
Ronald dan Romi beringsut turun dari tempat tidurnya. Lalu dengan malas mengenakan baju Koko dan sarung. Keduanya asal memakai saja. Kancing baju tidak masuk ke lubang yang seharusnya. Sehingga terkesan tidak rapi. Di tambah lagi sarung yang di gulung seadanya, semakin membuat penampilan mereka semrawut.
Keduanya berjalan menuju masjid dengan langkah gontai, dan sesekali menguap lebar. Sesampainya di masjid, keduanya menjadi pusat perhatian. Karena penampilan mereka yang sangat jauh berbeda. Beberapa santri bahkan terkikik, karena tak bisa menyembunyikan rasa geli melihat penampilan mereka.
Papa Andre sampai membulatkan matanya, ketika melihat keduanya seperti itu. Lalu mendekatinya.
"Apa kalian belum berwudhu? Dan kenapa cara berpakaian kalian seperti ini?" tanya papa Andre, ketika sudah berada di dekat keduanya yang duduk sambil menahan rasa kantuk yang teramat sangat. Keduanya mendongakkan kepalanya, lalu menggeleng lemah.
"Ya sudah, sekarang kalian berwudhu dulu. Mari saya antar ke tempat wudhu."
"Tidak usah berwudhu. Ayo lekas di mulai sholatnya. Karena kami masih mengantuk, mau tidur lagi."
Papa Andre mengulas senyum mendengar jawaban Romi.
"Habis sholat tahajud, kita akan muroja'ah surat-surat. Dilanjutkan dengan subuh berjamaah, lalu dzikir pagi bersama dan mandi pagi."
"Apa! Kenapa banyak sekali?" Ronald dan Romi serempak protes.
"Apakah kalian belum membaca peraturan yang tertera di lembar yang kemarin saya berikan?" tanya papa Andre. Pasangan ayah dan anak itu seketika menepuk jidatnya. Peraturan itu memang ada dalam formulir yang pernah mereka baca kemarin.
Dengan langkah gontai, keduanya berjalan mengikuti papa Andre yang berjalan menuju ke tempat wudhu. Mereka segera membasuh badan mereka secara asal. Sensasi pertama yang mereka rasakan saat tubuhnya terkena percikan air adalah, dingin.
__ADS_1
"Stop!" ucap papa Andre menghentikan gerakan keduanya yang asal membasuh bagian tubuh.
"Wudhu itu adalah menyucikan anggota tubuh dengan air. Dan ada beberapa tata cara dalam berwudhu. Apa kalian belum tahu juga?" lagi, Ronald dan Romi menggeleng.
"Tolong, lihat saya."
Papa Andre menggulung Koko lengan panjangnya hingga sampai atas siku, lalu ia juga menyingkap bagian bawah sarung nya.
Kini ia mulai memberi contoh gerakan wudhu yang benar pada pasangan ayah dan anak itu dengan sabar.
"Nah, kalian paham kan? Sekarang silahkan diulang lagi wudhu nya."
Keduanya kembali mengulang gerakan wudhu. Tapi sampai beberapa kali, masih juga mereka melakukan kesalahan. Akhirnya papa Andre berwudhu bersama dengan mereka, agar pelan-pelan keduanya bisa mengikutinya.
"Tolong, rapikan baju kalian." ucap papa Andre ketika melihat penampilan semrawut Ronald dan Romi.
Dengan malas Ronald dan Romi menelisik penampilan masing-masing, yang memang terlihat sangat tidak rapi. Keduanya pun memperbaiki kancing baju yang tidak rapi, dan menggulung sarung menjadi lebih rapi lagi.
Sholat tahajud dimulai. Haji Dahlan kembali menjadi imam. Sedangkan papa Andre berdiri ditengah-tengah antara Ronald dan Romi.
Sepanjang sholat, keduanya terus menguap, dan memang belum bisa khusu'. Keduanya hanya sekedar berdiri dan tidak mengikuti bacaan sholat yang dibaca sang imam.
__ADS_1
Setelah selesai sholat, papa Andre memberikan ilmu tentang taharah. Haji Dahlan yang melihat menantunya mulai menjelaskan pada dua orang tahanan itu, ikut mendekat. Dalam hati ia memuji menantunya, karena bisa menyerap ilmu dengan cepat. Dan kini semakin pandai dalam menyampaikan.
"Sudah dong, pak. Sumpah, aku ngantuk sekali." cicit Romi di tengah-tengah penjelasan yang papa Andre berikan.
"Kalau kalian tidak bersemangat seperti ini, aku pastikan kalian selamanya tinggal disini." tegas papa Andre yang membuat keduanya membulatkan bola matanya.
"Apa!" seru keduanya. Haji Dahlan menahan tawa melihat reaksi keduanya.
Hidup di pesantren adalah bagai hidup dalam sangkar. Tidak bisa berbuat sesuka hati. Yang ada malah justru semakin tersiksa. Itulah yang ada dalam pikiran keduanya.
"Okay, kalau kami rajin berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk kami tinggal disini?" tanya Ronald sangat penasaran.
"Semua itu tergantung orangnya. Jika orang itu tidak pernah melakukan kesalahan, senantiasa mengikuti aturan pondok dengan baik, dan bisa menguasai seluruh materi yang diajarkan, mungkin hanya dalam kurun waktu satu tahun, sudah bisa keluar dari pondok ini."
"Apa! Kenapa masih selama itu?" protes Ronald lagi, merasa tak terima.
"Makanya, kalian harus bersemangat. Agar bisa dengan mudah menyerap ilmu yang kita sampaikan. Siapa tahu berkat kegigihan kalian, hanya dalam waktu satu bulan bisa keluar dari sini." balas papa Andre lagi diiringi senyuman.
"Bisa jadi pak Ronald yang keluar duluan, atau justru Romi yang keluar duluan. Karena kalian bisa keluar dari sini, atas jerih payah kalian sendiri." tegas papa Andre lagi.
"Bagaimana ini, Rom? Papa yakin, pasti papa duluan yang akan keluar dari neraka ini." ucap Ronald dengan senyum sinis menatap anaknya.
__ADS_1
"Tidak bisa. Papa itu terlalu bodoh. Jelas Romi yang bakal keluar dari sini duluan." ucap Romi dengan bangganya.
Papa Andre sengaja berkata seperti itu untuk memompa semangat ayah dan anak yang ada dihadapannya. Haji Dahlan mengacungkan jempolnya pada menantunya, atas upayanya itu.