
"Seandainya ayah! Seandainya ada ayah akan melakukan apa pada orang itu?". Tanya Aisyah memperbaiki perkataanya.
"Jika ada maka ayah akan membuat hidup orang itu sengsara dan tidak akan pernah hidup tenang. Enak aja dia tahu keberadaan kamu tapi malah diam saja, jika dia dekat dengan kami maka dia tahu betapa besar perjuangan kami untuk menemukanmu tapi ia malah tenang melihat kami hidup tidak tenang seperti itu...". Jawab Panji dengan sangat tegas.
Aisyah menelan slavina kasar, ia tidak menyalahkan ayahnya karena siapa saja yang di perlakukan seperti itu pasti akan marah dan dendam sekali. Apa lagi jika orang itu adalah orang terdekat kita, tahu semua perjuangan yang pernah mereka lakukan.
Panji memiliki kepribadian yang tidak mudah di ubah cara pemikirannya, jika ia sudah berkata A maka harus A tidak ada toleransi walau apa pun sebab mereka melakukan kesalahan. Apa lagi kesalahan yang di lakukan ini bukan hal sepele, ini menyangkut hubungan yang terpisahkan selama dua puluh tahun lebih antara anak dan kedua orang tuanya.
Aisyah tahu ia tidak bisa mengubah prinsip ayahnya, tapi ada satu orang yang bisa membujukkany itu pun kalau orang itu sepemikiran dengannya. Ia pun beralih menatap Mega yang tampak berpikir jauh tentang pertanyaan Aisyah barusan.
"Kalau ibu pula bagaiman? Apa yang akan ibu lakukan pada orang itu?". Tanya Aisyah pada Mega.
"Semoga ibu sehati dan sejiwa dengan ku, aku harap ibu bisa tabah dan menghukum Zack ringan - ringan saja tidak perlu sampai seperti ayah yang ingin menghancurkan kehidupannya". Batin Aisyah berharap.
Mega tidak bergeming, ia larut dalam pemikirannya sendiri, pandangannya kosong jauh kehadapan. Aisyah menggenggam tangannya baru lah ia tersadar dari lamunannya itu dengan sedikit terkejut.
"Ibu nggak papa kan?". Tanya Aisyah khawatir.
Mega menggeleng kepala sambil tersenyum tipis pada Aisyah.
"Ibu kok malah ngelamun? Apa pendapat ibu tetang pertanyaan ku tadi?". Aisyah kembali mengulang pertanyaannya pada sang ibu.
__ADS_1
"Nggak perlu kamu tanya ke ibu kamu, ayah sudah hafal banget dengan sifatnya! Walau bagaimana orang lain menyakitinya ia akan dengan suka rela memaafkan, sering bertengkar hanya karena perbedaan pendapat kami. Jadi ayah bisa pastikan kamu akan membuat ayah dan ibu bertengkar lagi dengan andaikan kamu ini". Panji malah kesal dengan Aisyah karen pertanyaan seolah membangkitkan pertengkaran antara ia dan istrinya.
Aisyah tertunduk sesal merasa bersalah telah membuat ayahnya kesal. Tapi ia tidak bisa diam saja jika nanti keluarga mereka berpecah belah karena masalah ini. Ia sebenarnya juga sangat kecewa pada Zack tapi jika di pikir kembali, apa lah daya seorang remaja yang terbuang malah sering mendapat perlakuan tidak baik oleh salah satu tokoh penting dalam keluarga angkatnya.
Jika Aisyah dalam posisi Zack saat itu pun mungkin akan melakukan hal yang sama. Lagi pula hidup Aisyah dulu tidak sengsara banget, ia bahagia di besarkan oleh Ummi Fatimah di panti asuhan, memilik ramai teman yang tulus seperti Alena dan anak panti yang lain, susah senang di lewati bersama bahkan dia rindu menangis berjamaah bersama warga panti saat sedang mengalami krisis ekonomi dan tidak makan selama sehari.
Bukannya merasa sengsara Aisyah malah bersyukur pernah berada dalam pelukan warga panti, karena mereka saling menyayangi tanpa pamrih, tanpa meminta balasan materi cukup balas dengan perhatian dan saling menyayangi.
Tiba - tiba air mata Aisyah luruh membasahi pipinya. Rindu dengan sosok yang sudah membesarkannya dengan penuh kasih sayang, dirinya adalah malaikat bersayap untuk semua anak yatim piatu yang ia besarkan.
"Ummi!". Lirih Aisyah sedih.
Aisyah menggeleng kan kepala perlahan dalam pelukan ibunya, ia tidak bermaksud mengambil hati perkataan ayah nya. "Aku hanya rindu dengan Ummi Fatimah, bu". Lirih Aisyah sedih.
"Nanti kita pergi jenguk dia di sel yah". Bujuk Mega.
"Jika yang aku katakan tetang orang terdekat ibu sudah merahasiakan keberadaan ku adalah benar gimana?". Aisyah kembali menanyakan pandapat ibunya tentang perbuatan Zack.
"Emang siapa orang itu?". Mega balik bertanya.
Aisyah menatap manik mata Mega sebelum memberi jawaban, di matanya sama sekali tidak tersimpan dendam maupun marah. Merasa lega sudah tentu setidaknya sifat pemaaf nya menurun dari ibunya yang baik hati. Ia tidak menyangka jika hati Mega bisa selembut itu sedangkan perbuatan yang sedang mereka perbincangkan bukan hal sepele, bahkan Panji sampai marah padanya walau belum tahu pasti emang ada atau tiada orang yang dimaksudkannya itu.
__ADS_1
Aisyah menarik nafsu dalam hingga pada akhirnya ia memberanikan diri menyebut nama, " Zack". Jawab Aisyah dengan perasaan campur aduk. Ia sedih, kecewa tapi ia juga tidak tega melihat Zack hidup menderita sesuai perkataan ayahnya.
Mega tercengang tidak menyangka jika Zack selama ini sudah mengetahui keberadaan Aisyah dan malah menyembunyikan pada dirinya dan Panji. Menggeleng kan kepala menandakan Mega tidak percaya dengan ucapan putrinya.
"Kamu jangan bercanda, Aish! Ibu tidak suka kamu bersikap seperti itu, Zack bukan jenis anak yang seperti itu, selama ini dia yang selalu perhatian sama ibu memberi ibu kasih sayang seorang anak yang selama ini ibu rindukan akibat kehilangan kamu. Karena kehadirannya dalam sisi ibu bisa sedikit banyak mengobati luka di hati ini. Ibu mohon jangan fitnah anak ibu seperti itu, nak!". Lirih Mega tidak percaya. Ia bangkit dari duduk nyamannya dan mencoba mengatur emosinya.
"Maaf kan Aish, ibu. Tiada niat ingin memfitnah atau merangkai cerita tapi semua yang aku katakan ini benar adanya". Jelas Aisyah merasa bersalah.
Melihat ekspresi kecewa ibunya, ia sudah tahu betapa Mega sakit hati mendengar kenyataan pahit ini. Ia mencoba menenangkan ibunya tapi Mega seolah tidak ingin di dekati, tangan nya terangka terangkat menghentikan Aisyah yang terus mendekatinya.
"Maaf kan, Aish ibu!". Lirih Aisyah sedih, ia tidak ingin melihat ibunya jatuh sakit akibat dirinya. Ia juga bingung harus bagaimana sekarang.
Sikap Mega dalam menanggapi ucapan Aisyah lebih membuat Aisyah sedih berbanding tanggapan Panji tadi. Melihat ibunya seperti terpukul membuatnya turut terpukul dan tidak tahu harus berbuat apa - apa untuk menenangkan sang ibu tersayang.
"Ibu tenang dulu yah! Kita pulang aja dulu, tenang kan perasaan ibu setelah itu kita sama - sama memastikan hal ini pada Zack. Kita pulang yah, bu". Ajak Aisyah membujuk ibunya yang sedari tadi bersikap aneh.
"Kamu pergi aja dulu, ibu ingin di sini sendiri". Pinta Mega tanpa menoleh menatap Aisyah.
Aisyah tidak bisa membantah, percaya pada ibunya dan mengayunkan kakinya keluar dari kebun kaca menuju Mansion utama. Aisyah memilih berdiri mwbgamati tingkah ibunya dari kejauhan. Sebuah sosok dari kejauhan terlihat jelas sedang menghampiri pintu taman kaca.
" Zack?".
__ADS_1