
"Apa kamu ngga takut jika suatu saat kamu akan terwarnai oleh pemahaman ku?"
Sebuah pertanyaan yang sulit untuk di jawab Wulan. Jantungnya kembali berpacu dengan cepat.
Tidak mungkin ia menggadaikan keyakinannya atas nama cinta. Terlebih jika kedua orang tuanya tahu akan hal itu, ia tak dapat membayangkannya.
Tapi bagaimana dengan urusan hati yang tak bisa dipaksakan?
Kenapa, harus ada dinding pembatas yang memisahkan kita?
Dilema kembali menghantui Wulan. Ternyata kenyataan yang harus ia jalani bagai percikan cahaya kembang api. Yang tidak bisa bertahan lama.
"Aku, tidak bisa menjawabnya sekarang kak. Wulan hanya sekedar mengikuti arus kehidupan."
Hening diantara keduanya, sampai akhirnya Salman berbicara. Karena merasa tak enak sudah membuat gadis dihadapannya tertunduk sedih.
"Ayo ambil buku lagi, mana yang kamu suka ambil saja."
__ADS_1
Wulan pun mengangguk lalu bangkit berdiri menuju rak buku. Ia mengamati satu persatu buku sebelum akhirnya membukanya. Lalu meletakkan di atas meja. Setelahnya ia kembali ke rak dan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya.
Ia mengernyitkan dahi ketika terselip buku yang cukup aneh baginya di antara buku bisnis. Karena di dorong rasa penasaran yang besar, akhirnya ia membukanya lalu membaca deretan kalimat yang membuatnya takjub.
'Pantas saja di setiap perkataannya selalu mampu membuat ku takjub dan menuntut ku untuk berpikir.'
Ia memutuskan untuk memasukkan buku itu ke dalam tasnya terlebih dahulu, agar tidak di ketahui Salman.
Setelahnya ia kembali mengamati buku dalam rak dan mencari buku yang isinya kurang lebih sama dengan yang ia temukan tadi.
Matanya kembali berbinar ketika di sebuah rak terdapat buku yang isinya kurang lebih sama dengan buku pertama yang ia temukan tadi.
Gadis itu segera mengambil beberapa buku itu dan menyelipkan di antara buku bisnis yang dia ambil.
"Kak, minta tolong ambilkan plastik boleh?" sengaja Wulan menyuruh Salman untuk mengambil plastik, agar tak ketahuan sudah mengambil buku apa saja.
Salman bangkit berdiri dan berjalan keluar mencari plastik untuk Wulan. Lalu gadis itu segera meletakkan bukunya di atas meja dan merapikan terlebih dahulu.
__ADS_1
Tak berselang lama, Salman sudah kembali membawa plastik besar.
"Bukain sekalian dong kak." pinta Wulan, Salman pun kembali menuruti permintaannya. Dan gadis itu memasukkan bukunya dengan hati-hati agar tidak ada yang jatuh. Yang bisa mengundang kecurigaan Salman.
Seulas senyum terbit di wajah Wulan ketika semua buku sudah dimasukkan ke dalam plastik. Ia pun bernafas dengan lega. Lalu ia kembali meneguk minumannya.
"Berapa hari kamu akan mengembalikan buku sebanyak ini?"
"Dibaca saja belum, sudah tanya kapan mengembalikannya." balas Wulan santai.
"Meminjam barang itu ada akadnya(perjanjian). Jika kamu bilang akan mengembalikan dalam waktu sebulan, ya dalam tempo sebulan harus dikembalikan. Jika dalam waktu sebulan belum bisa mengembalikannya, kamu harus menghubungi si pemberi pinjaman untuk meminta tambahan waktu lagi."
Wulan takjub mendengar setiap ucapan Salman.
"Baiklah, setelah setahun buku ini akan ku kembalikan."
"Apa! Setahun?" ulang Salman karena terkejut. Wulan terkikik geli melihat ekspresi Salman yang dianggapnya lucu itu.
__ADS_1
❤️❤️