Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
258. Berbuka puasa


__ADS_3

"Sayang, lihat. Kita tinggal bercanda, baby Maryam sudah tidur. Yeo, asyik." Ucap Salman kegirangan seperti anak kecil.


"Iya. Jadi aku juga bisa lekas istirahat. Soalnya badan capek juga setiap hari mengurus baby Newborn." Wulan pura-pura menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri.


"Gampang, nanti aku pijitin. Taruh dulu gih di dalam box."


"Ngga tidur di ranjang sini saja?"


"Ngga. Takutnya dia terbangun gara-gara gempa."


"Kita lari dong kalau ada gempa." Wajah Wulan berubah serius. Padahal suaminya masih dalam mode singa lapar.


"Semakin gemas aku, kalau kita bicaranya tidak nyambung melulu dari tadi. Ya sudah, mana biar aku taruh box saja."


Wulan mengangsurkan bayinya pelan ke tangan suaminya. Lalu dengan sangat hati-hati, Salman meletakkan baby Maryam di dalam box. Tak lupa ia mengecup kening bayinya.


"Jangan bangun dulu ya sayang. Malam ini Daddy mau bikin adik buat kamu nih. Biar kamu ada temannya." Bisik Salman pelan sekali, tapi Wulan masih mampu mendengarnya. Karena tidak ada jarak antara box dan ranjang tempat tidur.


Setelah meletakkan bayinya dalam box, Salman memandang Wulan sambil menyunggingkan senyum.


Tangannya bergerak menangkup wajah istrinya, lalu mulai menyematkan sebuah kecupan yang cukup hangat dan lama di kening istrinya.


Hingga akhirnya Salman melepaskan kecupan itu, lalu memandang wajah istrinya. Keduanya saling tatap cukup lama. Dada keduanya semakin bergemuruh.


"Sayang, ijinkan malam ini aku memberimu nafkah batin."


Wulan menganggukkan kepalanya sambil mengurai senyuman, sebagai sebuah jawaban. Salman bahagia melihat jawaban istrinya.


Lalu ia pun mulai menyentuh bagian-bagian sensitif tubuh istrinya, dan memberikan kecupan-kecupan hangat.

__ADS_1


Setelah sekian lama berpuasa, akhirnya malam itu Salman berbuka juga dengan yang manis-manis bercampur hangat. Bahkan ia sampai melakukannya berulang kali.


Sensasi yang sama tetap Salman rasakan, karena jalan menuju goa Wulan tidak dijahit. Sehingga masih terasa sempit.


Setelah melakukan hal itu, keduanya tidur terlentang sambil menutup matanya, dan mengingat manisnya hal yang baru mereka lewati.


Salman bergerak memiringkan badannya. Lalu satu tangannya menyangga kepala, dan menatap wajah istrinya yang dipenuhi peluh hasil gempa buatan yang mereka ciptakan.


"Terima kasih sayang. Kamu benar-benar melayani ku dengan baik. Semoga Allah melimpahkan kesehatan, dan karunia yang besar untukmu. Kamu menjadi bidadari tidak hanya di dunia saja, tapi semoga menjadi bidadari di surga untukku."


"Aamiin ya rabbal aalamiin. Terimakasih, mas."


Salman kembali mengecup kening Wulan, dan yang bisa istrinya lakukan hanyalah memejamkan matanya, sambil meresapinya.


**


Leon tidak bisa tidur dengan tenang. Ia terus saja membolak-balikkan badannya. Untuk menghubungi keduanya juga tidak mungkin, karena pesawat belum landing.


"Kak, kamu kenapa? Apa kamu sedang merahasiakan sesuatu padaku?"


Leon sejenak menatap istrinya, lalu menghembuskan nafasnya.


"Perasaan ku setelah mengantarkan papa dan mama ke bandara, menjadi tidak enak."


Fatim menghembuskan nafasnya. Lalu menyunggingkan senyum sambil menggenggam tangan suaminya.


"Perasaan tidak tenang itu wajar kak. Karena kita sedang proses berpisah dengan kedua orang tua kita. Hal itu seperti yang aku alami setelah kita menikah dan tinggal di Belanda. Sedangkan Mama dan papa kembali ke Indo. Maka dari itu, sebaiknya kita banyak-banyak berdoa. Agar hati tenang, dan orang yang khawatirkan tidak ada apa-apa."


Leon cukup lega, setelah mendengar penjelasan Fatim. Perlahan pria itu juga mengurai senyuman.

__ADS_1


"Ya sudah, kak Leon membersihkan diri dulu sana. Agar bau wangi." Fatim pura-pura menutup hidungnya dan mengibaskan tangannya. Leon pun semakin melebarkan senyumannya.


"Siap sayangku."


Leon beranjak dari duduknya, dan berjalan menuju kamar mandi.


Setelah menggosok gigi dan mencuci muka, pria itu mendekati bayinya yang tidur sangat pulas. Lalu ia mengecup kening dan kedua pipi anaknya.


"Cepat tumbuh besar sayangku. Biar kita bisa pergi ke kebun binatang sama-sama. Atau pergi ke mall sama-sama. Kamu pasti ingin membeli boneka, tas atau yang lainnya. Iya kan? Nah, karena ini sudah malam, papa juga mau tidur. Oh iya, doakan Oma dan opa ya, semoga mereka baik-baik saja. Selamat malam sayangku." Leon kembali mengecup kening dan pipi putrinya. Lalu berjalan menuju tempat tidurnya.


Leon membelai pucuk kepala istrinya, lalu berniat menenggelamkan dirinya di dalam selimut. Tapi suara dering handphone mengejutkannya. Ia memutar tubuhnya dengan cepat, untuk meraih handphonenya yang ada di atas nakas.


"Mama." Pekiknya kesenangan. Ia segera menjawab panggilan itu.


Sementara Fatim yang baru saja tidur, tergeragap karena mendengar suara suaminya yang cukup keras.


"Hallo, ma. Apakah mama sudah sampai?" Tanya Leon Terdengar bersemangat.


"Alhamdulillah sudah, tadi sempat ada gangguan di mesin pesawat. Sehingga pesawat landing melebihi jam yang telah ditentukan." Balas mama dari seberang sana.


"Alhamdulillah, ma. Leon senang sekali. Karena perasaan Leon sejak tadi tidak tenang, mengkhawatirkan mama dan papa."


"Di Indo pasti sudah malam, kamu dan istrimu cepat istirahat ya. Mama telepon cuma ingin mengabarkan itu saja kok."


"Baik, ma. Mama dan papa juga segera istirahat ya. Assalamu'alaikum."


"Nah, benar kan kak apa kataku. Tidak terjadi apa-apa dengan mama dan papa. Kak Leon saja yang terlalu khawatir. Sudah malam, ayo sekarang kita tidur."


"Benar apa yang kamu katakan sayang. Ya sudah, ayo kita tidur sekarang." Ajak Leon, sambil merebahkan tubuh istrinya.

__ADS_1


Leon pun akhirnya bisa tidur dengan tenang, karena firasat buruknya tidak terbukti.


__ADS_2