
Sementara Wulan tengah fokus dalam memulai pekerjaannya, dua orang laki-laki yang memiliki sifat dan berada di tempat yang berbeda pula, tengah memikirkan nya.
Meskipun hati Leon berada di kantor papanya, tapi hatinya terus memikirkan Wulan. Apa saja yang dilakukan gadis itu, seolah-olah ia ingin tahu.
Walaupun sekarang, Wulan tinggal di Belanda, tetap saja ia was-was. Takut apabila ada laki-laki yang mendekatinya. Ia tidak bisa menjaga Wulan setiap waktu, karena kedua orang tuanya terus mengingatkan dirinya untuk membantu papa mengembangkan bisnis asuransinya.
"Leon, kamu jangan terus menerus melamun?" ucap papanya yang membuat Leon terkejut, hingga bolpoin yang ia pegang terjatuh.
Saat ia telah berhasil mengambil bolpoin yang terjatuh tadi, kepalanya justru terbentur meja. Yang membuat ia meringis kesakitan sambil mengusap perlahan bagian yang sakit.
"Ah papa mengagetkan Leon saja. Jadi terbentur kan kepala Leon." sungut Leon kesal.
"Hem, kamu ini pagi-pagi sudah melamun. Pasti lagi memikirkan Wulan. Kalau suka kenapa tidak segera kamu lamar saja dia?"
"Hah, sungguh pa? Leon boleh melamar Wulan?" ucap Leon dengan wajah yang berbinar.
Namun papanya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ternyata anaknya memang tengah di mabuk cinta. Semua perkataannya di telan bulat-bulat.
__ADS_1
Papa memang mengijinkan jika Leon menjalin hubungan dengan Wulan. Tapi pemuda itu harus bisa menjadi seorang yang bertanggung jawab.
"Tentu saja boleh. Papa dan mama juga menyukainya. Tapi kamu harus giat dan fokus bekerja. Kalau kalian menikah nanti, mau kamu kasih makan apa kalau tidak mau bekerja?"
Leon sebenarnya adalah pemuda yang cukup mahir dalam mengerjakan pekerjaan nya. Tapi kelemahan nya, dia terlalu banyak membuang waktu nya untuk memikirkan seorang Wulan.
"Leon, kamu melamun lagi?" ucap papanya sambil geleng-geleng kepala.
"Iya-iya pa. Leon kerja lagi nih." Leon pun membuka satu persatu berkas yang ada dihadapannya dan berusaha konsentrasi.
**
Bahkan semakin mimpi itu dilupakan, semakin melekat kuat di ingatannya. Hingga tak menyadari jika seorang pembeli menanyakan suatu hal padanya.
Beruntung, ada karyawan yang baru saja melayani pembeli, dan menghampiri pembeli yang berdiri di depan Salman.
"Mas, ada gempa!" seru karyawan itu karena gemas melihat Salman yang sejak tadi terus melamun.
__ADS_1
"Hah, innalilahi wa innailaihi rojiun." seru Salman dan seketika bangkit berdiri karena panik. Membuat karyawan yang melihatnya terkekeh geli.
Salman mengedarkan pandangannya dan melihat beberapa karyawan nya yang terkekeh. Seketika ia sadar jika tengah dikerjai oleh karyawannya.
"Pasti nih, baru mabuk cinta." celetuk salah satu karyawannya, dan di sertai anggukan oleh karyawan lainnya.
"Heh, kalian usil banget. Mau aku potong gaji kalian?" gertak Salman. Yang membuat mereka seketika terdiam. Ia pun kembali duduk sambil berpura-pura sibuk. Namun tetap saja ia tidak bisa konsentrasi.
'Ini sungguh aneh. Baru kali ini aku memikirkan orang yang tak penting dalam hidup ku. Sampai terbawa mimpi, sampai menjadi bulan-bulanan karyawan. Kamu harus bertanggungjawab Wulan. Dasar si gadis aneh.' maki Salman dalam hati.
**
Dan di gedung asuransi, Wulan masih serius bekerja. Hingga tak sadar jika jam sudah menunjukkan pukul 12.
"Wulan, ayo kita makan siang dulu." ajak grandpa, yang membuat gadis itu tersentak kaget.
"Okay grandpa. Sebentar lagi. Tanggung, sebentar lagi pekerjaan Wulan selesai." Wulan yang tadi sempat mendongak ke arah grandpa nya, kembali menatap pekerjaannya.
__ADS_1
Grandpa dalam hati memuji kesungguhan cucunya, yang begitu bertanggungjawab dengan pekerjaannya. Jiwa-jiwa seperti itu yang dibutuhkan oleh sebuah perusahaan.