
Alena memutar matanya malas. Ia mengelak untuk bersitatap dengan Rehan sekarang. Ia sedang banyak kerjaan di rumah makan pada waktu selarut ini karena pelanggan sedang banyak tadi sedangkan pekerja yang berkerja mencuci dan membersihkan ruangan tidak sempat menyelesaikan kerjanya.
"Mas kalau mau nelpon hanya untuk iseng - iseng doang sama aku, lebih baik lain kali aja deh mas. Aku lagi banyak kerjaan, nih. Lihat sendiri kan cucian piring ini lagi banyak banget". Kata Alena malas.
"Kamu duduk manis aja, nanti aku kirim seseorang untuk menggantikan tugas kamu men cucu piring itu dan kalau perlu tugas yang lain juga. Ada yang perlu 0 mas sampai sama kamu, penting!". Imbuh Rehan tidak mau di abaikan.
"Benar, kah? Tapi kalau datang nya besok lebih baik nggak usah, besok juga ada pekerja yang akan melakukan nya tapi aku nggak suka lihat tumpukan piring ini sehingga nggak bisa tidur. Mas, ngomong aja sekarang aku dengar kok". Balas Alena acuh..
Rehan mematikan panggilan lalu menghubungi orang bawahannya untuk segera datang ke rumah makan Alena untuk menggantikan tugas wanita itu mencuci piring. Bawahannya itu dengan senang hati melakukan tugasnya setelah di iming - iming bayaran yang fantastis. Hanya mencuci piring semalam saja udah mendapatkan uang lima belas juta.
"Baik pak Rehan. Saya akan datang sekarang. Serahkan saja tugas ini padaku. Jika pak Rehan membutuhkan bantuan lagi jangan cari orang lain cukup hubungi aku saja seperti biasa". Imbuh wanita itu dengan girang setelah menerima notifikasi penerimaan dana melalui mobile banking.
Rehan mematikan panggilannya lalu kembali menghubungi Alena.
"Ada apa lagi, sih mas?". Tanya Alena kesal.
"Cuci tangan kamu dan ngobrol sama aku, kalau tidak aku akan datang menemui kamu di sana larut malam ini juga". Ancam Rehan.
Alena sudah mengatakan pada Rehan jika ia tidak suka keluar malam bersama pria. Ia lebih suka mengurung diri di kamar dan istirahat karena besok harus ke kantor dan ia paling kesal jika mendengar fitnah tetangga. Padahal alasan sebenarnya karena ia malas melibat6 wajah Rehan pada malam hari. Itu bisa menghancurkan mood nya satu hari. Ketemu di kantor saja dan duduk di dalam ruang sama sudah membuatnya bosan dan gerah apa lagi harus menatap wajah nya juga saat malam hari.
"Jangan - jangan! Iya, aku berhenti sekarang". Sahut Alena menyerah. Dari pada harus melihat wajah pria itu sekarang.
__ADS_1
"Gitu dong. Nurut sama calon suami. Aku juga sudah meminta si mimin untuk datang ke sana mencuci piring - piring kotor itu. Jadi kamu tenang saja yah". Bujuk Rehan pada wanita kesayangan nya.
Alena membuang mata kesal tapi tentunya tidak di lihat oleh Rehan. "Terima kasih, mas. Kamu memang yang terbaik deh". Puji Alena terpaksa. "Jadi apa yang ingin mas sampaikan?". Sambungnya bertanya.
"Coba kamu baca berita terkini yang terjadi pada perusahaan kita. Tapi aku menegaskan terlebih dahulu kalau semua itu terjadi dengan sendiri nya. Jangan jadi seperti ibu yang menuduhku tanpa bukti". Imbuh Rehan mengingatkan.
Alena menatap Rehan penasaran. "Berita terkini?". Alena mulai mencari tahu dan matanya membulat sempurna membaca artikel kematian Aisyah.
"Jadi dia sudah melakukannya? Dasar pria pembohong!". Batin Alena dengan perasaan campur aduk. "Aisyah, maaf kan aku". Lirih nya sedih.
"Bagaimana kamu sudah menemukannya?". Tanya Rehan memastikan.
Alena mengatur nafasnya yang mulai memacu dengan kuat akibat kesal dengan Rehan tapi dengan sekuat tenaga ia harus menahan semuanya dan bersikap biasa - biasa aja supaya Rehan tidak curiga padanya.
"Kamu nggak marah? Kamu nggak lagi berpikiran buruk pada ku kan?". Tanya Rehan memastikan .
"Aku memang sedang marah tapi bukan sama kamu tapi sama orang yang telah membunuh Aisyah. Untuk apa aku marah sama kamu kalau bukan kamu yang melakukan nya...". Jawab Alena meyakinkan.
Rehan bernafas lega karena Alena tidak seperti ibunya yang langsung mengatakan jika dirinya lah yang telah membunuh Aisyah dengan menyewa pembunuh bayaran. Rehan menatap Alena penuh cinta, ia tidak menyangka akan menemukan wanita sebaik Alena.
"Tapi ingat mas. Jika terbukti mas yang sudah membunuh Aisyah maka jangan salah kan aku jika hubungan kita berakhir!". Ancam Alena.
__ADS_1
Rehan tersenyum dan meyakinkan wanita nya. "Kamu tenang saja, sayang. Aku sudah berjanji padamu untuk tidak mengusik hidup Aisyah dan keluarganya lagi apa lagi sampai membunuhnya. Aku sudah punya kamu, masa lalu biar lah menjadi masa lalu. Yang harus aku pikir kan sekarang bagaimana meyakinkan kamu untuk cepat - cepat setuju menikah dengan ku". Rayu Rehan mengalihkan pembicaraan.
"Kalau tentang itu kan kita sepakat untuk melakukan pendekatan terlebih dahulu. Mas janji tidak akan memaksa, kan. Sabar menunggu aku sampai aku benar - benar siap. Memang aku udah menerima kamu dan mencintai kamu tapi aku belum siap untuk berumah tangga sekarang". Imbuh Alena.
Rehan mengangguk paham dengan maksud Alena. Itu yang ia suka dari Alena, meskipun sudah di iming - iming harta yang melimpah jika mereka sudah resmi menikah, tapi Alena sama sekali tidak tertarik dan tetap belum siap.
"Tunggu - tunggu, kamu bilang apa tadi?". Tanggapan Rehan sangat berlebihan.
"Yang mana?". Tanya Alena sok tidak tahu maksud Rehan.
"Kamu bilang sudah mencintai aku? Apa itu benar?". Tanya Rehan memastikan apa yang ia dengar dari mulut wanita nya.
"Mulai kumat nih alai si pria songong. Buat aku muak". Batin Alena.
Melihat Alena tidak bisa berkata - kata, Rehan berpikir ia sedang malu. "Kamu nggak perlu mengulangi nya. Aku tahu kamu malu untuk mengakuinya. Terima kasih ya sudah mau mencintaiku. Aku tahu kamu pasti tidak bisa menolak pesona ku, apa yang kurang dari ku. Aku ganteng dan kaya raya. Semua yang di ingin kan seorang wanita untuk di jadikan pendamping hidup ada padaku. Makanya dulu saat kamu berniat menolak ku. Aku kukuh ingin mengejarmu, karena aku yakin suatu hari nanti kamu pasti akan mencintaiku dengan sendirinya..". Ucap Rehan dengan bangga.
"Ini orang percaya diri banget. Duda dua kali berarti tidak becus menjadi suami pada dua wanita yang berbeda. Itu membuktikan bahwa dia pria yang tidak layak di jadikan suami. Soal gantengnya aku tidak peduli asal pria itu penuh dengan tanggung jawab dan penuh perhatian. Harta bisa di cari bersama, tidak kesah lah dia kaya atau miskin itu nggak penting...". Gumam Alena menyindir Rehan.
Tapi sayang yang di ucapkan malah tidak terdengar oleh pria itu, tiba - tiba jaringan menjadi jelek sehingga panggilan terjeda.
Alena bernafas lega karena ucapannya pasti akan membuat Rehan murka. Dia tidak peduli jika Rehan memutuskan nya karena sikapnya yang terlalu ikut campur tapi yang ia takut kan adalah bila Rehan menyakiti keluarga nya. Aisyah yang di kelilingi pria perkasa saja sudah berhasil ia singkirkan, apa lagi ia dan keluarga nya yang sangat lemah ini. Ia pasti akan mudah melenyapkan nya tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.
__ADS_1
"Aku akan menyusun rencana dengan sebaik - baik nya. Saat itu tiba maka aku dan keluarga ku akan selamat mana kala dia akan di permalukan di sejagat indonesia. Aku tidak akan pergi sebelum membuat wajah sok kegantengan ini kotor sekotor kotor nya...". Batin Alena dendam..