
Rafa yang berada di samping Dilan mencoba mengangkat tangan nya dan memegang lengan Dilan agat tetap milihnya. Hanya Dilan yang bisa membawanya keluar dari kenangan Zack saat ini. Jika sebelumnya Dilan masih bisa di pengaruhi ia berharap dengan melihatnya tidak berdaya seperti ini semakin menyentuh hati Dilan untuk menolongnya pergi.
Perlahan Dilan menyingkirkan tangan Rafa dari lengan nya. "Maaf Rafa. Aku nggak bisa menolong mau lebih dari ini. Tuan Zack sudah bermurah hati membiarkan kamu hidup sampai sekarang juga sudah sangat baik. Lebih bak kamu menyerah saja dan jelaskan semua pada kita - kita kenapa semua ini bisa terjadi di antara kita". Dilan bangkit dan menghindari Rafa.
Rafa tercengang seketika. Wajah nya jadi pucat karena sudah nggak ada yang mau melindunginya. Bahkan Dilan saat ini sudah berada di jalan yang bersebrangan dengan nya. "Kamu jangan sampai tertrofokasi oleh mereka Dilan. Kita sudah hidup bersama dari kecil. Susah senang kita hadapi berdua...". Lirih Rafa ingin membawa Dilan kembali berpihak padanya.
Tapi Pundas dengan cepat memotong ucapannya. "Hei manusia nggak punya urat malu! Lo udah bagus - bagus di beri perawatan oleh tuan Zack, sekarang tetap pada niat kamu ini. Ingat! Kami di sini nggak memerlukan pendapat kamu, kami membawa kamu kesini dan mengobati luka yang ada di dada kamu bukan untuk kepentingan kamu, tapi untuk keuntungan kami sendiri...". Imbuh Pundas kesal.
"Aku nggak meminta kalian membawaku ke sini dan mengobati luka ku. Kalian sendiri yang bodoh ingin menolong ku,..". Sahut Rafa cuek.
"Apa lo bilang? Bodoh!!". Pundas semakin meradang mendengar Rafa menganggap mereka orang bodoh.
Ia mengikis jarak antar dia dan Rafa. Kemudian menekan perban yang ada di bagian dada nya. "Siapa yang bodoh? Coba ulangi sekali lagi!". Perban itu kembali mengeluarkan darah segar dari dalam.
Rafa nggak berkutik. Hanya saja wajah nya sedikit meringis menahan perih di dada nya.
"Sudah cukup Pundas! Di sini bukan tempat yang tepat untuk mengeksekusi nya. Banyak orang lain yang memerlukan ketenangan di sini. Biar kan ia di rawat dulu. Jaga ketat tempat ini agar ia tidak berani bertindak di luar nalar...". Titah Zack.
"Baik tuan". Pundas akhirnya menjauhkan tangan nya dari dada Rafa. Ia akan menjaga ketentraman pasien lain yang ada di ruangan ini. Ia juga merasa bersalah kembali menimbulkan keributan.
__ADS_1
Pundas mengambil tali untuk mengikat bagian tubuh Rafa agar tidak bisa bergerak dan kabur. Sementara Dilan yang sudah cukup membaik kembali menjalan kan tugas nya. Tiba - tiba. ...Dilan berlutut di hadapan Zack dengan wajah memelas.
"Maaf kan aku tuan Zack! Aku sempat keliru dan menjadi bingung. Tapi sungguh saya tiada niat untuk mengkhianati tuan selama ini. Yang di lakukan Rafa mutlak rencana nya sendiri". Jelas Dilan merasa bersalah.
"Sudah, sekarang bukan saat nya kita saling meminta maaf dan memaafkan. Belum raya bahkan puasa juga masih jauh... Berdiri lah kita banyak kerja yang harus di selesai kan...". Imbuh Zack dengan wajah santai nya.
Zack sebenarnya sempat kesal juga dengan Dilan. Tapi saat mengingat Aisyah, ia juga mengingat kesalahan nya yang selama ini telah ia lakukan pada wanita itu. Tapi dengan mudah nya ia memaafkan kesalahan Zack itu. "Aku juga harus mulai berubah demi cinta. Mbah Suryo adalah panutan ku, dia melakukan apa saja untuk wanita nya dan aku juga harus melakukan hal yang sama meskipun dengan cara yang berbeda. Setelah semua ini selesai maka aku akan mengubah prinsip hidup ku demi Aisyah...". Gumam Zack saat berjalan menuju ruang rawat Aisyah.
Saat berada di dalam, tiada satu pun alat penopang hidup melekat di tubuhnya. Semua normal dan tidak perlu di beri apa pun. Pendapat dokter dan mbah Suryo tampak nya sejalan kali ini. Hanya mesin pendeteksi jantung yang di berikan padanya agar berjaga - jaga sewaktu - waktu jantung Aisyah berhenti berdetak.
"Bagaimana kabar kamu sekarang sayang? Kamu pasti sudah capek banget hanya berbaring seperti itu, bangun lah dan kita cari keberadaan Albar bersama. Kamu harus tahu hal ini, Syah. Aku nggak bisa menyembunyikan masalah besar ini pada mu karena aku nggak sanggup menanggung semua nya sendiri. Jadi ku mohon sadar lah, temani aku menyelesaikan satu persatu masalah ini". Seru Zack pada Aisyah yang sama sekali tidak merespon ucapannya.
Tiba - tiba jari Aisyah bergerak menunjukkan respon positif pertama nya. Zack terkejut tapi bahagia, ia memperhatikan wajah Aisyah ternyata wanita itu sedang meneteskan air mata. Mbah Suryo yang melihatnya nya pun langsung menghampiri Aisyah dan memeriksa denyut nadi dan mata nya.
"Panggilan dokter, Zack. Tampak nya Aisyah memberi respon pertama nya dengan sangat bagus...". Titah mbah Suryo pada Zack yang hanya menutup mulutnya tidak menyangka akhirnya usaha nya berhasil.
Zack segera keluar ruangan untuk memanggil dokter. Sementara mbah Suryo terus saja mengucapkan syukur dalam hati nya karena sebentar lagi Aisyah pasti akan sadar.
"Zack pasti sangat bahagia dengan momen ini. Dia dari dulu menantikan momen bahagia ini. Meskipun banyak masalah yang sedang menghadang di hadapan nya tapi dengan sadar nya wanita yang amat ia cintai ini pasti bisa mendorong nya agar lebih kuat menjalani hari - hari sulit ini". Gumam Mbah Suryo turut bahagia.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Zack kembali dengan membawa dokter bersama nya. Mbah Suryo memberi ruang untuk dokter mengecek kondisi Aisyah. Meskipun ia sudah memeriksa lebih dulu tapi ia dokter dan berhak tahu kondisi pasien nya.
"Sebaik nya biar kan pasien istirahat dulu. Ia sudah menggunakan banyak tenaga untuk momen berharga ini. Saya sudah menyuntikkan obat agar ia tidak lagi memaksakan diri nya untuk sementara waktu, jika ia bangun nanti bisa sedikit bertenaga lagi..". Imbuh dokter pada mereka berdua..
"Tapi saya bisa di sini kan dok nemenin dia?". Tanya Zack terlihat begitu bahagia.
Dokter iti tersenyum karena paham dengan perasaan Zack saat ini. "Bukan saya ingin membuat tuan kecewa, tapi alangkah baik nya jika pasien di biar kan istirahat dulu, jangan ada yang mengganggunya untuk saat ini. Saya paham perasaan tuan, tapi untuk kebaikan pasien sebaiknya kita semua keluar dulu, biarkan ia istirahat. Mari kita keluar". Ajak dokter pada Zack yang tampak berat meninggalkan Aisyah sendirian setelah tadi ia mulai memberi respon.
"Sudah, Zack. Benar yang di katakan oleh dokter tadi. Aisyah harus di beri waktu untuk istirahat dulu. Jika ia sada nanti kamu bisa melihat nya lagi. Ayo kita keluar". Bujuk mbah Suryo.
Zack tidak pernah bisa membantah ucapan mbah Suryo. Ia nurut keluar bersama mereke berdua meskipun hati nya sangat berat meninggalkan Aisyah sendirian..
Sesampai di luar, Zack sama sekali tidak tenang, matanya terus tertuju pada pintu ruang rawat Aisyah. Ia menunggu sampai ia bisa masuk bertemu Aisyah lagi.
"Duduk lah nak Zack. Kamu akan lelah kalau berdiri terus seperti itu". Tawar mbah Suryo.
Zack nurut dan duduk di samping mbah Suryo. Meskipun sudah duduk, tapi kaki Zack terus saja menghentak - hentakkan lantai saking nggak sabar nya dia. "Aku sangat bahagia sampai nggak bisa tenang. Maaf kalau mengganggu mbah". Imbuh Zack.
"Nggak papa. Atau begini saja, bagaimana kalau kami pergi siap - siap dulu. Makan, mandi, pakai baju pemberian Aisyah. Jadi saat kamu kembali Aisyah sudah sadar dan ngelihat kamu udah segar dan ganteng". Saran mbah Suryo membuat Zack menepuk dahi nya.
__ADS_1