Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
217. Tiba di Indo


__ADS_3

Pagi hari, Fatim dan suaminya mengemasi pakaiannya dan beberapa perlengkapan lainnya. Tidak banyak mereka membawa barang-barang.


Karena di rumah Fatim, Leon juga masih memiliki simpanan baju. Toh, di Indo keduanya juga tidak akan lama.


Kedua orang tua Leon juga akan ikut. Karena mereka sudah menganggap Wulan seperti anak sendiri. Walaupun kenyataannya, Leon dan Wulan tidak berjodoh.


Setelah selesai packing, mereka segera istirahat. Karena mereka akan berangkat setelah sholat Maghrib.


**


Waktu Maghrib pun tiba. Setelah menyelesaikan sholat, mereka berangkat ke bandara dengan di antar oleh sopir keluarga papa Marco.


Sepanjang perjalanan, mereka terus memperbincangkan bayi. Karena mereka juga tidak sabar menanti kelahiran bayi dalam perutnya Fatim.


Akhirnya, mereka pun sampai di bandara. Melalui serangkaian pemeriksaan, barulah mereka diijim masuk ke dalam pesawat.


Keempat orang itu, duduk saling berhadap-hadapan. Dan Fatim lebih memilih duduk di dekat jendela. Agar bisa menikmati cahaya bintang dan bulan dengan lebih dekat.


Mungkin karena di rumah kebanyakan tidur, jadi saat diperjalanan, Fatim tidak bisa tidur lagi. Berbeda dengan suami dan kedua mertuanya, yang sudah terlelap.


Bahkan kepala Leon sampai bersandar di bahu Fatim. Wanita itu hanya menyunggingkan sedikit senyum, lalu membiarkannya.


Fatim tahu, semenjak membantu papanya di kantor, suaminya itu memang kerap kali lembur. Terkadang, jika pulang sore, ia tetap membawa pekerjaannya yang belum selesai ke rumah.


Fatim juga tahu, menjadi seorang pimpinan perusahaan itu memang cukup menyita waktu, tenaga dan pikiran. Oleh sebab itu, ia membiarkan suaminya istirahat lebih lama.

__ADS_1


**


Setelah melalui perjalanan panjang, akhirnya pesawat yang ditumpangi Fatim dan sekeluarga, landing di bandara dengan selamat.


Papa Adam dan mama Tiwi ternyata sudah menunggu anak dan keluarga besannya di tempat kedatangan. Mereka melambaikan tangan sambil tersenyum melihat Fatim dan keluarga mertuanya.


"Mama." pekik Fatim sambil memeluk mamanya erat. Ia menitikkan air mata, karena semenjak menikah, baru bisa bertemu sekarang.


Hal yang sama juga dirasakan mama Tiwi. Ia juga menitikkan air mata. Anak yang dulu dibesarkan dengan sepenuh hati. Kini telah tumbuh dewasa, dan sebentar lagi akan memiliki seorang anak.


Cukup lama keduanya berpelukan sambil melepas rindu. Setelah itu keduanya mengurai pelukannya.


"Perut mu sudah besar sekali, sayang." ucap mama Tiwi sambil mengusap perut anaknya yang sudah buncit. Terlihat menggemaskan sekali.


Setelah itu, giliran Fatim memeluk papanya. Papa Adam membalas dengan erat pelukan putri semata wayangnya.


Hal itu mengundang tawa keluarga mereka.


Kini giliran Leon yang menyalami dan memeluk mertuanya.


"Terima kasih, nak. Sudah menjaga anak mama dengan baik. Teruslah berbuat seperti itu ya. Tolong jangan pernah menyakitinya." Mama Tiwi mengusap pelan bahu menantunya, sambil menasehati.


"In shaa Allah, ma. Leon akan menjaga istri dan anak kami dengan baik. Doakan kami juga ya ma."


"Tentu, mama akan mendoakan mu." Mama Tiwi dan Leon pun saling mengurai pelukan.

__ADS_1


Setelah mengurai pelukan dengan mama Tiwi, Leon beralih memeluk papa mertuanya. Dokter yang masih cukup muda itu memeluk sambil menepuk bahu menantunya.


"Kamu bisa menjaga anak papa kan?"


"Tentu bisa, pa. Papa lihat sendiri kan, badan Fatim sampai gemuk gitu."


"Sembarangan. Aku bukan gemuk. Tapi baru hamil. Bukan kah kak Leon juga yang membuat ku jadi begini." Fatim memukul lengan suaminya, lalu mengerucutkan bibirnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Ampun sayang. Lidah ku cuma terpeleset sedikit." ucap Leon sambil meringis, dan mengusap lengannya.


"Kalian ini." gumam mama Margareth sambil geleng-geleng kepala.


Mama Margaretha mendekat ke arah besan perempuannya, lalu berpelukan erat. Begitu juga dengan papa Marco yang mendekat ke arah besan laki-lakinya. Kedua laki-laki itu juga berjabat tangan dan berpelukan.


Setelah mengurai pelukan dan berbincang sejenak, mereka berjalan menuju mobil yang terparkir. Karena sudah lama tidak bertatap muka langsung, di dalam mobil, mereka pun kembali melanjutkan perbincangan.


Hingga tak terasa mereka sudah tiba dikediaman papa Adam. Mereka keluar dari mobil sembari menggeliat. Meregangkan otot-otot tubuh, karena sekitar dua belas jam mereka duduk dalam pesawat, dan juga dalam mobil.


Setelah masuk rumah, mereka langsung menjatuhkan diri di sofa ruang keluarga, sambil membuang nafas kasar.


"Sis, kamar telah kami persiapkan. Sis dan suami bisa segera beristirahat." ucap mama Tiwi, pada besannya.


"Terima kasih ya. Maaf jika kedatangan kami cukup mengganggu." timpal mama Margareth.


"Tentu tidak. Kami justru sangat senang, kalian bisa menginap disini. Pasti suasana rumah akan semakin ramai. Iya kan, pa." mama Tiwi menoleh ke arah suaminya. Laki-laki itu terlihat menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Benar apa kata Istriku. Nikmati saja berada di Indo. Anggap saja ini sebagai waktu liburan. Jadi harus dibuat sesenang mungkin." ucap papa Adam dengan santai.


"Baiklah. Terima kasih sekali, Dam." timpal papa Marco.


__ADS_2