
Tak berapa lama kemudian, pesanan Leon dan Fatim datang. Ayam bumbu rujak, pecak gurame, jus buah naga dan air putih. Telah terhidang di meja.
Aroma wangi bumbu rempah menusuk hidung dan membangkitkan selera makan.
Setelah mencuci tangannya, Fatim mulai menyuap nasi ke mulutnya. Leon memandang aneh ke arah gadis yang duduk dihadapannya. Karena makan dengan menggunakan tangan.
"Kenapa kamu memandang ku seperti itu?" Fatim menghentikan suapannya, dan menatap Leon. Ia merasa risih di pandang oleh lelaki.
"Kenapa kamu makan pakai tangan? Kan jorok?" celetuk Leon sambil bergidik.
"Makan pakai tangan itu sedap lho. Kalau berada di rumah kakek Somad, aku seringnya makan dengan cara seperti ini. Kalau makanannya ada kuahnya, baru lah aku makan dengan menggunakan sendok.
Dalam Hadits RH. Muslim, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam makan dengan menggunakan tiga jari tangan kanan dan menjilati jari-jari tersebut sebelum dibersihkan.
Ternyata, Sunah Rasul itu merupakan cara makan yang pas untuk mengukur porsi makan seseorang. Sementara itu, menjilati jari setelah makan memiliki banyak manfaat dan faedah bagi kesehatan.
Dalam sebuah penelitian di dunia kedokteran menyebutkan, manfaat makan menggunakan tangan yang sudah dibersihkan dinilai jauh lebih sehat dibandingkan menggunakan sendok.
Karena tangan kita mengandung enzim RNase yang banyak dihasilkan oleh tiga jari, yakni ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah, yang berfungsi menekan aktivitas bakteri pathogen dalam tubuh.
Makan dengan tangan juga bisa memperlambat proses makan sehingga mencegah diabetes tipe dua.
Selain itu, membatasi asupan makan yang masuk, yang tentunya dapat mencegah obesitas alias kegemukan. Allah telah memberikan anugerah kepada setiap manusia alat makan yang canggih, yaitu tangan kita sendiri.
__ADS_1
Jadi lebih baik kita makan menggunakan tangan kita. Tentunya tangan kanan lho, ya. Dan pastikan tangannya di cuci bersih dulu.
Karena jika kita makan menggunakan tangan kiri, itu sama seperti cara makan setan.
Jangan sampai lupa juga, ucapkan bismillah sebelum makan, agar setan tidak ikut makan atau masuk bersama makanan atau minuman yang kita makan."
Leon tertegun mendengar penjelasan Fatim yang panjang lebar itu. Hingga mulutnya menganga lebar. Membuat Fatim terkekeh.
"Hai! Kamu mau makan atau mau bertapa? Kenapa diam saja? Hati-hati tuh mulut nanti bisa kemasukan lalat lho." tawa riang Fatim menggema di telinga Leon, sehingga menyadarkan nya dari perasaan kagum dan takjub tadi.
Leon mengusap wajahnya, karena merasa salah tingkah dihadapan Fatim.
"Terima kasih penjelasannya. Kamu memang dokter muda yang cerdas." Leon mengacungkan kedua jempol nya.
"Terima kasih kembali. Aku ini juga masih belajar. Masih banyak ilmu yang belum aku ketahui. Wulan itu beruntung dan enak hidupnya. Karena punya suami seperti kak Salman yang sangat cerdas.
Karena menjadi pemimpin rumah tangga itu jauh lebih sulit, dibandingkan memimpin perusahaan.
Karyawan perusahaan akan tunduk patuh, karena berharap tetap bisa mendapatkan uang dari tempatnya bekerja.
Sedangkan anak dan istri akan patuh pada ayah dan suami karena ingin mendapat jaminan surga. Sedangkan surga itu sendiri, belum pernah sekali pun dilihat.
Meskipun belum pernah melihat, mereka tetap yakin surga itu ada." tanpa sadar Fatim kembali memuji Salman.
__ADS_1
Entah kenapa hal itu membuat hati Leon sakit.
Dalam hati Leon bertekad, ingin mempelajari lebih lanjut, tentang apa yang disampaikan oleh Fatim tadi. Agar ia juga tidak kelihatan bodoh dihadapan gadis cantik dihadapannya.
Apalagi ketika Fatim mengatakan, menjadi seorang pemimpin bagi rumah tangga yang bisa membimbing anak dan istrinya itu cukup sulit.
Membuatnya bertekad kuat untuk memanfaatkan waktunya dengan belajar lagi.
"Ayo di makan. Keburu aku habiskan lho." canda Fatim.
"Eh, iya-iya." Leon mencuci tangannya, lalu ikut makan dengan menggunakan tangan seperti Fatim.
Fatim melihat Leon, dan tersenyum. Tanpa sengaja Leon mendongakkan kepalanya dan melihat Fatim tengah tersenyum menatapnya. Ia pun membalasnya dengan senyuman pula.
Meskipun terkadang bersikap seperti anjing dan kucing, nyatanya Leon dan Fatim kini tengah menikmati makan siang bersama dengan penuh canda tawa.
Leon juga semakin kagum pada gadis dihadapannya. Dan ingin lebih mengenalnya dengan dekat.
"Kalau makan, sebaiknya memang harus dihabiskan. Kalau ngga dihabiskan, sebaiknya di bawa pulang. Jangan sering-sering menyisakan makanan.
Karena menyisakan makanan dan membuangnya termasuk perbuatan tercela. Dalam Islam itu salah satu tanda kita kurang mensyukuri nikmat Allah.
Walaupun itu hanya sebutir nasi yang jatuh, tetap harus kita pungut." jelas Fatim lagi, saat melihat piring Leon yang masih terdapat nasi dan lauk yang tidak dihabiskan.
__ADS_1
Leon seketika menepuk jidatnya sambil meringis.
"Baiklah, aku habiskan." ujarnya kemudian.