Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 261 Rencana hampir berhasil


__ADS_3

"Sabar, non. Saya pasti akan membuka nya tapi perlahan ya. Jika hasil nya kurang memuaskan maka kita akan lakukan operasi yang kedua". Imbuh Dokter Aya menjelaskan.


"Apa? Dasar nggak becus! Kenapa harus melakukan operasi kedua? Itu sudah membuktilkan jika kamu bukan dokter yang becus dalam melakukan operasi!". Teriak Cleo kesal.


"Kamu tenang dulu, nak. Hidung kamu nanti geser kalau kamu bicara lantang seperti itu sekarang. Kamu tenang aja dulu, ya. Serahkan semua pada dokter Aya. Banyak kok orang melakukan operasi plastik lebih dari sekali demi hasil yang memuaskan. Jadi kamu tidak perlu khawatir, asal kamu cepat terhindar dari kejaran polisi dan sebagainya yang ingin menangkap kamu". Bujuk Shela.


Cleo hanya membuang muka malas. Ia paling tidak suka berdua di rumah sakit apalagi dalam waktu lama. Itu membuat nya sangat bosan dan ingin pulang saja dan nongkrong dengan rekan - rekannya.


Dokter Aya dan seorang asisten nya perlahan membuka perban di wajah Cleo. Wajah itu terlihat amat berbeda dari sebelum melakukan operasi. Wajah nya kini sangat tampak sempurna tapi belum sempurna jika niat awal sebenar adalah untuk menyerupai Jasmin. Dokter Aya menghadapkan cermin ke hadapan Cleo.


Cleo meraba wajah nya yang kini sangat berbeda. Ia tidak pernah menginginkan menjadi orang lain, tapi demi keamanan dirinya ia terpaksa melakukan semuanya. Pengorbanannya ini akan ia gunakan untuk membalas dendam nya pada Zack dan keluarganya. Tapi operasinya tidak berjalan lancar. Muka nya masih terlihat sedikit berbeda dengan wajah kembarannya, Jasmin.


"Tampak nya kita harus menjadwalkan operasi kedua untuk mengubah sedikit lagi bentuk di wajah kamu. Hidung harus tambah di mancung kan lagi, dagu juga harus di tiruskan lagi dan paling penting, mata kalian ini masih sangat terlibat berbeda..". Imbuh Dokter Aya sambil memperhatikan wajah Cleo dan foto Jasmin.


"Dokter lakukan yang terbaik saja. Kami nurut saja dokter. Tapu saya harap tiada efek samping dari operasi ini yang membahayakan nyawa anak saya..". Ujar Shela setuju.

__ADS_1


"Memandang kan ini baru beberapa hari setelah operasi pertama, lagi pula kesehatan Cleo juga tampak menurun. Jadi operasinya kita jalan dua minggu kemudian...". Jelas dokter Aya.


"Kok lama banget, kenapa tidak besok saja? Dokter sengaja mau mengurung aku di sini dalam waktu lama. Aku bosan dan muak berada di ruangan ini dua puluh empat jam. Sekarang aku harus menunggu dua minggu lagi di sini. Yang benar saja kamu dokter!". Kesal Cleo tidak terima.


"Ini untuk mengurangi kemungkinan ada efek samping yang berbahaya pada kamu, nona. Saya tidak dapat memastikan kesehatan anda jika kita melakukan operasi dalam waktu terdekat ini. Jadi saya mohon bersabar lah sebentar saja, demi hasil yang optimal dan aman..". Sahut dokter Aya.


"Benar yang di katakan dokter, nak. Lebih baik kita ikut prosedur saja yah. Jangan memaksakan kehendak, mami khawatir terjadi sesuatu pada kamu nantinya. Jika hal itu terjadi, bukan hanya kita tidak bisa membalaskan dendam pada Zack, tapi kamu juga di khawtirkan sakit. Jadi ibu mohon kamu nurut aja, ya. Ibu akan selalu memenuhi kebutuhan kamu dan keinginan kamu agar tidak bosan tinggal di ruangan ini,..". Bujuk Shela pada putri nya yang keras kepala.


Cleo hanya bisa membuang muka malas. Ingin memberontak juga tidak mungkin karena ini yang terbaik untuknya. Ia akan belajar bersabar untuk hasil yang optimal. Tapi setelah semuanya berhasil, ia tidak akan menaham diri lagi. Ia akan melakukan semua cara untuk membuat hidup Zack menderita.


Baginya, tidak masalah melakukan operasi kedua pada Cleo dalam waktu terdekat tapi ia sengaja mengulur waktu untuk Zack menjalankan rencana nya yang lain. Ia juga membuka koneksi pada Zack untuk memantau pergerakan Cleo selama di rumah sakit ini. Dengan siapa ia bertemu selama ini dan kalau bisa ia juga akan mengetahui rencana yang sedang di rencanakan Cleo dan Danish.


"Tugas pertamaku sedang berjalan dengan lancar, wajah nya sengaja aku buat tidak sempurna sesuai keinginan agar aku bisa menahan nya lebih lama di sini. Semoga tiada yang mencurigai ku, jika tidak maka masa depan ku dan rumah sakit ini akan lenyap begitu saja di tangan mereka. Tapi aku harus berani mengambil resiko, untuk masa depan ku dan rumah sakit ini agar lebih baik dari sekarang.


*

__ADS_1


*


Bu Wahida ssdang menunggu pihak agen datang menjemputnya dan anak nya. Ia sudah mempersiapkan semuanya, suster yang ingin menemaninya merawat Rehan juga sudah di ganti. Ia terlihat tulus merawat Rehan. Ia masih muda dan sangat memerlukan pekerjaan tetap yang menghasilakan gaji yang lebih tinggi berbanding gaji nya di rumah sakit ini. Ia baru bekerja sebagai honoret dan mendapatkan gaji yanh berbanding jauh dari jerih payah nya. Makanya ia rela ikut bu Wahida menuju tempat baru, asal ia bisa mengirim gajinya pada keluarga nya di kampung.


"Ini sudah hampir jam lima sore dan tiada satu orang pun yanhg datang menjemput". Gumam bu Wahida gelisah. "Mana diluar polisi banyak lagi. Kami akan kabur kemana kalau begini?". Bu Wahida semakin bingung dengan keadaan yang ia alami sekarang.


Tiba - tiba tersengar riuh dari luar ruangan. Tapi Ahmad sempat mengingatkan nya beberapa jam lalu memalui pesan. Jika ada keributan di luar ruangan jangan sampai mereka keluar dan memperlihatkan diri mereka sebelum anak buahnya datang menjemput mereka ke dalam ruangan.


Bu Wahida beserta suster Rehan menunggu dengan perasaan bimbang. Keriuhan di luar sudah berlangsung cukup lama, hampir setengah jam tapi belum ada tanda - tanda ada yang akan datang. Polisi yang berjaga di depan juga kedengarannya sudah pergi dari posisi mereka untuk menyelamatkan diri. Dari suara yang bersahutan yang terdengar dari dalam ruangan, di rumah sakit ini terjadi kebakaran yang cukup dahsyat.


"Entah ini musibah atau keberuntungan untuk kita, polisi mengabaikan keberadaan kita di dalam sini dan langsung lari nenyelamatkan diri. Mungkin mereka berharap jika kita bertiga terutama Rehan mati terbakar api di dalam sini. ..". Gumam bu Wahida terdengar lirih.


Satu sisi ia senang karena jalan untuk kabur dari sini terbuka luas, tapi di sisi lain ia sedih karena perlakukan orang di sekelilingnya yang tidak memperdulikan mereka. Semua tahu jika mereka masih berada di dalam ruangan itu, tapi tiada satu pun yang datang menyelamatkan mereka bahkan dokter dan petugas rumah sakit seakan membutakan mata memekakkan telinga dengan keberadaan mereka.


Tiba - tiba pintu di buka bersama dengan kepalan asap yang cukup tebal memasuki ruangan. "Maaf kami lambat, saya harap kalian baik - baik saja. Kami harus menunggu sampai asap menyelimuti lorong untuk ke ruangan ini, agar pergerakan kita saat kabur tidak terlihat di CCTV...". Jelas seorang pria yang di yakini anak buah Ahmad.

__ADS_1


"Akhirnya kami terselamat kan". Gumam syukur bu Wahida dalam hati.


__ADS_2