
Zack tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang, pria yang memasuki rumah almarhum pak Arya adalah orang yang tidak asing baginya.
"Pundas?". Ucap Zack dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Tuan jangan banyak gerak dulu, saya akan mengeluarkan ular itu terlebih dahulu". Imbuh Pundas tampak khawatir. Tongkat yang ia pegang berfungsi sebagai penangkap ular.
Zack kembali teringat pada kejadian malam itu, ia yakin orang yang menembak dirinya waktu itu adalah Pundas. Ia tidak tahu maksud sebenar Pundas melakukan hal itu, jadi sebelum ia mengetahui maksud nya yang sebenar Zack akan bersikap dingin pada Pundas.
"Nggak perlu!". Tolak Zack. Tanpa takut dan ragu Zack segera menggenggam kepala ular berbisa itu dengan percaya diri.
Pundas sampai tercengang, pendiri Klan Naga Merah itu memang sangat hebat dalam menumpaskan lawan nya tapi dengan hewan berbisa seperti ular itu baru pertama kali ia lihat secara lansung.
"Ternyata selama tinggal di sini tuan Zack semakin tidak terkalah kan. Sekarang ular berbisa bersaiz besar seperti itu pun bisa ia jinak kan seketika". Batin Pundas kagum pada sosok Zack.
Dengan hati - hati Zack keluar dari kolom dapur tempat ia bersembunyi sambil menggenggam kepala ular berbisa. Dengan tatapan dingin ia memberikan ular itu pada Pundas. Awalnya ragu tapi ia tahu Zack saat ini sedang menguji nya, Pundas pun dengan hati - hati mengambil alig ular itu dari tangan Zack.
"Ternyata kamu masih berada di pihak ku, terkait alasan kamu tentang malam itu aku akan menunggu penjelasan dari kamu tapi bukan sekarang..". Sahut Zack mulai mengukir senyum di wajahnya.
"Iya tuan, aku akan membawa tuan keluar dari desa ini segera sebelum yang lain pada datang tapi tuan tidak boleh ikut dengan ku, aku akan mengurus masalah di sini dulu manakala tuan harus segera pergi bersama anak buah kita di hujung jalan bagian utara sana. Dia sudah menunggu tuan bersama seorang wanita yang begitu penting dalam hidup ku". Jelas Pundas dengan sedikit mengecilkan suaranya.
Zack sama sekali tidak ambil pusing semua misteri yang di lakukan Pundas, sekarang yang terpenting pulang ke kota dulu tanpa ada yang mengetahui apalagi pihak musuh nya. Biar lah mereka terus mencari keberadaan dirinya. Ia percaya pada Pundas masih berada dalam pihak nya dan bisa membantunya kelaur dari desa ini dengan aman.
"Cepat tuan! Jangan banyak pikir lagi, mereka sudah menuju ke sini dan hampir sampai. Jangan berlenga - lenga lagi! Segera lari ke sana". Pundas mendorong Zack keluar dari rumah itu karena di hadapan sudah terdengar langkah kaki yang akan memasuki rumah ini.
__ADS_1
Zack pun tidak berpikir panjang lagi, ia segera berlari menjauhi rumah itu menuju lokasi yang di tunjukkan oleh Pundas tadi. Tapi saat ia sudah berada jauh dari rumah itu, tiba - tiba Zack baru teringat dengan ponsel miliknya yang di cash di dapur rumah itu.
"Mudah - mudahan Pundas melihat ponsel itu lebih dulu dari yang lain. Jika mereka menemukan ponsel itu maka tamat lah riwayat kami, semua yang telah tersusun dengan rapi terpaksa hancur begitu saja". Gumam Zack berdoa.
Sementara Pundas baru ingat jika di tangan masih memegang seekor ular berbisa pun tiba - tiba merinding ketakutan. "Ihhhh, ini ular juga pakek masuk ke rumah ini segala. Nasip tuan Zack udah mahir nangkap ular kalau nggak mungkin kerana kamu rencana aku membawa tuan keluar dari desa ini tanpa sepengatahuan mereka". Pundas bergumam sendiri dengan ular di tangan nya.
"Kamu sedang berbicara dengan siapa?". Tiba - tiba Robert masuk dan menatap bingung pada Pundas yang sedang berbicara sendiri sambil membelakanginya.
Pundas memutar tubuhnya dan Robert langsung merinding ketakutan melihat hewan melata yang di genggam Pundas. "Ini yang aku teman ngobrol dari tadi, kamu mau gabung?". Tawar Pundas menyodorkan ular itu pada Robert.
"Ih, ogah, lo lepaskan ular itu segera atau aku bunuh!". Ancam Robert yang masih ketakutan pada ular itu.
"Wajah dan posisi kamu dalam klan sama sekali tidak layak untuk kamu jika hanya seekor Ular saja kamu ketakutan seperti ini. Tunggu... Tunggu...tunggu... kamu nggak ngompol di celana kan?". Mata Pundas melirik ke celana Robert..
"Kamu jangan memancingku. Kau bisa saja aku bunuh di sini..". Robert masih belum mau kalah..
"Aku beri kau waktu membuang Ular itu sebelum aku semakin kesal. Aku beri kau kesempatan bukan karena aku takut tapi karena aku tidak mau membantah ucapan om Danish". Robert mengelak dengan mengatasi nama kan Danish. Ia melangkah keluar meninggalkan Pundas sendiri bersama ular itu.
"Dasar bencong!". Imbuh Pundas sinis.
"Kamu akan selalu ikut bersama ku untuk membalas pria arogan itu...". Sahut Pundas memiliki ide cemerlang untuk menundukkan Robert yang selalu mengusik rencananya.
Pundas segera mematahkan gigi taring ular itu dan sama sekali tidak berniat melepaskan nya begitu saja. Ia akan menjadikan ular itu peliharaan dan mambawa nya ke mana saja. Ia akan merawat dan memanfaatkan ular itu untuk menjinakkan Robert dan semua anak buah nya.
__ADS_1
Pundas ingin keluar dari dapur tapi matanya tiba - tiba menangkap sesuatu yang sangat ia kenali. "Bukan kah itu ponsel milik tuan Zack". Gumam Pundas menghampiri ponsel yang sedang di sembunyikan di balik rak piring itu.
"Tuan Zack memang semakin hebat tapi semakin pikun juga. Ponsel di tinggal begitu aja di sini. Beruntung aku yang menemukannya kalau tidak maka tamat lah semua rencana yang sudah ku susun dengan rapi". Sambungnya.
*
*
Aisyah kini berada di ruang rawat kedua orang tua nya. Bercerita apa saja yang bisa merangsang perkembangan kesehatan mereka. Ia bercerita masa kecik nya yang membesar di panti asuhan, di kelilingi anak - anak yang sama dengan dirinya, kehilangan atau di buang oleh orang tuanya.
Ia sudah sedikit merasa lega karena Mega dan Panji memberi respon yang positif seperti sesekali mengalirkan air mata, menggerakkan jari telunjuknya pertanda jika semua indra mereka masih befungsi dengan baik. Sebisa mungkin Aisyah tidak mengungkit tentang keadaan perusahan yang sedang di handle oleh mantan suaminya karena hal itu bisa membuat kedua nya stress dan semakin drop.
"Kalian tahu nggak kalau sekarang keberadaan Zack sudah di temukan. Dia sedang di bawa ke sini oleh pengawal. Aku dan dia akan selalu menjaga kalian berdua, jadi kami mohon lekas lah sadar agar kita bisa sama - sama menjalani hidup kita seperti dulu lagi. Kita shopping dan menghabiskan ratusan juta hanya untuk baju yang akan di simpan di lemari tanpa tahu bisa ingin di pakai semuanya".
Aisyah terus saja mengoceh tidak jelas, ia terus mengajak kedua orang tuanya ngobrol sesuai saran dokter.
Tok.... Tok... Tok
Pintu di buka dan terlihat bu Saras masuk sambil untuk mengajak Aisyah pulang istirahat. Mulai pagi hingga hampir jam delapan Aisyah selalu berada di rumah sakit menjaga kedua orang tuanya.
"Ini udah malam, Nak. Mari kita pulang!". Ajak bu Saras sambil menggenggam bahu Aisyah.
"Tapi aku mau terus di sini bu. Aku tidak ingin pulang. Aku ingin menemani mereka disini. Mereka pasti merasa kesepian jika aku pulang". Tolak Aisyah. Dari ucapannya sanabt jelas jika ia merasa bersalah.
__ADS_1
Bu Saras menghela nafas berat. Keputusan Aisyah sangat sukar diubah.
"Bagaimana kalau kita ke ruang rehat aja. Tidak jauh kok di lantai ini juga, mereka pasti ingin kamu tetap sehat dan tidak jatuh sakit akibat menjaga mereka. Mereka pasti sedih jika kamu sakit nanti. Kamu istirahat dulu yah. Besok kita ke sini lagi". Bujuk bu Saras.