
Setelah para jama'ah memenuhi ruangan, acara pengajian Ahad pagi di masjid Westermoske itu pun di mulai.
Terlihat para jama'ah mulai mengeluarkan buku dan bolpoin untuk menulis materi yang akan disampaikan. Termasuk keluarga Wulan dan keluarga Salman.
Ini adalah pengajian ke sepuluh yang diikuti oleh keluarga Salman ketika diluar negeri. Tidak hanya keluarga papanya tapi keluarga mamanya juga ikut bersama.
Keluarga Salman memang saat ini tengah berlibur. Agar dapat menikmati waktu bersama keluarga, juga melihat keindahan alam ciptaan Tuhan di negeri yang nun jauh dari tempat tinggalnya.
Meskipun tengah berlibur, tak lupa mereka mencari tambahan ilmu agama. Seperti menghadiri pengajian Akbar pada saat itu.
Seorang MC mulai membawakan susunan acara. Mulai dari pembukaan hingga penutup acara.
Setelah susunan acara dibacakan, kini saatnya seorang laki-laki yang biasa di sebut ustadz mengisi tausyiah pada pagi hari itu.
Saat itu tausyiah yang disampaikan mengusung tema tentang Tauhid. Dimana itu menjadi dasar penting dalam memeluk agama Islam.
__ADS_1
Keluarga Wulan yang notabenenya adalah seorang mualaf, menyimak baik-baik materi tersebut. Dan tak lupa mencatat apa yang disampaikan oleh ustadz.
Semua terlihat fokus menyimak dengan baik, hingga tak terasa waktu bergulir dengan begitu cepat. Dan akhirnya laki-laki yang memakai surban dan berbaju kurta mengakhiri tausyiahnya.
Sebelum ia beranjak dari tempat duduknya, pembawa acara memberikan waktu untuk bertanya. Wulan menjadi wanita pertama yang melambaikan tangannya pada wanita berhijab lebar pemegang microfon. Lalu perempuan berhijab lebar itu menyerahkan microfon nya pada Wulan.
Sebelumnya gadis itu mengucapkan salam, lalu memberikan sebuah pertanyaan pada ustadz tersebut.
"Assalamu'alaikum ustadz. Perkenalkan nama saya Teresia Wulandari. Saya menjadi seorang mualaf selama hampir 6 bulan. Saya menyadari jika masih sangat awam dalam memeluk agama ini. Maka dari itu ijinkan saya bertanya." setelah berkata seperti itu, Wulan menghirup nafas panjang.
"Papa sangat terharu ketika mendengar kisah para mualaf. Karena mereka berani mengambil sebuah resiko besar dalam hidupnya. Mereka rela menghabiskan waktunya untuk lebih memperdalam Islam. Papa sangat bangga pada mereka." bisik papa Reyhan pada Salman.
Hati Salman kembali berdetak kencang ketika mendengar suara Wulan yang lebih lembut dari biasanya. Tidak hanya itu saja, entah kenapa hatinya terus saja merasa senang ketika Wulan mengatakan dirinya seorang mualaf.
"Ustadz, saya sudah memeluk Islam, jadi apakah saya sudah bisa dikatakan sebagai seorang yang beriman? Sekian terima kasih."
__ADS_1
"Orang yang sudah memeluk Islam belum tentu dikatakan beriman. Begitu juga sebaliknya. Karena iman mencakup tiga hal. Mengucapkan dengan lisan, meyakini dengan hati, dan mengamalkan dengan amal perbuatan.
Kadar keimanan seseorang bisa naik dan turun. Jadi ketika iman kita sedang naik, maka beribadah lah sebanyak mungkin.
Dan bila iman kita sedang lemah, maka tetap paksakan diri kita untuk tetap beribadah.
Karena jika kita semakin menuruti hawa nafsu dan rasa malas, maka akan membuat kita menjadi jauh dari Islam. Akhirnya kita menjadi seorang muslim yang tidak berkualitas. Dan bisa saja berujung pada kemurtadan.
Untuk itu, kita harus mempercayai rukun Ihsan. Yakni beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihatnya. Meski tidak dapat melihat-Nya di dunia ini, tapi ketahuilah Ia senantiasa melihat dan menyaksikan hamba-Nya. Karena Allah memiliki sifat yang berbeda dengan makhluk. Kita bisa mengantuk, tapi Allah sedikit pun tak pernah mengantuk.
Sekian penjelasan dari saya. Apakah bisa diterima?" ucap ustadz.
"In shaa Allah bisa saya pahami ustadz. Terima kasih penjelasannya. Assalamu'alaikum."
MC memberikan kesempatan pada para jama'ah lainnya untuk bertanya. Hingga beberapa orang saling mengangkat tangannya. Acara tanya-jawab berjalan sekian menit. Hingga akhirnya pengajian Ahad pagi itu pun selesai.
__ADS_1