Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
49. Keputusan Wulan


__ADS_3

Hampir seminggu Wulan melakukan aksi tak keluar kamar. Mandi pun jika ia ingat. Yang dilakukan sepanjang hari hanyalah menangis dan menangis.


Mommy semakin khawatir dengan keadaannya. Ia mengadukan hal itu pada suaminya. Lalu suaminya, yang juga capek memikirkan anak satu-satunya bercerita pada Leon.


Leon yang masih tinggal di Indo terus menyemangati Marquez agar segera mengirim Wulan ke Belanda. Siapa tahu disana ia bisa dengan mudah melupakan Salman.


Sepulang kerja, Marquez pun bicara pada istrinya segera merealisasikan rencananya. Mommy mengangguk sedih, lalu pergi ke kamar Wulan.


Tok...Tok....Tok


Mommy mengetuk pintu beberapa kali, tak lama kemudian pintu terbuka. Seraut wajah Wulan yang semakin kusut dan tak seindah bulan purnama kembali muncul, yang membuat mommy merasa semakin iba.


"Boleh mommy masuk genduk ayu?"


Wulan tidak menjawab tapi ia berjalan meninggalkan mommy nya menuju jendela kamar tanpa menutup pintunya. Yang artinya mengijinkan mommy nya untuk masuk.

__ADS_1


"Maafkan mommy genduk ayu. Mommy tidak bisa mencegah keputusan Daddy untuk mengirim mu ke luar negeri." ucap mommy yang duduk di tepi ranjang tempat tidur Wulan. Namun gadis itu masih belum menunjukkan reaksinya hingga beberapa menit berselang.


Terdengar deru nafas lemah dari kedua wanita beda usia itu. Sampai akhirnya Wulan membalikkan tubuhnya.


"Baiklah mom, jika itu menjadi keputusan akhir Daddy, terpaksa Wulan mengikutinya."


Mommy mendongakkan kepalanya menatap wajah anaknya, lalu memeluk nya.


"Terima kasih genduk ayu. Mommy yakin, suatu saat kamu akan menemukan seseorang yang terbaik dalam hidup mu. Yang bisa membimbing dalam jalan kebaikan." ucap mommy sambil terisak dan mengusap lembut punggung anaknya.


Wulan hanya bisa mengaminkan doa tulus yang keluar dari bibir orang yang telah melahirkannya.


Terkadang kita berada di atas, terkadang kita berada di bawah.


Terkadang kita merasakan manis, indah dan bahagia dalam kehidupan. Namun tak urung kita perlu melewati pahit, pedih, perih dan tersiksa dalam sebuah perjalanan hidup.

__ADS_1


Semua rasa itu akan berbuah manis dan mendatangkan kebaikan untuk kita kembali, jika kita sebagai manusia ikhlas melewatinya.


Seperti yang dilakukan Wulan. Gadis itu tidak menyerah, tapi lebih memasrahkan kehidupan nya pada Tuhannya. Ia berusaha ikhlas menjalani takdir yang memang harus ia jalani selama ia masih bernafas.


**


Pada malam harinya, saat jam makan malam, keluarga Daddy telah berkumpul dalam formasi yang lengkap mengelilingi meja makan.


Sore harinya tadi, mommy memang telah lebih dulu memberitahu suaminya soal keputusan Wulan. Dan Daddy sangat senang mendengar kabar itu. Kini ia tinggal mengulang. Wulan diam sambil menyimak baik-baik ucapan daddy-nya.


Semua urusan keberangkatan Wulan akan di urus oleh asisten Daddy Marquez. Ia juga meminta pada asistennya untuk mengurus keberangkatan Leon, karena lelaki itu juga akan kembali ke negeri asalnya. Sekarang tinggal menunggu kabar dari asistennya saja.


Tak ada pembicaraan lain saat makan, selain tentang keberangkatan Wulan dan apa saja yang Wulan akan lakukan di negara Kincir Angin.


Setelah menyelesaikan makannya, Wulan kembali ke kamarnya. Ia kembali duduk di dekat jendela sembari melihat pemandangan di luar yang penuh dengan kelap-kelip lampu di antara gelapnya malam.

__ADS_1


"Aku harus mengembalikan buku kak Salman sebelum pergi jauh. Karena aku tak mau punya hutang padanya. Hutangku saja yang kemarin sudah cukup banyak." gumam Wulan.


Ia meraih handphonenya yang tergeletak di atas meja lalu mengirim pesan pada laki-laki itu. Setelahnya ia menyiapkan semua buku-buku yang telah ia pinjam di atas meja, dan mengeceknya satu persatu, agar tidak ada yang terlewatkan. Setelah semua beres, barulah ia beranjak tidur.


__ADS_2