
Setelah makan malam, Daddy seperti biasanya memasuki ruang kerjanya. Ia duduk termenung sambil memikirkan ucapan Leon.
"Honey, kenapa kamu melamun?" tiba-tiba mommy Melati sudah di samping Daddy.
Ia meletakkan kopi hitam yang masih mengepulkan asap panasnya. Lalu melingkarkan tangannya di bahu suaminya.
Begitulah keduanya yang selalu menjaga keharmonisan dan keromantisan meskipun usia sudah tidak muda lagi.
Marquez menoleh menatap wajah teduh istrinya sembari masih memikirkan perkataan Leon tadi.
"Aku hanya memikirkan pekerjaan honey."
"Sungguh, cuma itu?"
Marquez mengangguk.
"Tapi sepertinya kamu menyembunyikan sesuatu honey." mommy Melati duduk di pangkuan suaminya dan masih menatapnya.
__ADS_1
"Okay, aku mengalah, aku tak bisa menyembunyikan apapun darimu honey." balas Marquez sambil melingkarkan tangannya di pinggang mommy.
Ia pun menceritakan semuanya tentang yang dibicarakan Leon saat makan siang tadi. Melihat suaminya terbuka, mommy pun juga ikut terbuka.
Ia menyampaikan apa yang ia ketahui beberapa hari terakhir soal Wulan. Karena semua menyangkut masa depan putrinya, maka harus dibicarakan secara baik-baik.
Daddy Marquez menghela nafas panjang, menyadari perbuatan putrinya. Lalu ia pun mengatakan soal usul Leon, yang menyarankan agar Wulan bekerja di kantor papanya di Belanda.
Tentu saja hal itu membuat mommy Melati terkejut dan langsung menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju. Ia tak ingin jauh dari anak satu-satunya.
Mommy menundukkan pandangannya. Ia tak bisa membayangkan sebuah perpisahan itu.
Tanpa mereka sadari, Wulan mendengar semua percakapan orang tuanya. Ia berdiri di balik dinding dengan perasaan yang hancur.
Ternyata kisah cintanya tak semudah membalikkan telapak tangan. Di tambah perbuatan Leon, yang dianggap sebagai temannya sejak kecil yang telah menghasut Daddy nya agar pergi dari Indo. Kini ia membenci laki-laki itu.
Air matanya menggenang di pelupuk mata dan siap untuk tumpah. Map yang ia pegang juga tak sengaja jatuh.
__ADS_1
Hingga akhirnya suara yang ditimbulkan oleh benda itu terdengar sampai dalam ruang kerja Marquez. Mommy dan Daddy sejenak saling beradu pandang, lalu bangkit berdiri dan segera berjalan keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Alangkah terkejutnya keduanya, ketika melihat Wulan yang berlari kecil menjauh dari ruangan kerja Daddy nya. Saat itulah perasaan keluarga itu sama-sama hancur.
Kenapa cinta yang sejatinya membuat bahagia setiap orang justru harus menorehkan luka?
Mommy segera mengejar Wulan yang berjalan dengan langkah cepat menaiki anak tangga.
"Wulan, tunggu mommy genduk ayu." namun Wulan tak mengindahkan ucapan mommy nya.
Wulan semakin mempercepat langkahnya dan berhasil masuk ke kamarnya, tak lupa ia mengunci pintu kamarnya. Ia terisak menangisi jalan hidupnya yang tak semulus jalan tol.
"Wulan, buka pintunya genduk ayu." teriak mommy sambil menggedor pintu kamar Wulan, namun gadis itu tetap tak menjawab dan justru tangisnya semakin pecah.
"Benar kah aku telah mencintai kak Salman dengan segenap jiwa dan raga ku? Kenapa sakitnya semakin terasa ketika kedua orang tua ku menentangnya? Padahal kak Salman belum tentu juga mau menerima ku menjadi pacarnya, kenapa aku harus tinggal terpisah dengan kedua orang tua ku?" ratap Wulan disertai lelehan air mata.
"Tuhan, aku tak kuat menjalani skenario hidup ini."
__ADS_1