Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 100 mengajak rujuk


__ADS_3

Presentasi yang di lakukan Rehan di depan banyak orang termasuk Aisyah dan para ajudan yang mengiringinya sama sekali tidak mendapat tepuk tangan saat sudah selesai. Tapi yang Rehan tidak kecewa karena sepanjang ia berbicara Aisyah kadang tersenyum padanya.


Lebih tepatnya senyum sinis yang Aisyah layangkan pada Rehan di artikan sebagai senyum untuk menggodanya. Ha ha ha. PD banget di Rehan ini.


"Pak Rehan nggak pernah presentasi yah, asal bicara ngawur aja di depan, niat bercanda tapi kami malah heran di sini pak!". Bisik Handoyo pada Rehan.


Rehan sama sekali tidak menggubris, ia pikir yang dikatakan bawahannya itu adalah bentuk tidak puas hati karena yang di pilih untuk presentasi adalah dirinya bukan dia. Karena menjaga imej di depan Aisyah, Rehan menahan agar tidak memarahi Handoyo yang sudah lancang berkomentar.


Aisyah sama sekali tidak membahas tentang presentasi yang di utarakan Rehan sebentar tadi, karena percuma yang di sampai kan hanya kebanyakan lelucon, bahkan materi yang harusnya ia sampaikan sangat tidak jelas. Ia memilih membiarkan mantan suaminya itu duduk nyaman dulu di posisi nya tanpa merasa sedikit pun keraguan.


Rombongan Aisyah yang datang dari kantor pusat berpamitan pergi, akhirnya Rehan bernafas lega karena Aisyah sama sekali tidak menunjukkan ketidaksukaan nya atau komplain, ia tersenyum puas karena Aisyah tidak ribet sama sekali sangat beda dengan Zack yang sebelum pergi pasti harus memarahi dan mengancamnya terlebih dahulu.


Saat semua sudah berdiri ingin pergi, Rehan mencegah dengan menggenggam tangan Aisyah. "Boleh kah kita ngobrol sebentar?". Mohon Rehan.


Semua mata menatap tidak suka dengan kelancangan Rehan memegang atasan mereka.


"Pak Rehan jangan ti....". Alena berusaha melindungi tapi Aisyah mengangkat tangannya agar berhenti.


"Lepaskan tangan ku maka kita akan bicara!". Tegas Aisyah pada Rehan.


"Tapi, Cha". Cegah Alena merasa cemas.

__ADS_1


"Kalian semua keluar dulu! Saya ingin mendengar apa yang akan di sampaikan oleh direktur Rehan?". Titah Aisyah.


"Saya temani ya?". Pinta Alena memelas, ia tidak ingin meninggalkan sahabatnya sendirian meladeni mantan suaminya.


"Kamu tunggu saja diluar bersama yang lain, aku sebentar saja kok nggak perlu cemas begitu, kamu kenal aku siapa akan?". Bujuk Aisyah mengingatkan kembali pada Alena bahwa dia jenis yang tidak mudah di kendalikan oleh orang yang dia benci.


Alena memilih percaya pada Aisyah dan turun mengayunkan kakinya keluar ruang meeting. Rehan berubah sembringan, tidak menyangka akan semudah ini membujuk Aisyah untuk berbicara berdua dengannya. Dengan perubahan yang dia lihat dari mantan istrinya dari segi penampilan dan status tidak dapat mengubah rasa yang ada pada Aisyah padanya pikir Rehan.


"Kita duduk yuk! Supaya lebih nyaman ngobrol nya". Ajak Rehan menunjuk kursi meeting yang berada di dekatnya.


Aisyah nurut dan duduk di kursi yang di tarik Rehan untuknya. Tatapannya tetap sama, datar tanpa ekspresi suka maupun keberatan, melipat tangan di dada menambah kesan dingin yang ada dalam dirinya.


"Maaf kan aku, Sayang. Selama ini aku salah telah nyakitin hati kamu, mengkhianati perkawinan kita hanya demi perempuan murahan seperti Desi. Dia sudah lama hadir lagi dihadapanku untuk merayuku tapi aku tidak menggubris dan tidak segan mengusirnya dari kantor beberapa kali, aku sampai bosan dan memohon agar dia tidak mengganggu ku lagi karena aku sudah ada kamu yang sempurna dalan hidupku". Jelas Rehan dengan wajah menyesal.


Fokus mendengarkan tapi wajah Aisyah tetap dingin tanpa ekspresi apa pun.


"Desi meminta ku menghabiskan makanan yang dia bawa sebagai syarat agar dia tidak menggangguku lagi, aku pun menurut karena memang sangat risih dengan kehadirannya, kamu tahu kan aku terpuruk dulu karena dia, yang ada hanya rasa benci untuknya ketika itu. Dan benar saja, Desi tidak lagi databf menemuiku tapi malah aku yang gelisah dan selalu memikirkan wajahnya. Sampai lupa diri, lupa segalanya yang menjadi prinsip hidupku, kamu dan Albar yang selalu menjadi prioritas utama ku sebelumnya malah berubah jengah dan bosan dengan kalian. Sepulang dari sidang perceraian kita, aku memergoki Desi sedang melakukan sesuatu di dapur, ia meludah pada makanan yang akan diberikan padaku, ternyata selama ini aku di pelet, sayang". Rehan mencoba menggenggam tangan Aisyah dan mulai meneteskan air mata penyesalan.


Aisyah sama sekali tidak menolak, tapu wajah tetap sama, datar dan dingin. Entah apa yang ada dalam pikiran Aisyah saat ini mendengar penjelasan yang di sampaikan Rehan dengan panjang lebar.


"Waktu itu aku hanya menegurnya tanpa berniat berpisah karena dia sedang mengandung anak kami, tapi aku tidak lagi memakan makanan pemberian darinya sama ada dia masak sendiri atau beli diluar. Aku mau menghilangkan sihir dalam tubuhnya yang berhasil dikendalikan olehnya, aku juga bertemu ustadz meminta di rukiyah, sekarang kami sering bertengkar karena aku berubah selalu acuh dan cuek padanya. Pikiranku kembali seperti dulu, kamu dan Albar selalu hadir dalam pikiran dan mimpiku". Rehan tertunduk sambil menghapus air matanya dengan sebelah tangan.

__ADS_1


"Aku tahu aku salah telah menyakiti perasaan kamu dan anak kita. Tapi percaya lah aku tidak bermaksud seperti itu, aku di pelet oleh Desi, sayang. Maaf kan aku!". Lirih Rehan.


Aisyah merubah mimik wajahnya, ucapan mantan suaminya samamu sekali tiada kebohongan. Hatinya tersentuh mendengar penjelasan mantan suaminya itu.


"Terus sekarang mau kamu bagaimana?". Tanya Aisyah mulai membuka mulut.


"Aku mau kita seperti dulu lagi tapi melibat siapa sebenarnya kamu aku jadi minder dan tidak percaya diri mengungkapkan rujuk sama kamu. Aku sedari aku siapa jika di sandingkan dengan anak dari keluarlah Purbalingga, pewaris dari semua aset keluarga kamu. Itu lah aku tidak berani datang menemui kamu, tapi hari ini melihat wajah kamu aku tiba - tiba memiliki kekuatan untuk mengungapkan nya". Rehan menatap mata Aisya tajam penuh harap.


"Ma ma maksud kamu apa, mas?". Aisyah menjadi gugup dengan dengan perkataan yang kurang jelas dari Rehan.


"Aku mau ajak kamu rujuk, sayang!". Tegas Rehan.


"Rujuk?". Bingung Aisyah.


"Iya, Aisyah itu pun kalau kamu bersedia menerima ku lagi. Kasta kita sekarang amat berbeda jauh, tapi percaya hati aku selama ini hanya untukmu, di antara kita ada Albar yang sangat memerlukan kasih sayang kita berdua sebagai orang tua kandungnya. Kamu mau kan rujuk sama aku?". Tanya Rehan lagi.


"Aku tidak bisa memutukkan ini sendiri". Elak Aisyah.


"Jujur sama aku! Kamu masih sayang sama aku atau memang sudah tiada lagi rasa sedikitpun untuk lelaki di hadapanmu ini?". Aisyah semakin bingung mendengar pertanyaan dari Rehan.


"Perasaan? Sayang? Apa aku masih memiliki itu dalam hati aku untukmu mas Rehan?". Batin Aisyah.

__ADS_1


__ADS_2