Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
153. Antusiasme Marco


__ADS_3

Karena terlalu gemasnya melihat laki-laki yang berdiri dihadapannya, yang terus menghisap batang rokok, akhirnya Marco menekan batang rokok itu hingga masuk ke dalam mulut laki-laki tadi. Sehingga membuatnya tersedak dan beberapa pengawal serta orang-orang yang melihatnya terkikik geli.


"Hei! Kenapa kalian justru menertawakan ku?" sentak ayah laki-laki bertato tadi, pada anak buahnya.


"Itu belum seberapa. Aku bisa melakukan yang lebih dari ini jika kamu mau." tegas Marco.


Ia memang memiliki anak buah dan kekuasaan. Tapi tak pernah memperlihatkan pada orang lain.


"Hei, bule. Apa mau mu? Ganti rugi?" laki-laki tadi mulai menatap wajah Marco dengan serius. Marco pun menoleh ke arah Adam, karena ia tahu ada sesuatu hal yang direncanakan olehnya.


Adam pun mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Marco. Dan papanya Leon terlihat membulatkan matanya. Tak lama kemudian ia mengangguk setuju.


"Tentu saja aku berhak menerima ganti rugi dari mu. Tapi, tidak hanya itu saja. Aku ingin kamu meminta maaf padaku. Dan aku juga ingin anakmu meminta maaf pada anakku. Biarkan anakmu menjalani hukumannya agar menyadari kesalahannya. Jika ketahuan kamu membebaskannya, maka aku sendiri yang akan bertindak." tegas Marco.


"Aku tidak akan meminta maaf pada siapa pun juga. Begitu juga dengan anakku. Dan asal kamu tahu, hidup di sel tahanan atau di rumah, sama saja. Karena kami mendapatkan fasilitas yang berbeda di sini."


"Okay, jika kamu tetap kukuh dengan pendirian mu. Siap-siap menerima kejutan dari ku."


Pihak yang berwajib melihat ketegangan itu tanpa bisa melerainya. Karena tahu laki-laki dihadapannya punya kuasa.


Marco dan Adam berlalu keluar dari ruangan itu. Saat keduanya kembali menuju ke rumah sakit, terlihat Marco tengah sibuk dengan handphonenya. Setelahnya menoleh pada Adam.


"Kenapa disini orangnya terlalu mementingkan kekuasaan?"

__ADS_1


"Karena kurangnya iman di hati mereka. Jika mereka memiliki iman, tentu kekuasaan bukanlah hal yang utama.


Bahkan ketika diberi kekuasaan, harusnya ada rasa takut di hati mereka, jika tidak bisa menjalankan dengan baik amanah yang diberikan.


Penjara itu adalah tempat mereka beristirahat. Setelah keluar dari penjara, kebanyakan mereka akan berbuat ulah lagi.


Aku lebih suka jika mereka itu dimasukkan ke pondok pesantren agar di bina langsung oleh ustadz yang berpengalaman." jelas Adam.


"Bagaimana suasana di pondok pesantren itu?" kali ini amarah di hati Marco perlahan meredam. Dan ia tertarik dengan ucapan Adam tentang pondok pesantren.


"Setiap hari mereka bangun pagi. Mandi pagi dengan menggunakan air dingin yang in shaa Allah baik untuk tubuh. Dalam ilmu kedokteran juga telah membuktikan hal itu.


Mereka belajar untuk hidup mandiri.


Karena setiap ayat dalam Al-Qur'an itu tidak turun bersamaan. Tapi satu persatu dan tidak urut. Ayat-ayat itu turun ketika Rasulullah mengalami suatu masalah yang belum ada solusinya.


Ada juga ayat yang turun sebagai teguran.


Mengamalkan doa dan adab-adabnya dalam kehidupan sehari-hari.


Misalnya, kita menggunakan anggota badan sebelah kanan untuk melakukan kebaikan, dan menggunakan anggota badan sebelah kiri untuk melakukan aktivitas yang kurang sopan.


Bahkan ketika kita keluar masuk kamar mandi pun, ada adabnya. Masuk dengan mendahulukan kaki kiri, dan keluar mendahulukan kaki kanan. Selama di dalam kamar mandi kita juga dianjurkan untuk diam.

__ADS_1


Eh, maafkan aku. Terlalu banyak membicarakan soal pemahaman ku." papa Adam menggaruk kepalanya yang tak gatal, karena merasa tak enak, Marco terus menatapnya.


"Em, ti-tidak apa-apa. Kamu cerita saja. Aku akan mendengarkannya. Selama ini aku menghabiskan waktuku untuk membicarakan soal bisnis dan bisnis."


Marco juga merasa tidak enak pada Adam, karena ketahuan terlalu serius menatapnya.


Tapi ia memang penasaran, pada ajaran yang membuat tetangganya sekeluarga memutuskan menjadi seorang mualaf.


Ia bertanya-tanya dalam hati, kenapa sampai hal itu bisa terjadi. Padahal setahu Marco, keluarga Marquez adalah orang yang taat beribadah.


Adam pun kembali bercerita pada Marco mengenai hal-hal kecil tapi penting dalam keyakinannya. Laki-laki bule itu semakin tertarik mendengar ceritanya. Hingga tak sadar, keduanya sudah tiba di pelataran rumah sakit.


"Tuan Marc, kamu tidak mau turun?" Marco menoleh ke sekitar dan mendapati dirinya sudah berada di rumah sakit.


"Iya, a-ayo kita turun." ucapnya terlihat salah tingkah.


Adam tersenyum tipis melihat kelakuan bule di hadapannya. Bisa mengeluarkan kemarahannya dalam sekejap, dan bisa melunak dalam sekejap.


'Semoga Allah berkenan memberi hidayah padamu tuan Marco.' bisik Adam dalam hati.


Keduanya jalan bersamaan menuju kamar Leon. Sesampainya di sana, keduanya terkejut ketika melihat Fatim masih memijit kaki Leon.


"Leon. Apa-apaan kamu. Menyuruh anak Adam memijit kakimu? Tidak sopan."

__ADS_1


Fatim terkejut ketika melihat papanya datang. Refleks ia menarik tangannya dari kaki pria bule itu.


__ADS_2