
"Udah setengah jam kita duduk di sini tapi teman kamu itu belum juga terlihat batang hidungnya, dia memang mau datang atau tidak sih?". Kata Desi mulai bosan.
Ia dan Aldo saat ini sedang menunggu pengacara yang merupakan teman dari Aldo sendiri untuk membantu Desi lepas dari pernikahannya bersama Rehan.
"Sabar dong sayang namanya juga pengacara terkenal dan sering menang dalam persidangan maka nya banyak klien dan pasti sibuk banget setiap harinya, dia itu sebenarnya sudah tidak mau lagi menambah tapi karena aku adalah sahabatnya jadi dia sanggup - sanggupin aja deh tapi ya ini resikonya kita harus sabar tunggu dia seperti saat ini karena dia harus melayani klien nya yang lain dulu...". Jelas Aldo membujuk kekasihnya.
"Oh, jadi aku harus bersabar gitu. Siapa sih orangnya sampai sibuk banget kayak gitu? Buat kesal saja tahu nggak, mentang - mentang kita ini teman dia jadi seenak jidatnya melayani kita, kita kan juga bayar". Desi masih kesal karena masih belum lagi melihat pengacara yang di kenalkan oleh Aldo itu.
"Dari pada kita mengambil pengacara lain dan Rehan yang berhasil bekerja sama dengannya lalu kamu kalah bagaimana? Kamu mau sabar atau kalah nanti saat persidangan dan semua milik Rehan kembali ke tangannya kembali, kamu mau yang mana? Pilih aja yang kamu suka". Bujukm Aldo mulai kesal dengan sikap Desi yang tidak sabaran.
"Iya - iya kita pakai dia aja tapi janji yah kalau nanti kita pasti menang!". Ujar Desi mengalah.
"Kamu percaya deh sama aku, sayang. kalau nggak pun sila kamu cari tahu aja tentang dia di media sosial, nama nya cukup terkenal juga loh". Balas Aldo meyakinkan tapi wajahnya menunjukkan ketidaksukaan dengan sikap Desi yang berlebihan.
"Nggak perlu! Aku percaya kok sama kamu aku cuma kesal aja nungguin dia yang bagaikan orang terhormat aja tahu nggak. Aku tuh kesalnya sama dia bukan sama kamu jadi kamu jangan merasa bersalah gitu aku jadi gemas lihatnya". Bujuk Desi menggenggam erat jari jemari Aldo dengan mesra.
Beberapa saat kemudian seseorang datang menghampiri mereka berdua yang sudah menghabiskan minuman pesanan mereka. "Lama ya nunggunya, maklum lah orang sibuk jadi gini deh, he he he". Sapa nya dengan angkuh.
Desi hanya menjelang tidak suka hanya Aldo yang menemaninya ngobrol serta menceritakan semua kisah yang di hadapi kekasihnya dengan suaminya sahnya. Desi memberi sepenuhnya kepercayaan pada Aldo untuk menyelesaikan masalahnya dengan Rehan. Jadi dia hanya menceritakan secara detail pada Aldo dan memberikan beberapa bukti perselingkuhan untuk memberatkan Rehan di pengadilan.
Pertemuan selanjutnya Desi memilih tidak ikut serta karena tidak ingin lagi menunggu lama si pengacara sombong dihadapannya.
"Semua sudah lengkap yah, jadi saya pamit dulu karena sebentar lagi akan ada pertemuan dengan klien lain yang lebih penting". Pamit si pengacara.
"Apa kamu bilang! Klien lain yang lebih penting? Ingat yah duhai pak pengacara terhormat saya ini sudah membayar anda sama seperti tarif yang tersedia jadi kamu jangan menganggap sepele aduan saya. Kalau bukan karena kamu teman dari Aldo sudah aku batalkan kerjasama antara kita berdua, dasar pilih kasih!". Maki Desi kesal.
__ADS_1
Pengacara itu hanya menatap bingung dan ingin meluruskan perkataan wanita di hadapannya tapi Aldo lebih dulu membuka mulut mengusirnya secara halus.
"Bukan gitu maksud dia sayang!". Bujuk Aldo pada Desi kemudian beralih pada teman pengacaranya. "Maaf banget ya, Sam! Dia pasti nggak bermaksud berkata seperti itu, pergi lah pasti klien kamu udah nunggu lama, semoga kesya cepat selesai yah". Usir Aldo seperti salah tingkah..
"Kalau begitu saya pamit dulu dan saya minta kamu meluruskan perkataan pacar kamu barusan saya tidak suka mendengarnya". Akhirnya pengacara itu pergi meninggalkan pasangan itu setelah memberi peringatan ringan.
"Kamu kenapa sih paket tutup mulut aku segala? Sakit tau!". Kesal Desi memegang mulutnya yang terasa perih akibat cengkraman Aldo.
"Maaf ya sayang! Aku nggak sengaja, cuma nggak mau kamu sampai bertindak yang salah. Lihat tadi dia sampai kesal sama kamu kalau dia betul - betul membatalkan perjanjian antara kalian bagaimana kamu nanti bisa kalah loh di persidangan". Bujuk Aldo salah tingkah.
"Iya deh maaf, soalnya sikapnya itu loh angkuh dan sombong banget cara bicaranya siapa coba yang suka dengar jika ada orang yah tidak menghargai kita sebagai pendengar". Jawab Desi mengeluarkan unek - uneknya pada Aldo.
"Iya tapi kamu harus sabar sayang, dia itu orang yang palinh susah di ajak kerja sama karena sedang menyelesaiakan kes seorang pegawai negara itu yang di maksud klien lebih penting karena orang dan kes yang ditangani juga lebih mencabar dari masalah yang kamu hadapi, jadi kamu sabar aja dulu yah". Bujuk Aldo.
"Baik sayang. Apa sih yang tidak pernah kulakukan untuk kamu. Kami bilang aja apa pun pasti akan aku turuti apalagi hanya sekedar membantu kamu mengurus perceraian kamu dengan Rehan, lagi pula itu kan juga menguntungkan untuk aku". Goda Aldo.
"Menguntungkan untuk kamu?". Bingung Desi.
"Iya dong, kalau kamu berhasil lepas dari Rehan kan aku sudah bisa mempersunting kamu menjadi istri aku yang sesungguhnya tidak perlu bersembunyi - sembunyi lagi dan takut di grebek massa saat berduaan dengan kamu, aku tuh udah nggak sabar banget hapalin kamu dan membuat bakal mantan suami kamu itu menyesal udah sia - siain seorang wanita sempurna seperti kamu". Puji Aldo membuat Desi tersipu merasa bagai berada di awangan akibat gombalan maut yang di dengarnya dari sabg pujaan hati.
"Kamu ada - ada aja". Imbuh Desi sambil tersenyum malu.
*
*
__ADS_1
Bu Wahida baru saja sampai di ruang tamu setelah setengah jam berjalan mengitari halaman yang cukup luas hanya untuk menemukan pintu utama di mana ia masuk tadi bersama rombongannya.
Bukannya merasa lega, bu Wahida malah tersenyum kecut karena mendapati ruang tamu saat ini sudah kosong. Keluarganya satu pun udah nggak ada di sana.
"Kemana mereka pergi?". Gumam bu Wahida bingung.
Tiba - tiba bahunya di sentuh oleh seseorang membuatnya ter loncat kaget di tempat.
"Ibu belum pulang?". Tanya seorang wanita yang berpakaian hasil ART di mansion Purbalingga.
"Belum, saya baru aja kembali dari belakang dan saat saya kembali keluarga saya udah pada nggak ada. Kemana mereka pergi?". Jawab bu Wahida bertanya kembali.
"Oh keluarga ibu udah pada pulang sejam yang lalu, tapi kok bisa yah mereka tidak perasan jika ibu tidak berada di antara mereka soalnya antara mereka satu pun tidak ada yang mencari keberadaan ibu saat ingin pulang tadi". Jawab ARt itu.
Bu Wahida tercengang, ia tidak menyangka jika dirinya sama sekali tidak di cari padahal udah sekitar dua jaman ia kesasar dan sempet istirahat sebelum melanjutkan langkah mencari pintu utama. Bahkan anaknya yang sangat ia sayangi juga sama sekali tidak mencarinya. "Tega sekali mereka padaku". Batin bu Wahida sedih.
Krukk
Kruuk
Tiba - tiba perut wanita tua itu berbunyi menandakan ia sangat kelaparan. Dengan malu - malu dan menahan rasa segan nya bu Wahida memberanikan diri meminta makanan pada ART di depannya.
"Saya kan bakal besan dari pemilik rumah besar ini, saya meminta makanan enak karena saya udah sangat lapar". Minta bu Wahida sedikit arogan.
ART itu membuatkan mata mendengar permintaan wanita tua di hadapannya sambil menggeleng kan kepala.
__ADS_1