
Udara yang panas membuat Wulan bangun tengah malam, padahal ia telah menghidupkan AC kamarnya.
Ia pun ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya agar lebih segar. Terlintas dipikirannya untuk sekalian berwudhu.
Dengan gerakan seingatnya ia mulai membasuh beberapa anggota tubuhnya. Lalu keluar kamar mandi dan mengambil mukena yang ia simpan rapi dalam lemari.
Sesaat ia bingung, harus membentangkan sajadahnya ke arah mana. Lalu membuka handphonenya untuk mencari petunjuk.
Setelah yakin dengan arah kiblat, ia memakai mukenanya. Dan ketika hendak mengangkat tangannya untuk melakukan gerakan takbir, ia berhenti. Karena tiba-tiba teringat, harus berniat apa sebelum sholat.
Ia kembali membuka handphonenya untuk mencari ilmu lagi tentang sholat malam.
"Sholat tahajud." desisnya ketika membaca artikel tentang sholat malam.
"Tuhan aku melakukan semua ini untukmu. Dan bukan karena lelaki itu." gumam Wulan dengan yakin, lalu mantap untuk melakukan gerakan takbir.
Ia berusaha melakukan gerakan sholat dengan benar-benar dan semampu yang ia bisa. Dan ketika lupa, ia membuka aplikasi handphonenya yang memperlihatkan setiap bacaannya.
Sekitar 1 jam waktu yang dibutuhkan Wulan untuk melaksanakan sholat tahajud 2 rekaat, karena bacaan yang dianggapnya sulit.
__ADS_1
Setelah selesai mengerjakan, Wulan berdzikir, lalu bermunajat pada Tuhan. Ia sampaikan segala keluh kesahnya, ia sampaikan segala permintaannya, lalu menutup ritual itu dengan mengusapkan tangan di wajahnya.
Ia menatap layar handphonenya dan membaca baik-baik doa yang ada. Tentunya yang ia baca adalah tulisan terjemahan nya, karena belum belajar tentang huruf Arab yang di rangkai.
Setelah melaksanakan sholat, ia kembali ke tempat tidurnya. Dan tak lama kemudian, ia bisa tidur dengan pulas.
Pagi harinya, ia tetap bisa bangun seperti biasanya, lalu melakukan kegiatan seperti di hari-hari yang lalu.
Saat pulang kerja, ia kembali berpapasan dengan Natalie. Namun kali ini Wulan tidak menawarkan bantuan untuk teman barunya itu, karena grandpa berada di sampingnya. Tapi dalam hati, Wulan berjanji akan memberikan bantuan tumpangan untuk temannya itu.
Seminggu telah berlalu. Wulan melaksanakan sholat di jam-jam yang diwajibkan sholat. Masih dengan membaca bacaan yang ada di handphonenya.
Pucuk di cinta ulam pun tiba. Saat Wulan pulang, ia bertemu dengan Natalie. Ia segera menawarkan bantuan untuknya, yaitu mengantarkan nya pulang.
Natalie yang awalnya enggan, akhirnya menerima tawaran itu. Apalagi setelah mendengar jika Wulan di situ tidak memiliki seorang teman. Membuat Natalie semakin tak tega.
Saat perjalanan, Wulan banyak bertanya soal sholat pada Natalie. Temannya itu tampak sedikit terkejut, tapi tetap menjawab.
"Apa! Jadi sholat kita tidak sah, jika kita belum melaksanakan rukun Islam nomor 1?" Wulan terperanjat kaget ketika mendengar penjelasan Natalie. Ibu muda itu menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Okay, kalau gitu nanti aku akan baca rukun Islam nomor 1 di rumah." desis Wulan mantap. Dan Natalie tersenyum mendengar niat gadis itu.
"Siapa yang akan menjadi saksimu?" tanya Natalie.
"Saksi apa? Aku tidak sedang menikah? Kenapa tanya saksi segala?" Wulan terkekeh di ujung kalimatnya. Natalie juga ikut terkekeh.
"Wulan, tidak hanya sekedar membaca rukun Islam nomor 1. Tapi harus mengikuti tata caranya."
"Apa saja cara-caranya?" Wulan menoleh ke arah Natalie sejenak dengan raut wajah yang serius.
Natalie akhirnya menceritakan tata cara agar bisa melaksanakan rukun Islam nomor 1. Membuat Wulan cukup terkejut, jantungnya seketika berdebar kencang. Karena semakin terdengar sakral untuk sekedar mengucapkan kalimat pendek itu.
"Boleh aku minta nomor telepon mu Nat? Sepertinya aku butuh banyak bantuan mu."
"Dengan senang hati Wulan." balas Natalie. Mereka pun saling bertukar nomor telepon.
Percakapan mereka selesai, yang bersamaan dengan mobil yang berhenti di depan rumah Natalie.
Mereka pun melanjutkan pembicaraannya di dalam rumah Natalie.
__ADS_1