Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 168 Berhasil masuk


__ADS_3

Bu Wahida terus berjongkok bersembunyi di balik bunga - bunga besar sambil sesekali maju kehadapan. Dua orang pengawal berjaga di depan pintu, hanya berjarak dua meter dari daun pintu.


"Bagaimana aku bisa masuk ke dalam kalau du orang manusia singa itu terus berdiri mematung di sana, kok mereka mau yah bekerja jadi patung di rumah ini, kalau aku mah ogah! Lebih baik aku bekerja jadi biduan goyang - goyang di atas panggung sambil di perhatikan oleh orang ramai dari pada harus mematung seperti itu, nanti orang curiga ini orang hidup atau mayat berdiri sih?". Gumam bu Wahida nyinyir pekerjaan orang lain.


Tiba - tiba sebuah ide timbul di otak nya untuk mengelabuhi dua pengawal itu agar bisa masuk tanpa ketahuan ke dalam lewat pintu itu. Bu Wahida terus berjalan ke taman belakang dan bersembunyi di sebuah pot bunga besar di sana. Jarak antara ia dan dua pengawal itu tidak terlalu jauh sekarang, hanya berjarak sekitar lima meter. .


Sebiji batu bersais kecil ia lemparkan ke arah pohon besar untuk menimbulkan pergerakan dan bunyi.


Sreeetttt


Dua pengawal yang berjaga pun langsung berlari mengejek apa yang ada di pohon itu sehingga terdengar bunyi yang mencutiga kan. Bu wahida tidak tinggal diam, ia langsung berlari masuk ke dalam rumah tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Saat sudah di dalam, bu Wahida langsung bersembunyi di balik daun pintu yang terbuka. Seorang pengawal berjalan keluar sambil bergumam sedih.


"Kasihan pak Panji, di usia nya yang sudah senja masih harus mengurus masalah sebesar ini, putranya pergi tanpa kabar, putri dan cucu nya pula hilang di culik orang dalam sekarang perusahaan nya pula yang harus ia handle sendiri. Beruntung ya orang yang memiliki kehidupan yang sederhana, hidup dengan secukup nya saja tidak terlalu pusing dengan urusan dunia....". Pengawal itu terus bergumam dan di dengar oleh bu Wahida.


"Itu karena mereka tamak! Tidak ingin berkongsi dengan orang lain termasuk mantan besannya ini sendiri. Apa salahnya juga kalau mengikhlaskan putrinya kembali rujuk dengan putraku, kalau mereka sudah menikah mungkin sekarang putri nya itu tidak akan hilang karema di jaga oleh putra ku yang baik hati itu..". Bergumam tidak jelas sehingga tidak bisa lagi berfikir jernih, ia lupa jika anak nya lah penyebab rusak kan pernikahan mereka, bahkan kesalahan itu sudah tidak bisa lagi di maafkan..

__ADS_1


Setelah tiada yang mengawasi bu Wahida terus mengendap menyusuri lorong mencari keberadaan tuan rumah. Ia tidak akan menerima jika usahanya ini zonk da tidak mendapatkan hasil sama sekali. Meskipun hanya di beri beberapa lembar uang merah saja ia bersyukur untuk menukar semua uang yang ia gunakan hari ini. Bayar taksi dan uang makanan nya harus kembali padanya.


"Aku sudah bilang itu kucing, tapi kamu pula tidak percaya tetap mau memeriksa ke sana, lihat kan sia - sia aja, kalau tadi ada yang lihat tempat ini tidak terjaga maka habis lah kita berdua". Ujar salah seorang pengawal yang berjaga di depan pintu. Mereka sudah kembali dari memeriksa de sekitar pohon dan malah berdebat.


Bu Wahida segera bersembunyi agar dua pengawal itu tidak melihat nya. Hentakan kaki dengan urbin lantai semakin mendekat, bu Wahida berdebar - dear takut jika persembunyiannya di ketahui orang itu, matanya terus terpejam sambil merapatkan doa agar ia selamat. Semakin mendekat langkah kaki itu malah hilang..


"Apa dia sudah melihat ku di sini?". Gumam Bu Wahida dalam hati. Perlahan membuka matanya dan perasaan yang sudah diliputi ketakutan. Tapi saat ia sudah berhasil membuka matanya lebar, tiada siapa pun di sekitarnya.


"Ternyata dia masuk kedalam kamar itu, huh selamat". Bi Wahida akhirnya bisa bernafas lega lagi setelah berperang dengan perasaan takutnya.


Prak


Bunyi benda yang sengaja di lempar terdengar dalam kamar itu, "Kamu bekerja dengan becus atau tidak, hah? Kenapa bisa klien kita banyak yang membatalkan kontrak kerjasama dengan perusahaan. Saya gaji kamu untuk mendapatkan keuntungan bukan malah kerugian, sia - sia saya memberi kamu uang jika hal seperti ini saja kamu tidak bisa handle!". Suara gertakan bergema dari dalam kamar itu.


"Maaf kan saya pak Panji, kami semua sudah berusaha menahan mereka dan menaikan sedikit keuntungan untuk mereka jika ingin tetap melanjutkan kerja sama tapi mereka sama sekali tidak tertarik, mengacuhkan tawaran kami dengan wajah yang menjengkelkan. ...setelah saya selidiki lebih lanjyt ternyata ada orang di balik semua ini, dia memberi kan tawaran yang jauh lebih tingga dari keuntungan yang kita janjikan maka nya mereka sama sekali tidak keberatan mengakhiri kontrak di antara perusahaan....". Jelas seorang pria yang lain.

__ADS_1


"Kamu jangan banyak alasan! Kalau kamu memiliki keahlian dalam memikat klien pasti mereka juga nggak akan pergi begitu saja. Mulai sekarang aku pecat kamu dari posisi kamu lsekarang, datang ke kantor dan kemasi barang - barang kamu!". Tegas Panji tidak mau mendengar penjelasan pria itu. Ia tidak percaya jika perusahaan nya kan mengalami banyak kerugian.


Fisik nya yanh sudah rentan menahannya untuk tidak ke kantor mengurus perusahaan nya sendiri. Sudah beberapa bawahannya yang menerima amukan dan luka lebam akibat menerima pukulan dari pengawal karena tidak becus menyelesaikan perkerjaan mereka, ada juga yang langsung di pecat tanpa uang kompensasi seperti pria ini.


"Tapi pak, saya adalah karyawan anda yang cukup lama berkhitmat di perusahaan, hanya karena kesalahan yang tidak saya sengaja kan saya langsung di pecat tanpa kompensasi sedikit pun. Anda jangan kejam terhadap saya pak! Saya masih ada keluarga yang harus saya nafkahi, mereka semua bergantung dengan pekerjaan saya ini". Pria itu masih berusaha memohon dengan sangat agar tidak di pecat secara cuma - cuma.


"Kamu pikir saya tidak menggaji kamu setiap bulannya, terserah saya mau pecat kamu atau tidak! Sekarang dari sini sebelum kesabaran saya habis. Pengawal! Seret dia keluar, saya pusing lihat muka nya". Titah Panji pada pengawal nya.


Pria itu di seret dengan ganas oleh dua pengawal berbadan besar keluar ruangan. "Sila ikut kamu sebelum kami menggunakan kekerasan pada anda". Imbuh salah satu pengawal yang menyeret nya.


"Ingat pak Panji, tuhan tidak diam! Dia akan mendengar doa orang - orang yang di zolimi. Saya berdoa semoga keluarga anda tidaka akan pernah damai, anda akan selalu merasa kehilangan dan kesedihan. Cam kan itu pak!". Pria itu terus saja meluapkan keksalannya dengan melontarkan doa - doa negatif pada Panji.


Panji menekan pelipisnya dengan kuat berharap sakit di kepalanya sedikit berkurang. Tapi sama sekali tidak berhasil, yang ada kepalanya semakin berdenyut nyeri dengan medatangan bu Wahida di hadapannya.


"Selamat sore pak Panji". Sapa bu Wahida tidak takut sama sekali dengan pria di hadakannya saat ini. Tatapan Panji sangat tajam, tampak pria itu berusaha menetralakan perasaan nya dengan mengatur pernafasan nya.

__ADS_1


"Kamu mau apa ke sini?". Ketus Panji. "Bagaimana pula wanita ini bisa masuk ke sini? Memang tiada satu pun yang becus mengerjakan tugas mereka, wanita ini saja bisa di biar kan masuk tanpa persetujuan dari ku". Sambung Panji membatin.


"Nggak, saya cuma mau datang menjenguk cucu saya, dia di maka yah? Kok saya nggak lihat dia di mana - mana?". Bu Wahida sengaja memancing keadaan semakin keruh.


__ADS_2