Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
230. Untuk ibu menyusui


__ADS_3

Setelah memesan makanan, Salman mendekati istrinya yang tengah duduk, sambil memangku bayinya di lesehan sebelah pinggir.


Baby Maryam terlihat mengerjapkan matanya, kedua tangannya bergerak tak tentu arah, begitu juga dengan kakinya. Bibir tipisnya terlihat mengerucut, lucu sekali.


Salman dan Wulan berceloteh menghibur anaknya. Sambil sesekali menyunggingkan senyum pada putri kecilnya.


Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Dua mangkuk bubur sumsum dan dua gelas teh hangat tersaji di meja.


Penjual mempersilahkan keduanya untuk mencicipinya. Pasangan suami-istri itu pun menganggukkan kepalanya sembari mengucapkan terima kasih.


"Biar aku pangku bayi kita. Kamu makanlah dulu." Salman meminta bayinya dari pangkuan Wulan.


"Kenapa tidak makan bersama-sama saja? Bayi kita bisa ditaruh dalam stroller."


"Tidak. Putri kita sedang dalam keadaan terjaga, kasian dia tidak ada yang memperhatikannya. Lagi pula, dengan kita sering menggendong atau memangku bayi, bisa menumbuhkan kedekatan emosional diantara kita dan bayi kita."


"Kalau begitu, kamu duluan saja yang makan. Aku belakangan."


"Ibu menyusui tidak boleh telat makan. Bagaimana nanti kalau asi nya tidak bisa keluar? Anak kita tentu akan menangis kelaparan."


Wulan mengulas senyum ke arah suaminya. Laki-laki nya itu begitu perhatian dengannya. Tidak rugi dulu dia sampai mengejar-ngejar cinta Salman. Walaupun ada beberapa permasalahan, tapi akhirnya keduanya bisa bersatu dalam ikatan suci pernikahan.


Wulan kini mengalihkan pandangannya pada semangkuk bubur yang berwarna putih dan di siram dengan kuah coklat.


Setelah merapalkan doa, ia mencicipi sedikit kuahnya.

__ADS_1


"Bagaimana rasanya?" Tanya Salman, yang tak sabar mendengarkan komentar istrinya.


"Hem, manis." Gumamnya. Lalu kembali mencicipi buburnya.


"Hem, gurih. Enak sekali." Terus saja Wulan memuji rasa makanan yang ada dihadapannya itu.


"Aku suka sekali mas."


"Habiskan. Kalau kamu masih ingin nambah, ambil punyaku. Spesial buat ibu menyusui pokoknya. Seratus persen dari tepung ya, bukan dari tulang sumsum manusia."


Wulan seketika terdesak mendengar celotehan suaminya. Salman yang melihat hal itu, buru-buru meraih tisu dan menyerahkan pada Wulan.


"Kenapa harus membahas soal tulang sumsum manusia? Aku kan jadi ilfill?" Protes Wulan sambil mengerucutkan bibirnya. Sedangkan Salman sendiri meringis mendengar istrinya memprotesnya.


Wulan tersenyum malu dengan ucapan suaminya. Ia pun kembali menyendok buburnya selagi masih hangat.


Tak berselang lama, semangkuk bubur dan segelas teh hangat telah Wulan habiskan. Perutnya terasa begitu kenyang. Hal itu bertepatan dengan putri kecilnya yang menangis.


"Oh, sepertinya dia juga tidak ingin ketinggalan untuk mencicipi bubur sumsum, sayang." Kekeh Salman, sambil menyerahkan bayinya pada istrinya.


Wulan terkekeh kecil sebelum akhirnya juga menerima bayi itu. Ia membenarkan letak bayinya agar bisa meminum ASI-nya dengan nyaman.


Tak lupa Wulan menjulurkan jilbabnya, agar bisa menutupi aset berharga, yang hanya suaminya dan putri kecilnya saja yang tahu.


"Kamu masih mau lagi?" Tawar Salman, sambil mengarahkan sesendok bubur sumsum itu ke mulut istrinya. Ia tersenyum, sebelum akhirnya melahap bubur itu.

__ADS_1


Tidak dapat dipungkiri, setelah melahirkan Wulan memang sering kali merasa lapar. Maklum saja, karena bayinya memang full asi.


Salman memang tidak mengijinkan pemberian susu formula pada bayinya.


Jika ASI ibunya saja cukup, kenapa harus di beri susu formula? Bukan kah sebaik-baiknya nutrisi untuk bayi ada pada ASI. Jadi ketika sudah diberi yang terbaik, kenapa harus repot-repot mencari yang lain? Begitu pikirnya.


Kecuali, jika ada kendala tentang ASI. Maka tidak mengapa memberikan susu pendamping lainnya.


Pada akhirnya, Wulan lah yang justru menghabiskan semangkuk bubur sumsum milik suaminya. Sehingga pria itu harus memesan lagi. Karena perutnya juga sudah keroncongan.


Tak dipungkiri, beberapa pengunjung yang sedang makan di tempat itu, juga melihat ke arah Salman dan Wulan. Yang menampakkan potret keluarga romantis dan harmonis.


Tak lama kemudian, Salman sudah menghabiskan sarapan paginya. Ia berdiri untuk membayar dan memesan beberapa bungkus untuk dibawa pulang. Siapa tahu istrinya minta lagi. Selain itu, bubur itu juga untuk oleh-oleh keluarganya.


Sementara itu, melihat suaminya tengah membayar makanan mereka, Wulan menyingkap ujung jilbabnya, untuk melihat apakah putri kecilnya sudah selesai minum ASI atau belum. Karena sebentar lagi akan pulang.


Senyum tersungging di wajahnya, ketika melihat putri kecilnya kembali tertidur pulas, dengan wajah penuh keringat. Perlahan Wulan menyeka keringatnya dengan tisu. Lalu meletakkan dengan hati-hati di dalam stroller.


"Sudah siap mau pulang sekarang?" Tanya Salman ketika melihat istrinya tengah meletakkan bayinya.


"Heem. Masa mau tidur disini." Gurau Wulan.


"Lhoh, bawa makanan sebanyak itu. Untuk siapa saja?" Wulan mengernyitkan dahinya, ketika melihat plastik besar yang dibawa suaminya.


"Untuk ibu menyusui, ibu menyusui, ibu menyusui, suami siaga, anggota keluarga kita, dan juga para asisten rumah tangga." Salman menunjuk satu persatu makanan yang dibungkus sterofoam itu. Wulan yang melihatnya terkekeh geli.

__ADS_1


__ADS_2