
Sementara Aisyah dan Rehan sedang menuju rumah mereka setelah baby Albar di benarkan untuk di rawat di rumah, engan berbekalkan obat dan tunjuk ajar merawat anak mereka yang di yakini akan cacat akibat kejadian tempo hari.
Sepanjang perjalanan pulang, hening hanya deru suara mobil yang terdengar, Aisyah, Rehan maupun bu Wahida larut dalam pikiran masing - masing. Aisyah menggerutuki dirinya sediri atas kelalaian yang telah mengakibatkan anaknya menjadi seperti ini.
Sedangkan Rehan lebih fokus mengemudi dan tidak terlalu menggubris penjelasan dokter yang baginya hanya sebuah prediksi belaka. Manakala ibu wahida di kursi belakang sama sekali tidak merasa bersalah dengan apa yang telah menimpa cucunya. Dalam pikirannya sekarang adalah bagaimana menyingkirkan dua manusia benalu itu dari hidupnya dan hidup anaknya, Rehan.
Di sela memaki kebodohannya, Aisyah tetap masih mencurigai mertuanya adalah dalang semua kejadian ini. Nafasnya naik turun menahan sesak di dada nya.
Baginya, ini lebih menyakitkan Berbanding Melihat Suaminya bermesraan dengan wanita lain di hadapannya. Rasanya bagai di hantam batu yang cukup besar dari ketinggian berkilo - kilo meter dan menimpah tepat ke tubuhnya saat dokter menyampaikan kenyataan pahit ini.
"Semoga ini hanya sekedar prediksi dokter yang bisa terhindari, kuat kan aku menjalani segala ujian berat ini yah, Allah!...". Mohon Aisyah pada tuhan yang maha esa dalam hatinya sambil menatap lekat baby Albar yang terlelap dalam pelukannya.
Sesampai di rumah, berdiri Desi yang menyambut mereka di depan pintu. Dia memang di pinta ikut pulang ke rumah Rehan oleh ibu Wahida, Karena membawa mobil sediri makanya dia langsung datang saja tanpa di jemput Rehan terlebih dahulu. Sehabis berduaan dengan Zaki di rumah sakit, Desi turut hilang entah kemana.
Aisyah memilih tidak banyak bicara dan tidak ambil pusing dengan apa yang akan di lakukan mereka di hadapannya sekarang, yang menjadi fokusnya adalah anaknya. Dia harus berusaha bertahan menahan perih yang di toreh di dalam hatinya, menurut kata dokter kasih sayang kedua orangtuanya amat di perlukan untuk kesembuhan baby Albar, niat untuk menuntut cerai rasanya akan di urungkan dari niatnya.
Aisyah membawa anaknya masuk ke dalam kamar agar tidur anaknya itu lebih nyenyak, tapi tak sangkah langkahnya di ikuti oleh suaminya masuk ke kamar itu.
"Mas? Kamu kenapa ninggalin Desi di bawah?". Ucap Aisyah sendu, menahan sesak di dadanya.
"Aku hanya ingin memperingatkan kamu lagi! Jangan sesekali kamu dekat dengan yang namanya Zaki itu, jika aku mendapati kamu bertemu lagi dengannya, aku ti....". Ancam Rehan dengan sorot mata tajam.
__ADS_1
Pikirannya sekarang sedang terintimidasi dengan ketakutan jika istrinya itu akan selingkuh di belakangnya.
"Kamu mau apa mas?". Potong Aisyah meninggikan suaranya. "Kamu sendiri dekat dengan Desi sampai melewati batas pergaulan biasa, harusnya kamu sadar mas! Bukannya hanya menyalahkan aku dan tidak mengintropeksi diri kamu". Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya itu. Bukannya sadar, dia malah hanya balik mengancam.
"Sejak kapan kamu sudah berani melawan seperti ini Aisyah? Apa pria tadi yang mengajarkanmu berlaku kurang ajar pada suami, bahkan ibu dan Desi bagai kamu tidak anggap kehadirannya".
Hufh
Aisyah memilih membisu mendengar perkataan Rehan, dirinya begitu lelah dan tertekan dengan keadaan ini, suaminya sama sekali tidak memperdulikan setiap bait kata yang terlontar dari mulutnya. Semakin dia membuka mulut, dia hanya akan semakin di pojokkan.
Melangkah kan kaki menaiki kasur di mana baby Albar tertidur lelap, dia tidak ingin menjawab atau bahkan mendengar apapun dari mulut suaminya yang hanya berucap untuk membuatnya semakin tertekan. Niat ingin membersihkan diri tadi di urungkan.
Rehan yang tidak ingin berdebat lagi pun langsung meninggalkan Aisyah bersama baby Albar.
*
*
Ponsel Aisyah berdering membuat yang empunya tersadar dari tidur nyenyak nya. Lelah di tubuhnya sudah sedikit berkurang. Dia menggeser tombol hijau setelah melihat pengacara Jasmin sebagai pemanggil kemudian meletakkan ponsel di telinga.
📱 "Halo..."
__ADS_1
"Halo Jasmin..". Balas Aisyah lesu.
📱 "Kok suara kamu terdengar sedih seperti itu? Kamu sedang ada masalah yah? Kamu belum berhasil dapatin buktinya?".
Jasmin terdengar khawatir mendengar suara kliennya. Dia menjadi takut kliennya itu takut kehilangan hingga tidak berani untuk melepas suaminya dan memilih tetap bertahan dalam rumah tangga yang tidak sehat itu.
Aisyah menghela nafas berat, dia tidak mungkin mengatakan semua ini pada pengacaranya itu sekarang. Dia akan mengajak berjumpa bagi membatalkan niatnya untuk bercerai dari Rehan. Demi anaknya, dia akan melakukan apa saja.
"Boleh kita bertemu?". Singkat pertanyaannya dan langsung di iyakan oleh pengacaranya.
📱"Sudah tentu, nanti saya jadwalkan pertemuan kita. Secepatnya kita akan bertemu..".
Panggilan di matikan setelah sepakat ingin bertemu. Mulai besok, Aisyah akan mencari ART untuk membantunya mengurus rumah dan meladeni mertua julitnya.
Dia tidak peduli jika suaminya akan marah dan tidak setuju, ini juga agar dia lebih fokus menjaga Albar dan menyelesaikan kerjanya yang sudah menumpuk di tangan bosnya, Zack.
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih dengan kakak semua yang setia membaca cerita ku. untuk sementara belum di lulus kan kontraknya. mohon doanya yah! moga segera lulus kontrak ,amin