
Mobil yang di kendarai Salman, yang seharusnya hampir tiba di toko buku, berbelok arah menuju rumahnya.
Wulan tampak memperhatikan sisi jalan, siapa tahu jika kebetulan lewat rumah Salman, ia bisa mampir.
Semangatnya yang hampir pupus untuk mendekati pria itu kini bangkit lagi. Setelah ia mengungkapkan isi hatinya, dan juga lelaki itu terlihat membuka hatinya.
Tin...Tin...Tin
Salman membunyikan klaksonnya, dan tak lama kemudian seorang security membukakan pintu gerbang untuknya.
Wulan manggut-manggut melihat pemandangan rumah Salman yang juga terlihat mewah, seperti rumah kedua orang tuanya.
Dengan semangat, Wulan membuka pintu mobil, lalu di ikuti Salman. Lelaki itu membuka pintu utama sembari mengucapkan salam. Tanpa sadar Wulan pun juga mengucapkan hal yang sama.
"Salman." seru mama Laura yang baru saja turun dari anak tangga.
Ia terkejut ketika melihat anaknya yang baru saja berangkat ke showroom, tapi kini justru pulang bersama seorang gadis. Ia pun berjalan mendekati mereka.
"Mama." Salman mencium punggung tangan mamanya dengan takzim.
"Perkenalkan Tante, saya Wulan." ucap Wulan sambil mengulurkan tangannya, yang segera di jabat oleh mama Laura. Lalu Wulan pun mencium punggung tangan mama muda yang cantik jelita itu.
"Kamu temannya Salman?"
__ADS_1
"Iya Tante." balas Wulan sambil menyunggingkan senyum.
"Nama yang cantik, seperti orangnya." puji mama Laura.
"Terima kasih Tante." balas Wulan seraya menyunggingkan senyum.
"Dia kesini mau pinjam buku kakek tentang bisnis kakek ma. Tadi Salman sudah minta ijin sama kakek, katanya boleh."
Mama Laura manggut-manggut sambil membulatkan mulutnya.
"Ya sudah, kalian ke ruang baca saja, mama siapkan minum dan cemilan untuk kalian."
"Iya ma."
"In shaa Allah, nanti tante sampaikan. Ya sudah, kalian kesana gih."
Mama Laura menyunggingkan senyum yang membuat hati Wulan semakin bersemangat mendekati anaknya.
Salman mempersilahkan Wulan mengikuti langkahnya menuju ruang baca.
Sambil berjalan, Wulan terus memperhatikan design setiap sudut ruangan yang tampak mewah dan elegan itu.
Beberapa foto keluarga yang berukuran besar terpajang. Wulan semakin takjub melihat foto Salman yang selalu tampil maskulin di setiap gayanya. Dan ia terkikik ketika melihat foto Salman waktu bayi. Membuat lelaki itu menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu tertawa sendiri?"
"Wulan kak, nama ku Wulan. Kenapa susah banget sih panggil nama ku?" Wulan mempertegas namanya, karena sekali pun Salman belum pernah menyebut namanya.
"Aku cuma gemes aja liat foto bayi itu." Wulan menunjuk sebuah foto bayi yang terpampang jelas karena ukurannya yang besar.
Dalam foto itu seorang bayi memakai kaos merah dan celana jeans pendek. Tengah tersenyum memperlihatkan giginya yang baru tumbuh 2 atas dan bawah. Sedang duduk sambil memegang sebuah mainan. Terlihat pipi gembul nya dan badannya yang gemuk membuat semua orang yang melihatnya gemas, seperti halnya yang dilakukan Wulan tadi.
"Itu pasti foto kak Salman kan?" Wulan menunjuk ke arah Salman sambil menyunggingkan senyum.
"Aku boleh minta fotonya?"
"Buat apa?" Salman menatap serius.
"Buat nakut nakutin tikus." kekeh Wulan, lalu mendahului masuk ruang baca.
Pandangannya menyapu setiap sudut ruangan yang dipenuhi rak buku, dan tentunya tersusun rapi. Seperti perpustakaan di sekolahnya dulu.
Salman mendengus kesal sambil menggelengkan kepalanya. Baru kali ini ada wanita yang bicara serba blak-blakan pada dirinya.
❤️❤️
__ADS_1