Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 103 mangsa baru


__ADS_3

"Maksud kamu bagaimana sih, Cha?". Alena bingung dengan yang baru saja Aisyah sampaikan pada nya.


"Masak kamu nggak ngerti juga sih! Kan aku sudah bilang aku nggak serius nanggepin mantan suami aku itu, aku memang meminta waktu untuk memberi keputusan tapi belum tentu keputusan aku iti setuju kan, kamu (dan beberapa pembaca) sudan salah paham duluan". Ujar Aisyah ngambek.


"Iya, maaf Cha. Kamu sih ceritanya setengah - setengah, jangan salahkan kami dong yang kesal sama kamu. Terus rencana kamu kedepannya apa untuk membalas lelaki tidak tahu diri itu?". Tanya Aisyah.


"Kita lihat dulu drama mereka selanjutnya seperti apa? Aku sih penasaran maksud pasangan lak nat itu akting sebagus itu, tapi untuk sekarang aku hanya ingin menyelidiki kebenaran dari ucapannya". Jawab Aisyah menatap jauh ke luar jendela.


"Kalau aku sih nggak percaya sepatah katapun dari ceritanya. Konyol aja masa sekarang masih ada yang melakukan hal syirik seperti itu, pasti Desi marah banget tuh kalau tahu ia di katakan main pelet untuk mendapatkan suami kamu itu pun kalau bukan dia sendiri yang beri ide". Alena tampak jengkel dengan pasangan selingkuh itu.


"Mantan suami kalik! Aku juga sama sekali tidak percaya sebenarnya, tapi biar pun semua itu benar aku bukan wanita bodoh yang mau di ajak rujuk. Jika semua rekayasa alangkah jahat jahat nya Rehan seolah tidak mengakui anak kandungnya sendiri". Aisyah membuang nafas geram.


"Nggak heran kalik, selama kamu keluar dari rumahnya jangan kan bertemu Albar tanya kabarnya saja tidak, kan! Bapak yang tea banget dia tuh mah, jangan ladenin tapi kalau kamu mau membalas dendam aku dukung 100 persen. Lelaki seperti mantan suami kamu itu memang pantas di buat jera kalau boleh buang ke sungai supaya cepat pupus dari muka bumi ini". Kesal Alena.


"Sudah ah bahas tentang lelaki itu, dengar nama nya aja aku udah muak banget apalagi harus berurusan lagi dengan dia, amit - amit euw!". Aisyah mengakhiri obrolan mereka tentang Rehan.


"Maaf, habisnya aku penasaran dan cemas sama kamu, aku takut kamu terpengaruh lagi dengan ucapannya. Ayo kita makan yuk! Beberapa hari ini aku nggak begitu berselera makan tapi setelah mendengar penjelasan kamu, seka...". Ajak Alena.


"Sekarang aku yang nggak mood mau makan, kami sih...". Potong Aisyah kesal.


"Maaf deh, aku suap bagaimana?". Bujuk Rehan.


"Kamu apa - apaan sih? Nggak mau, nanti aja aku ngga selera!". Tolak Aisyah.


"Ya udah padahal bu Mega udah kirim makanan banyak gini, baru lihat aja udah enak banget apa lagi kalau masuk ke dalam perut aku semua pasti aku bahagia banget. Kamu yakin kan nggak mau?". Alena membuat rantang makanan yang baru saja sampai sebelum mereka membahas mengenai Rehan.


Aroma makanan yang mengunggah selera begitu memikat siapa saja yang menghirupnya. Aisyah tampak melirik seketika hidangan apa yang ibunya masak untuk makan siang hari ini untuk mereka berdua. Hari ini Zack tidak datang ke kantor karena ada urusan di kantor polisi yang harus segera di selesaikan, Mega tahu Aisyah malas keluar makan jika Zack tidak ikut serta jadi mengirim makan siang untuk anaknya dan Alena.


*

__ADS_1


Sementara di restoran yang ada di hotel, Desi tampak sumbringan malu - malu karena dihadapan sedang duduk pria yang begitu berkarisma.


"Aku akan mencarikan tempat tinggal yang lebih nyaman untuk mu, kamu sabar yah!". Ujar Aldo.


"Eh, nggak perlu repot. Lepas ini aku akan pergi jauh dari tempat ini. Aku akan akan ke pulau Dewata di sa....". Cegah Deai segan.


"Apa? Pulau dewata? Bukannya itu berada jauh dari kota Makasa yah, bahkan keluar dari pulau Jawa kalau nggak silap pulau itu berapa di sekitar pulau kalimantan. Kamu di sana akan tinggal dengan siapa, Des?". Aldo tampak sangat mengkhawatirkan wanitanya.


Desi tersenyum mendengar Aldo begitu mengkhawatirkan keadaannya.


"Di sana ada villa milikku, memang belum pernah ke sana sih tapi hanya itu tempat ku berlabuh untuk saat ini, aku ingin meninggalkan semua ingatan yang menyakitkan di kota ini. Soal siapa yang menemaniku di sana, aku memang ingin sendirian aja dulu menenangkan diri. Lagi pula disana sudah ada ART yang bekerja di sana, satpam yang berjaga dan beberapa pekerja lainnya. Kamu nggak perlu khawatir ok". Imbuh Desi memberi pengertian.


"Kalau kau yakin akan ke sana, akhir hantar yah? Aku nggak tenang kalau kamu ke sana sendirian dalam keadaan hamil besar begini. Aku jadi semakin geram dengan suami kamu itu, teganya dia mengusir kamu dalam keadaan hamil anaknya!". Tangan Aldo mengepal erat di atas meja.


Desi tersenyum lagi dengan sikap pria di hadapannya. "Aku memang harus dihukum, Do. Aku sudah melakukan kesalahan yang menurutnya sangat fatal". Sahut Desi.


"Maaf kalau pertanyaan ku membuat kamu kurang nyaman, tapi kenapa kamu bisa ada di depan gerbang saat aku juga baru keluar dari gerbang? kamu nggak lagi nguntipin aku kan semalam?". Selidik Desi. Matanya menatap lekat bola mata milik Aldo mencari kejujuran sana.


Aldo membalas tatapan itu tidak kalah dalam. "Lebih tepatnya aku ingin menjagamu walaupun hanya sekedar dari luar gerbang".


Antara mereka tiba - tiba hening. Ada getaran yanf di rasakan keduanya yang membuat mereka sukar untuk bersuara lagi.


"Maaf, pesanannya sudah datang!". Seru pelayan menyajikan pesanan.


Desi maupun Aldo sama - sama tersadar dari lamunan dan tiba - tiba salah tingkah. "Iya silakan mbak;". Ujar Desi pada pelayan.


Setelah pesanan tersaji rapi di atas meja, Desi dan Aldo menyantap makanan mereka dengan sesekali melirik antara satu sama lain dengan segan.


Tin

__ADS_1


Tin


Tin


Berapa pesan masuk ke ponsel milik Desi.


(Bagaimana dengan rencana kita, sayang? Berjalan lancar kan? Kamu lihat nggak semalam ada mobil berwarna silver terparkir di sekitar jalan sebelah kanan saat kamu keluar, itu adalah mata - mata yang sering ngikutin ke manapun mas pergi).


(Kamu harus hati - hati yah. Tapi mas yakin itu mata - mata yang hanya di tugaskan mencari tahu tentang hubungan kit berdua yang sebenarnya jadi kamu jangan terlalu khawatir, ok. Jaga diri dan bayi kita baik - baik!)


(Siapa pria yang membawa mu pergi semalam? Mas sempat cemburu tapi mas ingat kembali kamu perna cerita kalau kamu ada teman lelaki yang akan membantu melancarkan rencana kita ini. Bujuk dia pergi bersama kamu ketemu Aisya sebagai selingkuhan kamu, ayah dari anak yang kamu kandung. Mas janji akan beri dia uang berapa pun yang dia inginkan asal jangan terlalu tinggi, nanti kamu marah, he he he).


Ternyata yang terjadi semalam adalah drama mereka berdua agar mata - mata yang di kirim Aisyah melihat dan mengatakan hal itu pada atasan mereka.


Desi membawa pesan dari Rehan dengan wajah datar agar tidak membuat Aldi curiga. Padahal dalam hatinya ada kesal, rindu dan cemas dengan keadaan suaminya.


"Siapa? Suami kamu?". Tanya Aldo dengan wajah tidak suka.


Desi mengangguk. "Dia menyuruh aku tidak usah mengganggu mantan istrinya lagi karena mereka akan segera rujuk. Aku harus bagaimana sekarang, Do? Aku dibuang bagai sampah sedangkan mereka akan bahagia kembali. Aku pernah mendatangi mantan istrinya untuk memintanya menjauhi mas Rehan tapi malah dia mengadu dan aku yang terusir dari rumah". Lirih Desi dengan linangan air mata.


Nafas Aldo tidak teratur, melihat wanitanya menangis seperti itu di hadapannya membuatnya tidak tega. Tangannya sungguh gatal ingin melayangkan pukulan pada suami bajingan wanitanya itu.


"Ikut aku sekarang! Kita akan menemui mantan istri suami kamu itu dan membuatnya malu semalu - malunya!". Aldo menarik tangan Desi sedikit kasar tapi tidak sampai menyakiti wanita itu.


"Kamu mau apa ketemu dengan dia, Do? Lebih baik jangan!". Cegah Desi berpura - pura.


"Kita buktikan padany kalau kamu bukan wanita lemah, jika mereka selingkuh maka kamu juga bisa selingkuh!". Ujar Aldo meyakinkan.


"Yes, masuk perangkap!". Seru Desi dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2