Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
251. Saran papa dan mama


__ADS_3

"Jangan, mas. Tidak usah, aku malu. Masa hal seperti itu mau tanya ke mama."


"Tapi, aku kasian lho kalau lihat kamu seperti itu."


"Sudah, tidak apa-apa. Mungkin ibu menyusui lainnya juga merasakan hal yang sama seperti yang apa yang aku rasakan. Ayo kita tidur sekarang."


Wulan menepuk pelan tempat tidur, yang ada disamping bayinya. Salman pun mengikuti apa yang diperintahkan istrinya.


Mereka tidur miring dan menghadap ke bayi mereka yang terletak di tengah-tengah.


"Pelukan yuk, biar kayak Teletubbies." Ajak Salman sambil tersenyum. Wulan pun membalasnya dengan hal yang sama.


Tak lama kemudian, Salman sudah terlelap. Karena aktivitasnya yang padat seharian ini. Berbeda dengan Wulan, yang justru belum bisa tidur. Ia merasakan dadanya kian sakit.


Sebenarnya saat menghadiri acara aqiqah tadi, ia sudah merasakannya. Tapi ia tahan sampai acara selesai, karena tidak enak jika harus pamit duluan. Sedangkan duduknya di depan.


Ia semakin gelisah, hingga tidurnya serong kanan kiri. Lalu dengan terpaksa membuka kancing bajunya dan perlahan mendekatkan ASI-nya pada mulut bayinya.


Beruntung sekali bayi cantiknya mau menyesap. Ia berharap bisa mengurangi rasa sakitnya. Tapi sampai bayinya gumoh, belum juga rasa sakitnya berkurang. Hingga ia mulai terisak.


Salman mengerjapkan matanya, karena seperti mendengar suara isakan.


"Kamu menangis sayang?"


Salman langsung terduduk dan memperhatikan mata istrinya yang sembab. Namun Wulan menggelengkan kepalanya, sambil masih tetap menyusui bayinya.


"Mana baby Maryam. Kamu jangan menangis atau bersedih saat menyusui. Itu tidak bagus untuk ikatan batin kalian berdua. Pasti rasa sedih mu juga menular ke baby kita."


Tangan Salman terulur hendak mengambil bayinya. Namun matanya membulat melihat ke arah dada Wulan yang padat.


"Apa dada mu masih terasa sakit?"

__ADS_1


"Sangat." Lirih Wulan.


"Tunggu sebentar."


Salman beranjak dari tempat tidurnya, lalu secepat kilat keluar kamar. Bahkan Wulan tidak sempat untuk mencegahnya.


Tak lama kemudian, Salman sudah sampai di depan pintu kamar mama nya. Sebenarnya ia ragu untuk membangunkan kedua orang tuanya, tapi ini benar-benar dalam keadaan emergency. Ia menghirup nafas, lalu mengetuk pintu kamar mamanya.


Mendengar ketukan yang beraturan, membuat mama Laura kebrisikan. Sehingga mau tak mau ia bangun juga.


Papa Reyhan yang juga mendengar ketukan itu, ikut terbangun. Ia mengerjapkan matanya, lalu berjalan menyusul istrinya.


"Ada apa sih, ma?"


"Mama juga ngga tahu, pa. Seperti orang nagih hutang saja. Tidak sabaran." Sungut mama Laura kesal.


"Salman." Ucap mama dan papa bersamaan.


"Ada apa malam-malam seperti ini membangunkan orang tua?"


"Itu, ma."


Salman menarik pergelangan tangan mamanya, agar menjauh dari papanya. Ia mendekat ke arah telinga mamanya dan mulai berbisik.


"Dada Wulan sakit, ma. Tadi Salman lihat, sangat besar dan terlihat keras. Bahkan ASI-nya sampai merembes keluar."


"Hah? Serius?"


Mama menoleh pada Salman. Lalu anaknya itu pun mengangguk.


Papa Reyhan memperhatikan anak dan istrinya yang tengah berbisik, dengan penasaran.

__ADS_1


"Tapi jangan bilang-bilang papa, ma. Nanti punya Wulan di lihat lagi." Imbuh Salman dengan suara yang masih berbisik. Mama Laura menoyor kepala anaknya sambil melotot.


"Mama juga punya sendiri. Tidak kalah besar dengan punya Wulan." Seru mama emosi.


"Hihihi, maafkan Salman ma."


"Tidak kalah besar dengan punya Wulan? Hei, apaan sih yang kalian bicarakan? Bikin papa penasaran saja." Protes papa. Namun Salman dan mama sepertinya tidak mengindahkan pertanyaan papa Reyhan.


"Di pompa saja, lalu dimasukkan ke botol dot."


"Pompa yang di pakai untuk tambah angin itu ya ma?"


Sekali lagi mama menoyor kepala anaknya. Karena pertanyaannya sungguh tidak bermutu.


"Mana bisa pompa ban untuk memompa dada istrimu? Aneh-aneh saja. Maksud mama ya pakai pompa khusus untuk ASI lah. Punya tidak? Kalau tidak ya beli dulu ke apotik."


"Oh, baik ma. Salman ke apotik dulu. Tolong jagain Wulan ma."


Salman berlari mengambil kunci yang terletak di atas meja. Sedangkan mama Laura berjalan menuju kamar menantunya. Papa Reyhan yang bingung dan belum paham dengan situasi yang terjadi, mengikuti langkah istrinya.


"Ma, ada apa sih? Kenapa tadi papa dengar ada pompa segala?"


"Mirip seperti mama dulu. Dadanya bengkak karena kelebihan ASI."


"Kenapa mama ngga saran kan anak kita untuk menyedot ASI-nya Wulan?"


Mama Laura menghentikan langkahnya, lalu menatap suaminya.


"Mama tidak kepikiran tuh. Mama kan otaknya lurus, ngga mudah belok ke hal yang kayak gituan." Setelah berkata seperti itu, mama melanjutkan langkahnya.


"Halah, dulu mama juga seneng. Malah minta tambah." Goda papa mengingatkan istrinya pada masa lalunya dulu.

__ADS_1


"Papa." Mama Laura melotot ke arah papa Reyhan. Suaminya itu hanya meringis dan berjalan duluan menuju kamar anaknya.


__ADS_2