Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
36. Pembantu seumur hidup


__ADS_3

"Kak Salman selalu perhatian dengan ku. Wulan jadi tambah cinta sama kak Salman." ucap Wulan sambil menangkup pipinya dengan kedua tangannya, matanya berkedip-kedip ke arah Salman. Laki-laki itu pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Beberapa karyawan yang mendengar hal itu saling beradu pandang dan membulatkan mulutnya. Mereka termakan ucapan Wulan, sehingga menyangka gadis itu adalah pacarnya bos mereka.


Salman pun mendekati Wulan, sehingga membuat gadis itu semakin tersenyum sumringah.


"Jangan tebar pesona pada mereka. Ini kunci mobil mu. Kami bisa cek keseluruhan kondisi mobil mu. Atau test driver saja dulu, kalau kurang nyaman bisa di perbaiki lagi." ucap Salman ketika jarak keduanya berdekatan.


Sontak saja hal itu membuat senyum di wajah Wulan memudar. Ia pikir laki-laki itu akan melakukan sesuatu hal padanya.


'Bodoh sekali kamu Wulan. Terlalu percaya diri sih.' gerutu Wulan dalam hati.


Ia pun menerima kunci mobilnya, lalu berjalan mendekati mobilnya. Ia mengitari mobilnya mencari bekas penyok yang sekarang sudah tidak lagi terlihat. Lalu memasuki mobilnya untuk mencobanya. Sedangkan Salman hanya memperhatikan dari jarak aman.


Setelah sekian menit berlalu, Wulan selesai dengan aktivitasnya mengecek kondisi mobilnya, ia turun dan menghampiri Salman.


"Alhamdulillah, semua bagus kak. Wulan senang sekali, akhirnya mobil sudah bisa di pakai lagi." ucap Wulan dengan wajah yang berbinar.

__ADS_1


"Apa! Alhamdulillah." gumam Salman yang kaget ketika mendengar Wulan mengucapkan kata itu.


Sementara gadis itu justru menyunggingkan senyum. Entah kenapa hal itu membuat hati Salman cukup senang.


"Wulan ke kasir dulu ya bayar semua biaya perbaikannya, termasuk mobil kakak." Wulan memutar badannya, hendak pergi mencari kasir. Namun suara Salman membuatnya menghentikan langkahnya.


"Semua, sudah aku bayar."


Wulan pun berbalik arah menatap Salman.


"Kalau gitu berapa totalnya kak? Biar Wulan ganti."


"Sungguh?" tanya Wulan takut salah dengar. Salman pun mengangguk. Gadis itu pun terbengong dengan jawaban yang Salman berikan.


"Tapi biaya perbaikan dua mobil sampai halus mulus itu tidak murah lho. Wulan ngga mau punya hutang budi. Apa Wulan ganti dengan menjadi pembantu seumur hidup kakak saja."


Kali ini giliran Salman yang terkejut. Selalu saja gadis dihadapannya itu berbuat aneh. Termasuk tawarannya menjadi pembantu seumur hidupnya.

__ADS_1


'Memang gadis itu bisa melakukan apa saja? Kok aku meragukannya.' batin Salman.


"Jangan khawatir, Wulan akan belajar mencuci, menyapu, mengepel...."


'Nah kan, sok-sokan nawarin diri jadi pembantu, tapi masih mau belajar ini itu. Bisa tambah stress aku.' batin Salman lagi.


"Sudah-sudah tidak usah disebutkan satu persatu. Aku tidak butuh pembantu." ucap Salman yang membuat Wulan menghentikan ucapannya. Ia pun menunjukkan wajah sedihnya. Yang membuat Salman tak tega. Ia pun segera meralat ucapannya.


"Baiklah, Wulan tidak apa-apa. Sebagai gantinya, ayo temani Wulan jajan."


"Maaf Wulan, aku tidak bisa menemani mu. Aku ngga ingin kita pergi berdua. Yang bisa menimbulkan fitnah."


Wulan tertunduk dalam, sembari memikirkan ide agar pria dihadapannya mau pergi dengannya. Namun sekeras apa ia memaksa, Salman selalu menolaknya. Sehingga gadis itu berlalu pergi meninggalkan Salman tanpa pamit.


Salman yang memang tidak biasa menghadapi tingkah wanita, sore itu ketika melihat wajah dan sikap Wulan yang mendadak berubah menjadi tidak enak hati.


Entah mendapat dorongan dari mana, akhirnya ia pun mengikuti mobil Wulan dari jarak aman. Sepanjang perjalanan, laki-laki itu terus memikirkan setiap ucapan dan serangkaian pertemuannya dengan Wulan. Ada debaran aneh yang muncul dihatinya.

__ADS_1


"Aneh sekali, kenapa gadis itu selalu membuat jantung ku berdebar? Tidak mungkin aku jatuh cinta dengannya. Karena kami beda tempat ibadah."


__ADS_2