Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
270. Api unggun


__ADS_3

Memanfaatkan waktu liburan, Daddy Marquez mengajak keluarganya dan keluarga besannya berlibur. Keluarga Salman menyambut gembira hal itu.


Tidak perlu jauh-jauh, yang penting adalah bisa memanfaatkan waktu untuk berkumpul bersama dengan keluarga.


Pagi itu Daddy Marquez sekeluarga menghampiri keluarga besannya. Sesampainya di sana, ternyata keluarga besannya sudah menunggu kehadirannya.


Iring-iringan mobil pun berangkat bersama menuju vila milik keluarga Marquez.


Segudang aktivitas dan pekerjaan yang dilakukan dalam sepekan oleh para lelaki, tentu saja membuat mereka merasa stress. Sehingga dengan berlibur ke villa, mereka berharap bisa mengurangi tingkat kesetresan yang mereka alami.


Sepanjang perjalanan menuju villa, mereka disuguhi oleh pemandangan yang menyegarkan mata. Karena di kanan kiri jalan itu, banyak ditumbuhi oleh pepohonan yang hijau dan menjulang tinggi.


Akhirnya setelah menempuh perjalanan satu jam lebih, rombongan mobil itu sampai di sebuah rumah yang tinggi, besar dan bangunannya terbuat dari kayu dan kaca. Di sekelilingnya juga banyak pepohonan dan dihalaman villa itu tumbuh bunga yang berjejer, membentuk sebuah pagar.


Mereka pun turun dari mobil, dan mengedarkan pandangannya untuk menikmati pemandangan yang indah itu, sambil menghirup nafas dalam-dalam.


Segala beban pikiran yang ada di kepala mereka mendadak sirna, karena efek relaksasi yang diberikan oleh pemandangan yang tersaji di depan mata. Cukup lama mereka melakukan hal itu.


Seorang wanita setengah baya, muncul dari samping rumah dan melangkah mendekati Marquez dan istrinya.


"Selamat datang dan selamat pagi, tuan."


"Selamat pagi, bi."


"Semua sudah saya siapkan sesuai pesanan anda, tuan."

__ADS_1


"Terima kasih, bi. Kalau begitu bibi bisa kembali."


"Siap, tuan." Bibi pun berlalu pergi meninggalkan tuannya.


"Ayo, kita masuk ke dalam." Ajak Daddy Marquez.


Ia berjalan mendahului dan membukakan pintu untuk rombongan keluarganya.


Setelah masuk, mereka mengedarkan pandangannya, menyapu setiap sudut ruangan. Di dalam villa memang tidak banyak perabotan seperti layaknya rumah. Sehingga tempatnya terkesan lebih luas. Hanya ada kursi dan televisi. Di setiap sudut ruangan itu juga ada vas bunga segar.


"Ayo, aku tunjukkan kamar untuk kalian." Ajak Daddy Marquez lagi, terlihat bersemangat. Rombongan keluarganya pun mengikuti langkahnya.


Setelah mendapatkan kamar masing-masing, mereka meletakkan barang-barang yang mereka bawa di kamarnya. Lalu keluar lagi dan berkumpul di balkon.


Pemandangan dari atas, tampak jauh lebih indah dan begitu memanjakan mata. Bibi datang sambil membawa nampan yang berisi wedang uwuh, lalu meletakkannya di meja. Setelah itu, ia pergi lagi untuk mengambil cemilan.


Baunya yang harum khas rempah, membuat mereka tergoda untuk segera menyeruput minuman itu.


"Maryam, mau juga?" Tanya Salman, pada putrinya yang duduk di pangkuannya.


Pria itu mendekatkan gelasnya ke bibir putrinya, agar bayinya bisa mencicipi minuman itu.


"Huhah... Huhah." Celoteh Maryam, ketika mencicipi sedikit minuman itu. Sehingga membuat mereka para orang dewasa tertawa.


"Minyum... Minyum." Ucap Maryam sambil berdiri dan mendekati Wulan.

__ADS_1


"Kamu kepedasan ya, sayang. Ih, dasar Daddy kamu nakal." Gurau Wulan, agar anaknya tidak menangis. Lalu ia memberikan asi untuk anaknya.


Tak lama kemudian, bibi datang sambil membawa nampan yang berisi cemilan tradisional. Lalu meletakkannya di tengah-tengah keluarga besar majikannya. Ada kue rangi, klepon, risol dan masih banyak lagi lainnya. Mereka pun menikmati cemilan khas desa itu, sambil bercakap-cakap.


**


Siang harinya setelah melaksanakan sholat Dhuhur berjama'ah, mereka berkumpul di saung yang ada di samping villa. Untuk menikmati makan siang.


Menu makanan yang berbeda dengan makanan yang sehari-hari mereka santap, membuat mereka tergiur untuk segera mencicipi.


Di tengah-tengah mereka ada menu sayur daun singkong bumbu kare, acar bening, rolade daun singkong, ikan nila bakar, pepes ikan tongkol, oseng daun pepaya dan masih banyak lagi lainnya.


Buah-buahan yang dipetik dari kebun belakang juga tersedia di depan mereka. Minuman yang beraneka ragam, juga ada di sana.


"Ayo kita mulai makan siangnya." Ajak grandpa, sambil menyodorkan sebakul nasi pada pak Atmaja.


Mereka pun mulai melahap makan siangnya dengan menggunakan tangan, karena terasa jauh lebih nikmat. Sambil bercengkrama.


Keluarga itu terlihat rukun dan tidak seperti hubungan antara besan seperti yang umum terjadi.


**


Pada malam harinya, cuaca sangat bersahabat. Awan gelap dan bintang bertaburan di langit. Suara binatang malam saling bersahut-sahutan, menambah kesan semarak.


Mereka membuat api unggun di depan vila. Mereka juga membakar ikan dan Frozen food untuk menemaninya melewati malam.

__ADS_1


Baby Maryam yang baru melihat api unggun untuk yang pertama kalinya, bersorak kegirangan. Bahkan sampai berjingkrak-jingkrak dan juga mengelilingi api unggun itu.


Tak lupa mereka juga membahas umrah yang akan dikerjakan kurang dari sebulan lagi.


__ADS_2