Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
64. Untuk melupakannya


__ADS_3

Di pagi yang sama, Wulan menggeliat sambil mengerjapkan matanya. Sorot matahari pagi yang samar-samar menembus jendela, membuat ia kesilauan.


"Sudah jam 7." gumamnya ketika melihat jam yang ada di handphonenya, lalu meletakkan benda pipih itu kembali di dekatnya.


Ia duduk sambil merentangkan tangannya, lalu menguap.


"Ini adalah hari pertama ku di Belanda. Sekaligus menjadi hari pertama aku belajar di kantor grandpa. Jauh dari orang-orang yang ku sayang, tidak boleh membuat ku merasa lemah. Aku harus kuat demi mereka." Wulan memotivasi dirinya sendiri.


Setelah itu ia turun dari ranjang tempat tidurnya menuju kamar mandi. Air dingin yang mengaliri tubuhnya menciptakan sensasi kesegaran yang berbeda dari biasanya.


Setelah puas mandi, bergegas ia mengganti pakaiannya yang cocok untuk di pakai ke kantor. Kemeja berwarna pink, blazer dan rok selutut berwarna nude, adalah setelan baju kerja yang pas untuk Wulan hari itu.


Tak lupa ia memoles wajahnya dengan make up tipis dan memoleskan lipstik berwarna nude di bibir tipisnya agar terlihat lebih segar. Rambut hitam lurusnya dibiarkan tergerai. Lalu menyemprotkan parfum di beberapa bagian tubuhnya. Setelah di rasa penampilannya sempurna, barulah ia menyambar tasnya dan segera keluar kamar menuju ruang makan.

__ADS_1


"Selamat pagi grandma, grandpa." sapa Wulan dengan senyum sumringah nya. Ia menghampiri keduanya, lalu mengecup pipinya silih berganti.


"Kamu terlihat bahagia sekali Wulan." grandma memperhatikan raut wajah cucunya dengan binar bahagia, begitu pula dengan grandpa.


"Karena kebahagiaan hidup kita yang menentukan grandma. Sebanyak apapun masalah yang kita hadapi, kita harus lebih bersyukur. Karena dengan kita bersyukur, maka Allah akan menambah nikmat dan kebahagiaan kita. Mengokohkan bahu kita dalam menghadapi ujian dari-Nya." ucap Wulan dengan santai. Ia mengambil sepotong roti dan memoles nya dengan selai.


Terkadang orang hanya bisa melihat senyum manis yang kita perlihatkan. Tanpa tahu kesedihan dan pahit getirnya kehidupan yang berusaha kita simpan dengan rapi di balik senyum itu. Seperti itulah yang Wulan jalani saat ini.


"Wulan, dari mana kamu belajar kata seindah itu?" tanya grandma dengan serius.


Wulan mendongakkan kepalanya, mulutnya terlihat penuh dengan makanan, dan bola matanya membulat. Ia baru menyadari jika salah dalam berucap. Apalagi sederet kalimat itu ia baca dari buku yang pernah ia pinjam dari Salman.


'Astaga, aku jauh-jauh kesini untuk melupakannya. Tapi kenapa tanpa sadar selalu ada hal yang mengingatkan tentang dirinya? Dia dan pemahamannya seperti tali tambang yang mengikat ku kuat. Tapi bagaimana pun caranya, aku harus bisa terlepas darinya, agar tidak sia-sia aku kesini. Dan tentunya membuat Daddy dan mommy kembali menyayangi ku.'

__ADS_1


Wulan melanjutkan kunyahan nya sampai makanan di mulutnya habis. Lalu meneguk minuman dan tak lupa menghirup nafas dalam-dalam, sebelum memberi penjelasan pada grandma dan grandpa. Sementara kedua orang sepuh itu tak sabar menunggu jawaban dari cucunya.


"Itu adalah kata-kata mutiara yang Wulan pelajari dari Google grandma, grandpa."


"Lantas kenapa kamu menyebut nama Tuhan kita tidak seperti biasanya?" kali ini grandpa yang bertanya.


"Oh itu... Wulan hanya terpleset saja mengucapkan nya grandpa."


'Oh maaf kan Wulan Tuhan, terlalu banyak kebohongan yang aku lakukan.' batin Wulan memohon.


Grandma dan grandpa tampak manggut-manggut, dan mereka kembali melanjutkan makan pagi mereka sambil bercakap-cakap mengenai pekerjaan.


Setelah selesai, Wulan dan grandpa berpamitan pada grandma. Mereka akan berangkat bersama menuju perusahaan grandpa yang terletak di pusat kota.

__ADS_1


__ADS_2