
"Assalamu'alaikum." Ucap Leon sambil melenggang masuk ke rumah kakek Somad.
Mendengar suara suaminya, Fatim bergegas menyongsong kedatangannya.
"Wa'alaikumussalam. Kakak dari mana?"
Dengan senyum mengembang, Leon memperlihatkan apa yang ia bawa pada istrinya.
"A-apa itu?" Fatim mengernyitkan dahi melihat kantung kresek yang dibawa suaminya.
"Dari mana kamu, Leon?" Belum juga Leon menjawab pertanyaan istrinya, kakeknya sudah bertanya.
"Kita duduk dulu, kek." Leon mengajak mereka duduk di kursi ruang tamu.
Mereka pun menuruti apa kata Leon. Setelah semua duduk, barulah Leon meletakkan apa yang ia bawa tadi di atas meja.
"Kek, Leon titip ini ya. Gunakan untuk merenovasi masjid menjadi bangunan yang lebih kokoh, besar dan nyaman. Agar semakin banyak orang yang bersemangat datang ke masjid, untuk beribadah.
Nanti kalau kurang, kakek telepon Leon saja. In shaa Allah, kekurangannya akan Leon berikan. Jika masih ada di Indo, Leon akan mengantarkan kesini, sambil melihat-lihat. Tapi jika Leon sudah pulang, mungkin bisa Leon transfer kekurangannya."
Berdebar hati kakek, mendengar apa yang diucapkan Leon. Tidak percaya rasanya, melihat karung dihadapannya, yang ditafsir berisi uang.
"Apa ini uang?" Tanya kakek Somad dengan polosnya, sambil menatap barang yang ada dihadapannya.
"Bukan kek, itu daun. Buka saja." Balas Leon sambil nyengir.
Fatim yang melirik ke arah suaminya, lalu mendengus kesal dan geleng-geleng kepala. Bisa-bisanya bercanda dalam keadaan seperti itu.
Perlahan tangan kakek terulur, membuka kantung kresek yang diletakkan di atas meja. Dan, mulutnya menganga melihat isinya benar-benar uang.
"Apa kamu habis merampok?" Celetuk kakek.
Leon menelan saliva sambil mencebikkan bibirnya. Enak saja, dikatakan dirinya rampok.
__ADS_1
"Bisa di bilang begitu kek." Balas Leon santai.
"Apa! Uang hasil dari rampok, kamu pakai untuk bersedekah? Mana berkah? Yang ada justru masjidnya roboh dalam sehari."
Leon terkekeh mendengar ucapan kakek Somad. Rupanya pria sepuh itu menelan bulat-bulat ucapannya. Mungkin karena efek nervous ketika melihat banyak uang.
"Leon sudah tahu kali kek, kalau sedekah pakai uang haram itu sia-sia. Lagian mana mungkin aku melakukannya. Itu uang hasil kerja ku kek. Biar banyak asal berkah. Begitu kan?"
"Hem, kamu berani-beraninya bercanda sama orang tua." Keluh kakek, sambil geleng-geleng kepala.
"Maaf, kek. Biar tidak cepat tua." Balas Leon sambil cekikikan.
"Itu totalnya ada enam ratus juta, kek. Kalau tidak percaya, bisa dihitung dulu." Imbuhnya lagi.
"Nanti saja, kita sarapan pagi dulu. Ayo kita ke belakang. Uangnya kakek taruh di kamar dulu ya."
Fatim berjalan ke dapur, sedangkan Leon menggelar tikar di depan tv. Tak lama kemudian, Fatim dan nenek sudah kembali sambil membawa nasi dan sayur.
**
Sudah dua Minggu keluarga Leon, berada di Indo. Malam itu mereka tengah bersiap-siap untuk untuk pulang ke Belanda. Karena mereka akan berangkat pada esok hari.
Setelah selesai, keduanya naik ke atas ranjang dan bercerita sebelum tidur. Keduanya saling mengungkapkan rasa bahagianya, selama tinggal di Indo.
Tidak hanya mengunjungi bayinya Wulan saja, tapi juga perasaan senang bisa membantu merenovasi masjid.
Ketika mengetahui Leon lah yang menyumbangkan uang sebanyak itu, masyarakat di desa kakek Somad, mendatanginya di kediaman kakek untuk mengucapkan terima kasih padanya.
Leon tidak menyangka, jika hal kecil yang ia lakukan begitu menuai reaksi yang luar biasa padanya. Hal itu bukannya menjadikan dia sombong.
Tapi justru semakin bersemangat untuk terus melakukan kebaikan. Agar bisa melihat orang-orang disekitarnya bahagia.
Malam kian larut, tidak ada yang tahu siapa yang tidur duluan di antara Fatim dan Leon. Hingga tiba-tiba Fatim sudah terbangun karena ingin pipis.
__ADS_1
Ibu hamil itu pun beranjak dari tempat tidurnya. Dan dengan langkah gontai berjalan menuju kamar mandi.
Setelah menyelesaikan hajatnya, ia berjalan keluar dari kamar mandi dengan langkah masih gontai.
Hingga tak sadar kakinya menginjak bekas sabun, yang digunakan untuk membersihkan diri. Matanya melebar dan ia memekik kesakitan.
"Arghh... Kak Leon."
Leon tergeragap bangun, mendengar suara jeritan istrinya. Ia menoleh ke samping dan tidak melihat ada istrinya di sampingnya.
Dengan terburu-buru ia menyingkap selimut yang ia kenakan, lalu berlari menuju kamar mandi.
"Fatim." Seru Leon, yang berdiri di ambang pintu dan melihat istrinya sudah terduduk di lantai.
Wajahnya menyiratkan jika tengah menahan sakit. Bergegas Leon menghampirinya.
"Ss-sakit kak."
Fatim mendesis kesakitan, sambil memegang perutnya. Leon sangat panik melihat hal itu.
"Tenanglah, aku akan memanggil papa dan membawa mu ke rumah sakit."
Leon mengangkat tubuh Fatim, dan meletakkannya pelan-pelan di tempat tidurnya. Lalu ia segera berlari menuju kamar mertuanya.
"Papa, mama. Cepetan bangun. Fatim terjatuh di kamar mandi." Teriak Leon sambil menggedor pintu kamar mertuanya.
Setelah sekian menit, akhirnya pintu kamar mertuanya terbuka.
"Ada apa Leon?" Tanya mama Tiwi sambil membenarkan letak jilbabnya.
"Fatim, Fatim terpleset di kamar mandi ma."
"Apa!" Seru mama sambil melebarkan matanya.
__ADS_1