
"Kenapa kalian berdua berhadapan dan saling diam?"
Grandma dan Wulan menoleh bersamaan melihat grandpa yang berjalan menghampiri mereka.
"Kami hanya bercakap-cakap saja sambil menunggu kedatangan mu. Ayo kita segera makan bersama." ajak grandma sambil menyiapkan makanan di meja makan. Wulan pun segera membantunya.
Kini mereka bertiga menikmati sarapan pagi. Tentunya dengan bercakap-cakap. Karena dengan melakukan hal itu, akan menjalin keakraban dan keharmonisan sebuah hubungan.
Setelah menyelesaikan sarapan pagi mereka. Wulan dan grandpa berpamitan untuk berangkat ke kantor.
Hari ini Wulan masih melakukan pekerjaan yang sama ketika di kantor. Dan melihat kinerjanya yang bagus, setelah jam makan siang grandpa memberikan beberapa tambahan pekerjaan lagi padanya.
Gadis itu mengerjakannya dengan penuh suka cita. Hingga tak terasa waktu pulang kembali menyapa.
Di perjalanan, Wulan kembali melihat wanita yang ia lihat kemarin saat perjalanan pulang. Dia berpenampilan rapi, menggunakan rok dan blazer panjang, di kepalanya juga terdapat kain penutup.
Terlihat cantik dan anggun di mata Wulan. Gadis itu terus memperhatikannya sampai bayangan perempuan itu tak lagi terlihat.
**
__ADS_1
Tak terasa sudah sepekan Wulan ikut bekerja di kantor grandpa nya. Selama itu pula ia memperlihatkan kesungguhan nya dalam bekerja.
Tak hanya itu saja, ia juga selalu berpapasan dengan wanita karier yang memakai pakaian yang serba panjang dan menutup aurat.
Hal itu mengingatkan nya pada Aisyah. Namun perbedaannya, Aisyah memakai pakaian yang serba longgar dan bahkan wajahnya sama sekali tak terlihat.
Sedangkan wanita karier itu pakaian nya tidak terlalu longgar dan wajahnya memang terlihat. Keduanya sama-sama anggun di mata Wulan.
Wulan juga heran, sudah lama berteman dengan Aisyah, tapi baru kali ini dia memuji keanggunan sahabatnya itu.
**
Dia beranjak dari tempat tidurnya lalu menyingkap tirai jendela. Matanya menyipit ketika sinar matahari begitu terang menyinari bumi pagi itu.
"Selamat datang hari Minggu. Hari ini aku akan bersembahyang. Semoga bisa menambah keimanan ku." gumamnya sambil tersenyum.
Ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi terlebih dulu. Barulah ia mencari keberadaan grandma dan grandpanya.
Setelah berkeliling rumah, akhirnya ia melihat pasangan sepuh itu tengah menanam bunga.
__ADS_1
"Selamat pagi grandma, grandpa." sapa nya sambil tersenyum hangat, dan berjalan mendekat ke arah keduanya.
"Kenapa tidak membangunkan Wulan?" tanya gadis itu sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ini kan hari libur. Jadi grandma pengen kamu istirahat dulu setelah seminggu bekerja. Pasti capek kan?"
"Tidak terlalu capek juga grandma. Tanya saja sama grandpa, seminggu Wulan ngapain saja di kantor." kekeh Wulan.
"Apakah sebelah sini juga perlu di cangkul grandpa?"
Wulan menunjuk tanah dekat bunga yang baru saja di tanam, laki-laki sepuh itu pun mengangguk sambil tersenyum.
Ia segera mencangkul tanah itu dengan sekuat tenaga. Lalu grandma memasukkan batang bunga ke dalam lubang itu.
Mereka bertiga bekerja sama untuk membuat taman bunga mawar di depan rumah. Leon yang sengaja mengintai pujaan hatinya dari balkon rumahnya hanya bisa menghela nafas berat.
"Haduh, dasar Wulan. Ngga sayang sama kulit tangannya apa? Nanti kalau kasar gimana?" gumamnya.
"Aku liatin dari sini saja lah, capek kalau harus bantuin dia jadi kuli bangunan." kekeh Leon.
__ADS_1