
Salman memindai sejenak counter Leon sebelum masuk ke dalam. Tampak tiga orang tengah duduk sambil menunggu gilirannya dilayani oleh Leon.
Setelah semua dilayani oleh Leon, Salman duduk dihadapannya.
"Hai, ada apa kamu datang kemari?" Tanya Leon.
"Hanya ingin bermain saja, sambil melihat-lihat counter mu. Bagaimana perkembangannya?"
"Alhamdulillah. Satu, dua orang yang datang. Sudah mendatangkan penghasilan untukku."
"Syukurlah." Balas Salman sambil menganggukkan kepalanya.
Keduanya bercakap-cakap sejenak. Salman banyak memberi masukan pada Leon tentang cara mengembangkan bisnisnya.
Leon menyimak baik-baik setiap perkataan pria dihadapannya, agar ia bisa menerapkan dalam pekerjaannya.
Salman pamit pulang, karena melihat pembeli yang berdatangan.
"Aku pamit dulu ya. Semoga semakin sukses usahamu."
"Aamiin. Terima kasih sudah mau berbagi ilmu dengan ku."
"Sama-sama. Nanti kalau aku ingin buka perusahaan, juga mau bertanya dengan mu." Canda Salman.
"Boleh, aku akan menjawab semampuku. Tapi aku rasa Daddy mertuamu, lebih jago kalau soal bisnis." Timpal Leon, yang membuat keduanya terkekeh.
"Benar apa katamu. Tapi tetap saja aku juga butuh masukan dari banyak orang. Ya sudah, aku pamit pulang dulu. Sudah kangen dengan anak istri."
"Ah, aku tak yakin. Pasti kau lebih kangen dengan istrimu dulu baru anak. Iya kan?" Goda Leon lagi.
"Mungkin itu kamu. Baby Maryam sangat menggemaskan, celotehannya saja terus terngiang-ngiang di telingaku. Sudah, aku pulang dulu. Tuh segera layani pembeli. Assalamu'alaikum."
Ketika setengah perjalanan, handphone Salman berdering. Ia merogoh handphonenya dari dalam tasnya.
Dahinya mengernyit ketika nama istrinya yang tertera dilayar handphone. Pasalnya setelah menikah dan memiliki seorang anak, istrinya itu jarang menghubunginya jika tidak penting sekali.
Wulan tidak akan mengganggu ketika suaminya sedang bekerja. Semua urusan soal anak, bisa ia handle sendiri. Perempuan itu akan menghubungi Salman, ketika situasinya benar-benar penting.
__ADS_1
"Hallo, ada apa sayang?" Ucap Salman, ketika panggilan sudah terhubung.
"Hallo, mas. Kamu ini sedang ada dimana?" Tanya Wulan dari seberang sana.
"Aku sedang dalam perjalanan pulang, kenapa?"
"Opa Atmaja masuk rumah sakit Bakti Karya. Kamu mau menyusul kesana atau tidak?"
"Innalilahi. Kalau kamu tidak keberatan, aku akan kesana."
"Tentu aku tidak keberatan. Bukankah kamu sering meninggalkan ku? Kesehatan opa lebih penting, kamu cucu satu-satunya kan. Maryam juga sedang tidur siang."
"Okay, baiklah. Aku akan menyusul ke rumah sakit, kamu hati-hati ya di rumah."
Panggilan berakhir ketika keduanya sama-sama mengucapkan salam. Salman pun membelokkan mobilnya menuju rumah sakit.
Opa dan omanya Salman memang jarang sakit. Maka dari itu, ketika Wulan menelponnya dan mengabarkan jika opanya sakit, ia cukup terkejut.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya Salman tiba di rumah sakit yang dimaksud istrinya. Dengan langkah lebar, pria itu mencari ruangan dimana opanya di rawat.
"Salman."
"Kenapa kamu kesini? Siapa yang sakit?" Tanya papa Adam.
"Opa, om."
"Oh, kapan masuknya? Om, juga ingin lihat keadaannya."
"Baru saja. Mari, om."
Keduanya berjalan beriringan menyusuri koridor rumah sakit. Dan berhenti tepat di ruang IGD. Tampak di sana ada papa Reyhan, mama Laura dan
"Pa, ma. Bagaimana keadaan opa?"
"Salman, apa Wulan yang memberitahumu kita ada disini?"
"Iya, pa."
__ADS_1
"Kakek, baru saja diperiksa." Balas papa.
Sedangkan mama dan Oma saling berpelukan. Keduanya sangat sedih, ketika laki-laki yang sangat dicintai sakit.
"Aku turut sedih, semoga papa mertuamu cepat sembuh." Ucap papa Adam, sambil menepuk pelan bahu papa Reyhan.
"Terima kasih." Balas papa Reyhan.
Tak dipungkiri, opa Atmaja adalah sosok ayah yang baik. Tidak hanya untuk anak kandungnya, tapi juga untuk papa Reyhan sebagai anak menantunya.
Opa Atmaja sangat menyayangi papa Reyhan. Meskipun Salman adalah anak orang tak punya, tak pernah sekalipun opa Atmaja merendahkannya.
Tak lama kemudian, pintu IGD terbuka. Mereka semua langsung berdiri dan menghambur ke arah dokter.
"Bagaimana keadaan papa dokter?" Tanya mereka serempak.
"Alhamdulillah, keadaannya sudah stabil. Tekanan darahnya turun, jadi itu yang menyebabkannya pingsan."
"Boleh kami masuk ke dalam?"
"Boleh, silahkan."
Mereka semua masuk ke dalam ruang IGD. Papa Adam juga ikut masuk ke dalam, untuk melihat keadaan papa mertua temannya.
Oma Ani dan mama Laura mengecup pipi opa Atmaja, sedangkan papa Reyhan memegang tangan mertuanya.
**
Setelah menunggu hampir tiga jam, akhirnya opa Atmaja sadar. Mereka yang menunggunya sangat senang.
"Papa, syukurlah kamu sudah sadar." Ucap keluarga mama Laura.
Opa Atmaja menyunggingkan senyum, melihat keluarganya tengah berkumpul.
"Papa ini dimana?" Opa Atmaja memindai ruangan yang serba putih, dan matanya tampak silau dengan cahaya lampu.
"Papa tadi pingsan. Karena kami sangat khawatir, akhirnya kami bawa ke rumah sakit."
__ADS_1
"Kenapa kalian bawa papa ke rumah sakit, harusnya kalian dekatkan papa dengan baby Maryam. Pasti papa akan sadar."
Mereka terkekeh dengan ucapan opa Atmaja. Sejak dulu ia memang suka sekali bercanda, meskipun tengah sakit atau sedang berkumpul.