
"Genduk ayu, mommy. Jaga dirimu baik-baik ya. Belajar jadi istri yang baik. Kamu pasti bisa. Simpan baik-baik kekurangan suami. Jangan sampai ada orang lain yang mengetahuinya." nasehat mommy pada Wulan.
"In syaa Allah, mom. Wulan akan menjalankan nasehat mommy."
Pasangan ibu dan anak itu saling berpelukan. Lalu giliran Daddy Marquez, grandpa dan grandma yang memeluk dan menasehati cucunya.
Mereka tampak menitikkan air mata. Rasa haru dan sedih bercampur menjadi satu.
"Titip putri saya ya, sis. Kalau dia belum bisa menjadi menantu yang baik. Tolong didik dia pelan-pelan. Atau sis bisa beritahu kami. Agar kami bisa menasehatinya." ucap mommy Melati pada mama Laura.
"In shaa Allah kami akan menjaga dan mendidiknya pelan-pelan. Karena sejak saat ini kami telah menganggap Wulan seperti anak kami sendiri."
"Terima kasih atas perhatiannya. Saya pamit." Kedua wanita cantik itu saling berpelukan.
**
Sementara itu, saat jalan menuju parkir mobil, Leon tak henti-hentinya menatap ke arah Fatim. Hingga tak sadar mobil siapa yang akan ia masuki. Menyebabkan sirine mobil berbunyi nyaring. Seketika itu pula ia sadar telah melakukan kesalahan. Dan menepuk jidatnya.
Fatim menoleh ke sumber suara, dan melihat Leon tengah meringis menahan malu.
'Ternyata bule itu kelakuannya sungguh di luar akal sehat.' batinnya sebelum masuk ke mobilnya.
Sedangkan mama Margareth segera menghampiri anaknya.
"Kamu apa-apaan sih. Masa bisa lupa sama mobil sendiri."
__ADS_1
"Maaf, mam." Leon berjalan mengekor mamanya yang masuk ke dalam mobil yang ia tumpangi tadi.
Keluarga Marquez memang telah menyiapkan mobil khusus untuk keluarga Leon, ketika mereka berkunjung ke Indo.
"Kamu cinta dengan gadis tadi?" celetuk papa Marco, saat sudah berada di dalam mobil. Sedangkan Leon justru terkekeh.
"Kenapa papa bisa bicara seperti itu? Dia itu bukan selera Leon, kok."
"Hati-hati lho kalau bicara. Karena ucapan kita adalah doa." imbuh mama Margareth.
"Mama. Seperti ustadz nya tadi saja gaya bicaranya." ucap Leon.
"Eh, tapi kalau dipikir-pikir benar juga sih, Le. Tiap mama bicara sesuatu, akhirnya jadi kenyataan. Jadi mulai sekarang mama harus belajar mengolah emosi nih. Biar kalau bicara ngga kelewatan."
**
Setelah acara pernikahan selesai di gelar. Kini saatnya Wulan dan Salman masuk ke kamar. Ia melakukan hal yang sama seperti saat Salman memasuki kamarnya dulu. Mengedarkan pandangannya.
"Ternyata memiliki suami dengan latar belakang yang berbeda, itu menyenangkan ya. Bahkan nuansa rumahnya juga berbeda. Jadi kalau aku bosan, tinggal pulang ke rumah satunya." kekeh Wulan.
"Boleh-boleh saja. Asalkan jangan pernah bosan memiliki suami seperti itu. Mau kamu cari sampai ke ujung dunia pun, tetap. Tak bakal bisa mencari pengganti yang lebih baik dari ku."
"Hah?" Wulan menaikkan bibirnya, mencemooh ucapan suaminya yang semakin kesini terlihat menggemaskan, karena begitu percaya diri dalam berbicara.
"Iya, memangnya tadi ngga dengar?" Salman mendekat ke arah jendela, dan membukanya. Agar udara bisa masuk.
__ADS_1
"Orang pertama yang dikirim Allah untuk kita, itu adalah yang terbaik untuk kita. Jika suatu saat kita merasa bosan dengan pasangan, lalu mencari pengganti lain. Percayalah, itu adalah cara setan untuk memutuskan ikatan suci pernikahan."
Wulan manggut-manggut mendengar penjelasan suaminya.
"Kalau suamiku saja sudah pintar dalam beragama, aku tak perlu capek-capek dong pergi ke masjid untuk mendengarkan ceramah agama. Aku juga tak perlu buang uang untuk beli kuota demi bisa lihat live streaming ceramah di handphone. Aku bisa mendengarkan ceramah keagamaan semauku."
"Ya ngga gitu juga kali konsepnya, sayang."
Salman mencubit gemas hidung istrinya yang sangat mancung. Ia meletakkan Wulan dipangkuan nya. Karena keduanya sedang berada di balkon. Lalu kembali melanjutkan pembicaraannya.
"Meskipun kita sudah pintar, atau sudah tahu tentang suatu hal, kita tidak boleh berhenti begitu saja. Nanti ilmunya menguap. Hilang lagi.
Tujuan kita datang ke majelis itu, selain untuk mencari ilmu, juga mengingatkan kembali akan ilmu yang telah kita pelajari, agar tidak lupa. Tujuan selanjutnya juga mempererat tali silaturahim antar sesama saudara seiman.
Jangan pernah berpikir, mengeluarkan harta di jalan Allah itu adalah suatu hal yang sia-sia. Karena kelak itu semua akan mendapatkan balasannya.
Seperti tadi contohnya. Kamu beli kuota untuk lihat live streaming ceramah. Uang untuk beli kuota tadi, pasti akan di ganti oleh Allah.
Bisa diganti dalam bentuk yang sama, atau justru berbeda. Kalau kamu ngga mau Allah hitung-hitungan dan pelit padamu, harusnya kamu juga tidak boleh hitung-hitungan atau pelit sama Allah."
Wulan bertepuk tangan dengan meriah. Senyumnya tersungging indah di wajahnya.
"Alhamdulillah, aku punya suami hebat. Akan ku jaga dia sepenuh hati, agar tidak ada siapa pun yang bisa mendekatinya. Ibarat kata, aku sedang menunggu lilin, saat suamiku berubah jadi babi ngepet." celoteh Wulan dengan riangnya. Sementara Salman justru menepuk jidatnya sambil geleng-geleng kepala.
"Apa tidak ada persamaan yang lebih baik dari itu? Aku suami mu, lho." Wulan meringis mendengar koreksi dari suaminya.
__ADS_1