menatap Wulan yang tengah memangku bayinya.


"Honey." ucap grandma dengan wajah yang berbinar. Lalu merentangkan kedua tangannya, dan memeluk Wulan. Gadis itu membalasnya dengan merentangkan sebelah tangannya.


"Jadi ini buyut, grandma?" ucap wanita yang kulitnya mulai berkeriput itu. Sambil menowel dagu si bayi.


"Ayo, ma, pa. Kita masuk ke dalam dan duduk." ajak mommy Melati dengan lembut.


"Hem, baiklah. Ayo." balas grandpa.


Mereka pun berkumpul di ruang keluarga. Mommy ke dapur untuk meminta tolong pada asisten rumah tangganya. Membawa aneka minuman dan cemilan untuk mertuanya.


Tak berapa lama, setelah mommy balik dari dapur, asisten rumah tangganya datang membawa aneka cemilan. Seperti red Velvet, brownies, kurma, kacang serta minumannya jus mangga yang menyegarkan.


"Ayo, ma, pa. Dicicipi dulu makanannya." tawar mommy Melati dengan sopan.


Mereka pun mulai menikmati cemilan yang disediakan, sambil bercakap-cakap. Grandma pun meminta bayi Wulan. Karena ia ingin memangku nya sebentar.


Tapi jika wanita itu sudah berkata sebentar, maka dipastikan waktu untuk menunggunya, bisa dipakai untuk tidur. Meskipun begitu, mereka juga tidak mempermasalahkannya.


Suara mereka yang begitu berisik, membuat si gadis kecil menggeliat bangun. Bahkan wajahnya mulai memerah, dan akhirnya mulai menangis.


Grandma berusaha menenangkannya, tapi bayi itu semakin bertambah kencang menangis nya. Akhirnya ia mengulurkan nya pada Wulan. Agar bisa segera disusui.

__ADS_1


Wulan pun memberi kode pada suaminya. Bahwa ia ingin menyusui di kamarnya. Laki-laki itu paham, lalu berpamitan meninggalkan tamunya. Ia beranjak dari tempat duduknya, dan mendorong pelan kursi roda yang di pakai istrinya.


Karena khawatir tidak bisa menaiki tangga, keluarga mereka pun mengikutinya dari belakang.


Kini, mereka sudah sampai di kamar. Wulan terkejut, melihat di kamarnya sudah ada box bayi yang sangat indah. Dengan ukiran di setiap sisinya, dan dihiasi pita warna-warni.


Salman mendorong kursi roda itu mendekat ke arah box bayi.


"Apa kamu suka?"


"Suka sekali, mas." ucap wulan dengan wajah yang berbinar sambil memegang box bayi itu.


"Ini, kamu yang membelinya, mas."


"Tentu saja. Masa mau berhutang." kekeh Salman.


"Beberapa hari yang lalu, kita kan di rumah sakit. Tentu tidak tahu kapan datangnya kan? Tapi aku memang membelinya secara online." Wulan manggut-manggut mendengar penjelasan suaminya.


Bayi kecil itu kembali terisak, sehingga menyadarkan keduanya tentang tujuannya masuk ke kamar. Bergegas Wulan membuka kancing kemejanya, lalu mendekatkan kantung asi miliknya ke bibir bayinya.


Selama tiga hari di rumah sakit, Wulan memang berusaha agar bisa memberikan asi pada bayinya secara maksimal. Dan kini, ia sudah mulai terbiasa.


Benar apa yang dikatakan mama mertuanya. Hanya di awal saja merasakan sakit. Setelah itu, akan terbiasa dan tidak merasakan sakit sama sekali.


**

__ADS_1


Sore itu adalah kali pertama Salman akan memandikan bayinya. Ia mengecek suhu air yang pas digunakan untuk bayi yang baru lahir, mandi. Setelah itu, ia menyiapkan baju dan perlengkapan lainnya, diatas ranjang tempat tidurnya.


"Mandi dulu ya, sayang." ucap Salman, sambil membuka baju bayinya perlahan.


"Kamu yakin, mas. Bisa memandikan nya?" tanya Wulan sambil mengernyitkan dahi.


"In shaa Allah. Di coba dulu lah, baru tahu hasilnya kan."


Salman berlalu ke kamar mandi sambil menggendong bayinya. Sementara Wulan mengikuti langkah kaki suaminya dari belakang.


Salman mengusapkan air ke telapak kaki, paha dan perlahan naik ke atas tubuh bayi mungil yang ia pegang dengan hati-hati.


Setelahnya ia memasukkan bayinya sebentar ke bak mandi khusus bayi. Lalu mengangkatnya, dan mulai mengusapkan sabun serta segala aroma terapi ke tubuh bayinya.


Salman begitu telaten memandikan bayinya. Padahal ini adalah kali pertamanya. Wulan yang melihat dari balik pintu, juga mengulas senyum. Karena suaminya memang selalu bisa diandalkan dalam setiap suasana.


Setelah selesai memandikan, Salman membawa bayinya menuju ranjang tempat tidurnya. Wulan pun kembali mengikutinya, lalu duduk disamping bayinya.


Salman mengusap tubuh bayinya dengan minyak telon. Lalu memberinya bedak bayi, memakaikannya baju, dan terakhir membedong tubuh bayi mungil itu, agar hangat.


"Ya Allah, mas. Aku tidak menyangka, ternyata kamu sangat piawai sekali merawat bayi. Bisa hemat dong kita, tidak perlu menyewa jasa baby sitter." celoteh Wulan, dan terkekeh diujung kalimatnya.


"Hem, kamu baru menyadarinya ya. Aku juga bisa lho merawat kamu. Memandikan kamu seperti memandikan bayi kita. Gimana, apa kamu mau?" Salman menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum nakal. Yang membuat Wulan tersipu malu. Lalu memukul lengan suaminya.


❤️❤️

__ADS_1



__ADS_2